Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 115. Ungkapan Hati Seorang Ayah.


__ADS_3

Semua orang memekik kaget saat mendengar ucapan Abbas, terutama Hasna yang langsung menjatuhkan sebuah tas yang sejak tadi berada ditangannya.


"Kau, kau bilang apa Mas?" tanya Hasna dengan tidak percaya.


Abbas lalu menjelaskan apa maksud dari ucapannya, yang mana dia sengaja memberi pesan seperti itu karena dia tidak butuh apapun dari orang lain, dan juga dia ingin jika mereka semua memberi hadiah untuk istri tercintanya saja.


Semua orang tercengang dengan tidak habis pikir saat mendengar penjelasan Abbas. Bisa-bisanya laki-laki paruh baya itu melakukan hal yang sangat tidak masuk akal, dan pasti tidak akan ada orang lain yang melakukan hal seperti itu.


Hasna sendiri hanya bisa mendessah frustasi saat mendengar penjelasan sang suami, benar-benar di luar akal sehat dan di luar prediksi BMKG.


Setelah semuanya selesai, Hasna membagi-bagikan hadiah itu kepada semua orang yang ada di sana. Mulai dari Ayun, Yuni, Adel, dan juga Nindi walaupun wanita itu sedang tidak bersama dengan mereka.


Selesai dengan hadiah, semua orang  tampak bubar dari tempat itu untuk melakukan aktivitas masing-masing, atau hanya sekedar mengistirahatkan tubuh mereka yang sangat lelah akibat menyiapkan pernikahan.


"Papa, Ibu!"


Abbas yang akan beranjak pergi juga mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan Ayun. "Ya, Sayang. Ada apa?" Dia menoleh ke arah Ayun sambil kembali duduk di sofa.


Hasna yang juga akan ke dapur tidak jadi pergi saat mendengar panggilan Ayun, dia ikut kembali duduk karena sepertinya wanita itu ingin mengatakan sesuatu.


Dengan penuh keraguan dan rasa malu, Ayun mencoba untuk memberanikan diri mengatakan perihal apa yang terjadi antara dia dan Fathir. Maksudnya tentang ucapan laki-laki itu yang akan datang untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Be-begini, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Papa dan juga Ibu," ucap Ayun dengan pelan, membuat Abbas dan Hasna saling lirik dengan penuh makna. Jelas mereka sudah mengerti ke mana arah pembicaraan putri mereka saat ini.


"Ada apa, Nak? Katakan saja semuanya pada Ibu dan Papa," sahut Hasna dengan lembut, dia merasa gemas melihat raut wajah Ayun yang terlihat menahan malu.


Ayun mengangguk. "Aku, aku ingin mengatakan kalau kemungkinan Fathir dan keluarganya akan datang ke sini."


"Wah, benarkah?" sahut Abbas dengan semangat. "Apa mereka ingin makan malam bersama kita?" Dia sengaja pura-pura tidak mengerti dengan maksud ucapan Ayun.


"Ti-tidak, Pa." Ayun menggelengkan kepalanya dengan tangan saling bertautan, dia bingung harus bagaimana menjelaskan tentang semuanya pada mereka.

__ADS_1


"Lalu, untuk apa mereka datang, Nak?" tanya Hasna kemudian, walau dia sudah tidak tahan ingin segera memeluk putrinya itu dengan erat.


Ayun menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil mencoba untuk menahan rasa malunya.


"Ka-katanya dia, dia ingin menemui Papa dan Ibu karena ingin meminta izin untuk menikah denganku," ucap Ayun dengan sangat pelan, akhirnya dia bisa mengatakan tentang semua itu walau rasanya sangat tidak nyaman sekali.


Hasna dan Abbas saling pandang dengan mata berkaca-kaca saat mendengar ucapan Ayun, mereka merasa terharu dan senang karena bisa mendengarnya secara langsung dari putri mereka itu.


"Anakku."


Ayun tersentak kaget saat tiba-tiba tubuhnya dipeluk dengan erat oleh sang ibu, sontak matanya langsung berkaca-kaca dengan tangan gemetar.


"Ibu senang mendengarnya, Nak. Ibu sangat senang," ucap Hasna dengan terisak.


Kejadian yang sama terulang kembali seperti beberapa saat yang lalu, di mana ketika Abbas melamar Hasna, dan saat ini giliran Ayunlah yang akan menikah dengan Fathir.


Ayun ikut terisak saat melihat reaksi yang ibunya berikan, dia sendiri juga tidak menyangka jika akan berada di posisi seperti ini, bahkan tidak pernah sekalipun membayangkannya.


Hasna langsung melerai pelukannya saat mendengar suara sang suami, begitu juga dengan Ayun yang sedang mengusap air matanya.


"Fathir laki-laki yang baik, Nak. Sangat baik, mungkin dialah laki-laki yang sudah Allah gariskan untuk menjadi pendamping hidupmu," ucap Hasna kemudian.


Ayun hanya diam sambil menganggukkan kepala, dia merasa malu jika harus langsung mengiyakan ucapan sang ibu.


Ayun lalu beralih melihat ke arah sang papa yang juga sedang menatapnya. "Pa, aku-"


"Kenapa, Sayang? Kenapa kau harus merasa malu dan takut untuk mengatakan hal seperti ini, hem?" tanya Abbas dengan pelan, dia lalu berpindah duduk ke samping Ayun yang menatapnya dengan sendu. "Ini kabar yang sangat membahagiakan, Nak. Jadi jangan menangis." Dia menggenggam kedua tangan Ayun dengan erat.


Ayun kembali meneteskan air mata, apalagi saat melihat kedua tangannya sedang digenggam oleh sang papa.


"Nak, lihat papa," pinta Abbas dengan pelan.

__ADS_1


Dengan perlahan Ayun mengusap air mata yang ada diwajahnya, lalu menegakkan kepala dan menatap wajah sang papa.


Abbas tersenyum dengan tatapan sendu. "Anakku, kau sudah menjalani betapa keras dan kejamnya dunia ini. Berbagai keadaan sudah kau lewati dan masalah terus datang silih berganti, tapi semua itu bisa kau hadapi dengan baik dan besar hati. Papa benar-benar bangga padamu, Nak."


Ayun merasa sangat terharu saat mendengar ucapan sang papa, rasanya seperti ada sebuah angin yang sangat menyejukkan hatinya saat ini.


"Ibu dan ayahmu benar-benar mendidikmu dengan baik, hingga kau tumbuh menjadi wanita yang kuat dan memiliki hati yang luar biasa hebat," sambung Abbas kemudian dengan bibir gemetar.


Hasna yang mendengar semua itu merasa tertegun. Rasa bersalah kembali menghantamnya, karena perbuatannya Abbas tidak bisa bersama dengan putri mereka dalam waktu yang sangat lama.


"Papa," gumam Ayun dengan terisak. "Walau dulu aku tidak bersama dengan Papa, tapi dalam diriku mengalir darah Papa. Jadi sifat baik yang Papa katakan itu adalah sifat yang Papa turunkan padaku, juga pada Nindi." Dia beralih mengusap punggung tangan sang papa dengan lembut.


Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, itulah istilah yang tepat untuk apa yang Ayun ucapkan. Bagaimana sikap dan perbuatan orang tua, maka anak juga pasti akan berlaku sama walau tidak semuanya.


Abbas menganggukkan kepalanya dengan hati hangat dan dipenuhi kebahagiaan. "Baiklah, Sayang. Papa dan semua keluarga kita akan menyambut kedatangan Fathir. Lalu hasilnya, Papa serahkan semua padamu."


Ayun menganggukkan kepala membuat kedua orang tuanya tersenyum simpul. Mereka lalu beranjak pergi dari tempat itu guna menyiapkan sambutan untuk Fathir dan keluarga laki-laki itu.


Abbas langsung menghubungi Keanu untuk memberitahukan kabar kedatangan Fathir, sementara Hasna memberitahu semua orang yang ada di rumah itu untuk segera melakukan persiapan.


Tangis bahagia kembali membanjiri rumah Ayun saat semua orang mengetahui tentang kabar kedatangan Fathir, terutama Ezra dan Adel yang langsung memeluk tubuh ibu mereka dengan erat.


"Seumur hidup aku tidak pernah merasa sesenang ini, Bu. Aku, aku benar-benar sangat bahagia."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2