
Ayun terdiam dengan tatapan bingung saat mendengar ucapan Dokter, membuat Dokter itu langsung menjelaskan tahapan yang akan dilakukan pada Fathir dalam pertemuan beberapa hari lagi.
"I-itu tidak berbahaya kan, Dok?" tanya Ayun dengan khawatir.
Dokter itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nyonya. Hanya saja kali ini Tuan Fathir harus benar-benar bisa mengendalikan emosinya, jika tidak maka serangan paniknya mungkin akan kembali datang."
Ayun mendessah berat. Dia merasa takut terjadi sesuatu dengan Fathir, tetapi sepertinya mereka memang harus melakukan hal tersebut.
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Saya yakin Anda bisa menenangkan tuan Fathir, karena saya bisa melihat betapa besar cinta dan kepercayaan yang ada dalam dirinya untuk Anda," ucap Dokter itu kembali untuk meyakinkan Ayun.
Pada pertemuan sebelumnya, dia sudah memperhatikan interaksi antara Fathir dan wanita itu. Apalagi saat Ayun menenangkan Fathir ketika dilanda kecemasan. Dia yakin jika semuanya pasti akan baik-baik saja.
"Apa benar seperti itu?" sahut Ayun dengan lemah. Dia benar-benar merasa bingung dan juga takut, apakah tindakan yang dia lakukan saat ini benar?
"Kenapa Anda tidak percaya, Nyonya? Padahal semuanya begitu jelas di hadapan Anda, apa Anda tidak pernah memperhatikan tatapan hangat penuh cinta ketika tuan Fathir menatap Anda?"
Ayun terdiam sambil meremmas tangannya yang saling bertautan. Ya, dia juga melihat tatapan itu saat Fathir melihat ke arahnya. Tatapan yang memabukkan, hingga membuat hatinya juga terpaut pada tatapan itu.
"Insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada saya, dan percayalah pada diri Anda sendiri," ucap Dokter itu kemudian.
Ayun mengangguk paham dan mencoba untuk menghilangkan segala resah dan gelisah yang ada dalam hatinya. Apapun yang terjadi nanti, dia akan menyerahkan semuanya pada Tuhan.
Setelah menemui Dokter, Ayun beranjak pergi menuju ruangan sang calon mertua. Kebetulan sekali sekarang sudah saatnya jam makan siang, dan dia bisa sekalian makan siang bersama dengan Alma.
"M-mbak Ayun!"
Langkah Ayun terhenti saat mendengar panggilan seseorang, sontak dia menoleh ke arah belakang untuk melihat siapakah yang sedang memanggilnya.
"Sherly?" Ayun terkejut saat melihat keberadaan Sherly. Tidak disangka dia akan bertemu dengan wanita itu. Namun, bukankah saat ini Sherly masih berada di dalam penjara?
Sherly yang baru saja melihat keadaan Suci dan hendak keluar dari rumah sakit, tidak sengaja melihat Ayun keluar dari suatu ruangan. Tanpa sadar kakinya mengikuti wanita itu, lalu mulutnya juga bergerak sendiri untuk memanggilnya.
"I-iya Mbak." Sherly terkesiap saat mendengar suara Ayun, dia menatap wanita itu dengan sayu.
Ayun lalu tersenyum dan menghampiri Sherly yang hanya diam sambil menatapnya. "Bagaimana kabarmu, Sherly? Sudah lama kita tidak bertemu." Dia menyapa dengan ramah walau ada berbagai pertanyaan yang mengganjal dalam hatinya.
Hati Sherly berdesir hebat saat mendengar sapaan dari Ayun. Bagaimana mungkin wanita itu tetap memperlakukannya dengan baik setelah semua yang dia lakukan? Bukan hanya itu saja, bahkan dia juga haru tahu jika putra dari wanita yang sudah dia sakiti itu juga membantunya lepas dari penjara.
"A-aku baik, Mbak," jawab Sherly dengan pelan, kedua matanya terasa panas karena sekuat tenaga menahan air mata yang akan jatuh membasahi wajah.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja," sahut Ayun dengan lega. Walau Sherly terlihat sangat berubah di matanya, tetapi dia merasa tenang jika wanita itu dalam keadaan sehat.
"Apa kau sudah makan siang? Aku akan-" Ayun tersentak kaget sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Sherly menangis. "Ada apa, Sherly? Kenapa kau menangis?" Dia bertanya dengan wajah panik dan khawatir.
Sherly yang sudah tidak bisa menahan air matanya langsung terisak pilu di hadapan Ayun. Sungguh dia merasa benar-benar tidak pantas untuk berhadapan dengan wanita itu.
"Apa yang terjadi, Sherly? Cepat katakan padaku," pinta Ayun sambil menggenggam tangan Sherly yang gemetaran. Mungkinkah wanita itu sedang sakit, hingga menangis seperti ini?
"Maaf, maafkan aku."
Bruk.
Tubuh Sherly jatuh bersimpuh dilantai membuat Ayun terlonjak kaget. "Astaghfirullah, Sherly!" Ayun memekik kuat dengan apa yang terjadi saat ini.
Sherly bersimpuh tepat di depan kedua kaki Ayun dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Maaf, Mbak. Maafkan aku, maafkan semua perbuatan buruk yang telah aku lakukan. Aku, aku benar-benar manusia yang tidak pantas lagi untuk hidup."
Ayun tercengang saat mendengar ucapan Sherly. Sungguh dia merasa sangat terkejut dengan apa yang wanita itu lakukan, hingga tidak bisa memberikan reaksi apa-apa.
"Aku benar-benar wanita yang paling hina, aku adalah wanita murahan dan tidak tahu diri. Aku, aku sudah menghancurkan hidup wanita lain. Aku, aku sudah menghancurkan hidup orang lain," ucap Sherly dengan terisak pilu.
"Sungguh aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu, Mbak. Perbuatanku, perbuatanku tidak bisa dimaafkan," sambung Sherly dengan tersedu-sedu.
Ayun menatap Sherly dengan sendu. Tidak tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi pada wanita itu hingga berbuat seperti ini, tetapi yang pasti dia harus segera menenangkannya.
"Tenanglah, Sherly. Aku mohon jangan seperti ini," ucap Ayun sambil berjongkok di hadapan Sherly. Kedua tangannya tampak menggenggam tangan wanita itu yang sudah basah karena air mata.
"Aku benar-benar wanita yang buruk. Maaf, maafkan aku." Sherly tetap menangis meratapi semua perbuatan yang telah dia lakukan. Perbuatan murahan dan hina yang telah menghancurkan hidup wanita lain, bahkan juga menyakiti hati anak-anak yang tidak bersalah.
Ayun menghela napas kasar. Dengan cepat dia memeluk tubuh Sherly karena wanita itu tidak mau mendengarkan ucapannya, membuat Sherly tersentak kaget.
"Sudah, Sherly. Hentikan semua ini," pinta Ayun dengan pelan. Dia memeluk tubuh Sherly dengan erat sambil mengusap punggung wanita itu.
"Tidak. Aku, aku tidak bisa berhenti. Aku, aku sudah-"
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku, aku sudah memaafkanmu, Sherly. Jadi aku mohon hentikan semua ini," potong Ayun dengan cepat.
Sherly terpelongok dengan tidak percaya saat mendengar ucapan Ayun. Air mata semakin deras membasahi wajah dengan rasa sakit yang terasa mencabik-cabik hatinya.
__ADS_1
Ayun terus berusaha untuk menenangkan Sherly agar menghentikan tangisannya, sementara keadaan di tempat itu tampak dipenuhi oleh orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Termasuk Alma yang ternyata juga berada di tempat itu.
"Ayo, bangunlah!" ajak Ayun kemudian.
Dengan perlahan Sherly bangun dari tempat itu karena merasa mulai tenang, dan sadar jika saat ini mereka menjadi bahan tontonan banyak orang.
"Ayun!"
Ayun yang akan membawa Sherly pergi tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar panggilan seseorang. "Ta-Tante?" Dia sedikit terkejut melihat keberadaan Alma yang sedang berjalan ke arahnya.
Alma tersenyum. "Bawa dia ke ruangan tante, kau tahu di mana ruangannya 'kan?"
Ayun tertegun saat mendengarnya. Tidak disangka wanita paruh baya itu akan menawarkan ruangan pada mereka, itu artinya Alma melihat dan mendengar apa yang terjadi.
"Ba-baik, Tante. Terima kasih," ucap Ayun. Dia lalu membawa Sherly pergi setelah mendapat anggukan dari Alma.
Alma menatap punggung Ayun dengan bangga, sungguh dia sangat kagum sekali dengan kebaikan hati calon menantunya itu.
"Putraku benar-benar beruntung bisa mendapat wanita sebaik dirimu, Ayun," gumam Alma dengan penuh syukur. Dia lalu mulai membubarkan orang-orang yang ada di tempat itu, dab meminta mereka untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.
Setelah sampai di ruangan Alma, Ayun segera mendudukkan Sherly di sofa, dia lalu mengambil air minum yang ada di tempat itu dan memberikannya pada Sherly.
"Minumlah, Sherly," ucap Ayun.
Sherly mendongakkan kepalanya untuk menatap Ayun. Wajahnya yang sembab dengan dipenuhi ait mata membuat wanita itu ikut menatap dengan sayu.
"Kenapa, kenapa Mbak sangat baik padaku? Aku, aku sudah berbuat jahat padamu, aku bahkan sudah menghancurkan keluargamu. Tapi kenapa kau tetap memperlakukanku seperti ini?" tanya Sherly dengan pilu.
Ayun terdiam dengan tatapan nanar, dia lalu meletakkan gelas yang ada ditangannya ke atas meja.
"Lalu kau mau aku bagaimana, Sherly? Apa kau mau aku membalas semua perbuatan yang sudah kau lakukan padaku?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1