Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 112. Persiapan Tranplantasi.


__ADS_3

Sherly terdiam saat mendengar ucapan laki-laki itu. Benar juga apa yang pengacaranya itu katakan, kenapa selama ini dia tidak kepikiran?


"Saya akan bicarakan ini pada tuan Hery, karena beliau menerima uang yang lumayan besar dari ibu Anda. Itu sebabnya dia mau bekerja sama untuk membebaskan Anda."


Sherly langsung menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang sempurna. Dia merasa senang saat mendengar semua kabar ini, dia yakin pasti Evan akan luluh jika putri mereka sendiri yang meminta untuk melepaskan dia. Namun, dia harus membuat Suci bekerja dengan baik agar suaminya tidak merasa curiga.


Pengacara itu lalu beranjak pergi setelah mengatakan semua itu pada Sherly, dia bergegas menuju kantor Hery untuk merencanakan semuanya.


Sementara itu, di tempat lain Ayun dan kedua anaknya sudah sampai di rumah sakit setelah makan siang bersama. Dia membawa bekal untuk diberikan pada Abbas, karena dia yakin sekali jika laki-laki paruh baya itu pasti tidak sempat untuk makan.


Sebelum masuk ke dalam ruangan sang ibu, Ayun bertemu dengan Dokter Arya yang selama ini merawat ibunya. Dokter itu meminta untuk bicara dengannya dan mengajak ke ruangan pribadi beliau.


Ayun lalu memberikan kotak makanan itu pada Ezra lalu menyuruh putranya untuk mengajak Adel ke ruangan sang ibu, lalu dia sendiri pergi ke ruangan Dokter tersebut.


"Ada apa, Dokter? Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Ayun dengan khawatir.


Dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Semuanya baik-baik saja, Buk. Saya hanya ingin memberitahu jika transplantasi ginjal untuk ibu Anda sudah bisa dilakukan."


Ayun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa terkejut, dan matanya berkaca-kaca karena merasa tidak percaya. "A-Anda serius, Dokter?" Dia bertanya dengan gemetar.

__ADS_1


"Iya, Buk. Kami sudah mempersiapkan semuanya, dan besok atau lusa kami sudah bisa melakukan transplantasinya karena keadaan pasien dan juga pendonor dalam keadaan stabil saat ini," ucap Dokter Arya memberi penjelasan.


Ayun langsung mengucap syukur yang teramat dalam atas kabar baik yang dia terima saat ini. Benar apa yang Allah katakan, disetiap kesusahan pasti ada jalan, dan disetiap kemalangan pasti akan ada hikmah dibaliknya.


"Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah," ucap Ayun dengan terisak. Hari ini mungkin dia merasa sedih karena perpisahan rumah tangganya, tetapi kesedihan itu diganti dengan kabar baik tentang sang ibu.


Ayun lalu mengusap air matanya dan menatap Dokter Arya dengan sendu. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih karena sudah merawat ibu saya." Tidak tahu dengan kata apa dia bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Dokter tersebut.


"Sama-sama, Buk. Semua itu sudah menjadi tugas dan juga kewajiban saya. Kita do'akan saja semoga operasinya nanti berjalan lancar, keadaan ibu Anda dan juga adik Anda baik-baik saja."


Ayun langsung mengaminkan ucapan Dokter tersebut, karena itu jugalah yang dia harapkan. Dia lalu bertanya mengenai biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi tersebut, agar bisa mengumpulkan uang mulai dari sekarang.


"Anda tidak perlu memikirkannya, Buk. Saat ini kita fokus saja untuk kesembuhan ibu Anda, untuk biaya dan yang lainnya akan kita bicarakan nanti," jawab Dokter tersebut.


Walau merasa bingung, Ayun tetap menganggukkan kepalanya dan berlalu pamit dari ruangan itu. Dia harus tetap mengumpulkan biaya untuk pembayaran rumah sakit ibunya, dan untung saja dia masih punya tabungan juga barang-barang yang siap untuk dijual.


Pada saat yang sama, Abbas sedang menemani Nindi di dalam ruang perawatan. Tampak putrinya sedang tertidur dengan infus dan oksigen yang terpasang ditubuh Nindi, membuat dia kembali mengingat saat-saat di mana mendiang istrinya juga mengalami hal seperti ini.


"Bertahanlah, Nak. Papa mohon jangan tinggalkan papa," gumam Abbas sambil menggenggam salah satu tangan Nindi yang terbebas dari infus. Air mata tidak kuasa untuk ditahan, hingga jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


Keanu yang juga berada di tempat itu menatap dengan pilu. Dia sendiri merasa sangat sakit dan hancur melihat keadaan sang istri, jika bisa dia siap menggantikan istrinya agar terbebas dari rasa sakit dan penderitaan.


Abbas lalu beranjak dari kursi dan berjalan ke sofa di mana Keanu berada. Dia tahu jika menantunya saat ini pasti sedang sedih, hanya saja berpura-pura kuat di hadapannnya.


"Ada yang ingin papa tanyakan padamu, Ken," ucap Abbas saat sudah duduk di samping Keanu, membuat laki-laki itu melihat ke arahnya. "Apa semalam itu kau mendengar pembicaraan papa dengan Sella?" Dia bertanya penuh selidik.


Keanu menghela napas kasar lalu menganggukkan kepalanya. "Maaf Pa, Aku tidak bermaksud untuk mendengarnya." Dia merasa bersalah karena tidak sengaja mendengar tentang sebuah rahasia besar.


Abbas menganggukkan kepalanya sambil menepuk bahu sang menantu. "Tidak apa-apa, toh papa memang akan mengatakannya padamu dan Nindi. hanya saja semua terjadi dengan sangat cepat, dan papa sendiri juga baru mengetahui semua itu dari ibunya Ayun."


Abbas lalu mulai menceritakan apa yang sudah terjadi antara dia dan juga ibunya Ayun, terutama sesuatu yang sampai membuat wanita itu mengandung anaknya.


Keanu mendengarkan semua cerita sang mertua dengan tidak percaya. Ternyata masa lalu mertuanya juga sangat rumit sekali, padahal selama ini dia pikir sang mertua baik-baik saja dan hidup dengan bahagia.


"Semua ini sudah jalan Tuhan, Pa. Siapa sangka Papa bisa bertemu dengan Ayun dengan cara seperti ini? Aku merasa ikatan batin antara kakak dan adik sangat erat, semua itu terbukti dari pertemuan Nindi dan juga Ayun. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya, tapi langsung merasa cocok dan dekat layaknya saudara. Ternyata semua itu petunjuk dari Tuhan bahwa mereka memang benar-benar bersaudara."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2