
Nindi tidak bisa menutupi keterkejutannya saat mendengar ucapan Ezra, begitu juga dengan Abbas dan Keanu yang masih duduk di tampat mereka masing-masing.
"Ce-cerai?" tanya Nindi dengan tidak percaya. Dia tahu jika Ayun pasti sangat menderita karena perselingkuhan Evan dan adiknya, dia berpikir mungkin hubungan wanita itu dan suaminya akan membaik saat dia meminta Sherly untuk menjauhi mereka. Namun, dia tidak pernah berpikir jika Ayun akan bercerai.
"Benar," jawab Ezra dengan lirih, kepalanya mengangguk membenarkan ucapan Nindi. "Aku tahu ibu sedang mengurus berkas-berkas yang harus disiapkan, tapi beliau tidak tau caranya dan juga prosesnya. Aku juga sama, tidak ada yang mau membimbing ibu, karena selama ini yang mengurus semua urusan adalah ayah." Jelasnya.
Selama ini, ibunya memang hanya tahu mengurus rumah dan juga keluarga. Untuk urusan di luar rumah, maka ayahnya semua yang mengurus. Bahkan jika ada rapat penting di sekolah, maka sang ayah yang pergi karena takut jika ibunya tidak mengerti.
"Ta-tapi kenapa ibumu mau bercerai? Apa, apa keputusan itu sudah tepat?" Nindi bertanya dengan lirih.
Ezra kembali mengangguk. "Untuk apa lagi ibu bertahan kalau ayah sudah tidak cinta? Bahkan ayah juga sama sekali tidak pernah membela ibu."
Ucapan Ezra serasa seperti dua buah mata pisau yang menyayat-nyayat hati mereka. Pisau pertama menyayat hati mereka sebagai orang tua, karena memikirkan bagaimana perasaan anak saat melihat kedua orang tuanya berpisah.
Lalu, mata pisau yang kedua yaitu menyayat-nyayat hati nurani mereka karena perceraian itu terjadi akibat perselingkuhan dari orang yang sangat dekat. Bagaimana mungkin mereka senang saat mendengarnya?
"Sejak dulu aku tau kalau ayah tidak terlalu dekat dengan ibu, maksudnya hanya sebatas suami dan istri yang tinggal bersama. Tapi, aku baru sadar jika semua itu karena dia mencintai wanita lain, sementara ibuku sudah mengabdikan diri untuknya. Bukankah itu sangat tidak adil sekali?" lirih Ezra. Air mata sudah menganak sungai dipelupuk mata, tetapi sekuat tenaga ditahan agar tidak membasahi wajah.
Seketika suasana menjadi terasa sesak dan tegang. Baik Nindi, Abbas, dan Keanu terlihat bingung bagaimana memberi tanggapan atas permintaan Ezra.
Mereka bukannya tidak mau, tetapi mereka khawatir jika keluarga Ezra nantinya akan menyalahkan mereka, dan kembali berpikir buruk jika mereka berniat untuk memasukkan Sherly ke dalam keluarga itu.
"Duduklah, kau akan lelah kalau terus berdiri," ucap Abbas dengan tatapan yang terhunus ke arah Ezra.
Ezra melangkahkan kakinya dengan gontai dan kembali duduk di tempat semula. Dia menundukkan kepalanya, karena merasa takut bersitatap mata sedekat itu dengan Abbas.
__ADS_1
"Aku akan menyiapkan pengacara untuk ibumu, apa itu sudah cukup?" ucap Abbas dengan penuh penekanan, membuat Ezra langsung mengangkat kepalanya, lalu menatap Abbas dengan tatapan tercengang.
Nindi yang mendengar ucapan sang papa menatap dengan tidak percaya. "Tapi Pa, ini-" Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sang papa memberi isyarat untuk diam.
"Siapkan pengacara untuk Ayun, Ken. Dan suruh pengacara itu untuk menemui Papa," perintah Abbas pada menantunya.
"Baik, Pa." Keanu menganggukkan kepalanya tanpa bertanya dengan keputusan yang papa mertuanya buat, dia selalu yakin dengan apapun yang dikatakan oleh mertuanya itu.
Ezra langsung mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Abbas yang sudah bersedia membantu ibunya. Air mata tidak kuasa dia tahan, karena merasa bahagia bisa dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
"Saya benar-benar sangat berterima kasih pada Anda, Tuan. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda ini sampai selama-lamanya," ucap Ezra dengan wajah bahagia. Tatapan tulusnya membuat Abbas tersenyum.
"Panggil saja aku kakek, anggap sebagai balasan atas bantuanku," pinta Abbas sambil memalingkan wajah ke arah samping, dia merasa malu.
Ezra terdiam saat mendengar permintaan Abbas. Dia merasa benar-benar sangat terkejut, bagaimana mungkin orang sekaya dan sebijak Abbas menyuruhnya untuk memanggil kakek? Dia benar-benar merasa tidak pantas.
Ezra terkesiap saat kembali mendengar suara Abbas. "Te-tentu saja saya mau, Tuan. Tapi saya merasa tidak pantas." Dia merasa rendah diri, apalagi saat mengingat bagaimana perilaku ayahnya.
"Semua manusia itu pantas. Jadi tidak perlu berpikir seperti itu," bantah Abbas. Kedudukan manusia itu menurutnya sama, tidak ada yang rendah dan tinggi.
"Ba-baiklah, Kakek," ucap Ezra dengan malu-malu. Padahal dia sudah biasa memanggil kakek, tetapi kali ini terasa istimewa sekali.
Setelah selesai berbicara pada Abbas dan semua keluarga laki-laki paruh baya itu, Ezra pamit untuk pulang ke rumahnya. Dia menaiki taksi setelah menolak keras keinginan Abbas yang ingin mengantarnya, tidak mungkin dia kembali membawa laki-laki itu ke rumah seperti ini.
Setelah kepergian Ezra, Nindi kembali mempertanyakan tentang keputusan yang telah papanya ambil, sekaligus mengatakan akibat yang akan mereka terima jika membantu Ayun mengurus gugatan perceraian.
__ADS_1
"Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja," ucap Abbas dengan lembut sambil mengusap punggung tangan Nindi, mencoba menenangkan putrinya.
"Tapi, bagaimana dengan mama, Pa?" tanya Nindi. Sejak pagi dia tidak melihat keberadaan mamanya, bahkan sampai sekarang papanya juga tidak memegang ponsel untuk menghubungi sang mama tiri.
"Biarkan saja, dia sedang bersama dengan putrinya. Mereka pasti senang saat mendengar berita tentang perceraian Ayun dan Evan nanti, lihat saja," ucap Abbas dengan tajam. Sorot matanya tampak tegang, dan menampakkan jika dia sedang marah saat ini.
Nindi hanya bisa menghela napas kasar dengan apa yang sudah papanya putuskan. Dia berharap semoga semuanya baik-baik saja, untuk Ayun dan juga untuk keluarganya.
Setelah sampai di rumah, Ezra segera mencari ibunya ke dalam kamar. Namun, langkahnya terpaksa berhenti saat tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang.
"Kau dari mana saja, Ezra?" tanya Evan dengan tatapan tajam, sambil mencengkram tangan putranya itu.
Ezra memalingkan wajahnya ke arah sang ayah, lalu melepaskan tangan ayahnya yang sedang mencengkramnya.
"Terserah aku mau pergi ke mana, Ayah," jawab Ezra dengan tajam dan penuh penekanan.
"Aku adalah ayahmu, Ezra. Jadi jaga sopan santunmu!" seru Evan dengan sarkas. Dia lalu mencoba untuk menenangkan diri sebelum kembali menyulut keributan.
"Benar, Anda adalah ayahku. Ayah Adel, dan juga ayah dari anak wanita itu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.