
Nindi terisak dalam pelukan sang suami saat melihat keadaan Suci, sungguh hatinya terasa seperti sedang ditusuk-tusuk melihat gadis kecil yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri sakit seperti ini.
"Tenangkan dirimu, Sayang. Kau tidak boleh seperti ini di dalam ruangan Suci," ucap Keanu dengan pelan sambil mengusap puncak kepala sang istri.
Nindi mengangguk paham sambil berusaha untuk menenangkan diri yang terus bergejolak. Siapapun pasti juga akan bereaksi sama sepertinya saat melihat seorang balita itu terkulai lemas di atas ranjang.
Setelah berhasil menenangkan diri, Nindi beralih mendekati Suci dan duduk di samping ranjang. Ingin sekali dia menggenggam tangan mungil gadis kecil itu, tetapi tidak bisa dilakukan akibat larangan Dokter.
"Suci, ini tante Nindi. Tante datang untuk melihat Suci, apa Suci tidak merindukan tante?" ucap Nindi dengan bibir gemetaran, sekuat tenaga dia menahan air mata yang akan kembali keluar.
Nindi teringat saat-saat sedang bermain dengan Suci dulu, di mana gadis kecil itu selalu tertawa lepas saat berlarian ke sana kemari.
Sucilah yang selalu meramaikan rumah papa Abbas, bahkan gadis kecil itu kerap kali bepergian bersamanya dan sang suami.
Namun, kini lihatlah keadaan Suci. Gadis kecil itu terkulai lemas di atas ranjang tanpa bisa berbuat apa-apa. Jangankan tertawa, dia bahkan tidak bisa membuka mata. Kenapa semua ini terjadi padanya, kenapa takdir begitu kejam pada anak berusia empat tahun sepertinya?
"Cepat sembuh, Suci. Nanti tante dan om akan mengajakmu bermain lagi. Nanti kita bisa pergi ke taman bermain, terus bisa main ke pantai juga. Oke?" sambung Nindi dengan lirih. Dia lalu beranjak bangun dari tempat itu karena waktu menjenguk mereka sudah habis.
Nindi dan Keanu lalu keluar dari ruangan itu dan kembali menemui perawat untuk membuka pakaian medis yang mereka gunakan, setelahnya mereka kembali menemui Evan yang masih setia berada di tempat itu.
"Tunggu, Sayang." Keanu menahan tangan Nindi membuat wanita itu menoleh ke arahnya dengan bingung. "Ada suatu hal yang belum aku katakan padamu, ini tentang Evan dan Sherly."
Nindi mengernyitkan kening saat mendengar ucapan sang suami. "Memangnya ada apa lagi, Mas? Apa belum cukup mereka menghancurkan hidup banyak orang?" Dia bertanya dengan tajam.
Keanu menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya mereka sudah berpisah, Sayang. Evan sudah menjatuhkan talak tiga pada wanita itu."
Nindi sangat terkejut saat mendengar ucapan Keanu, kedua matanya membelalak lebar saat mengetahui tentang perceraian Evan dan Sherly.
"Me-mereka berpisah?"
Keanu menganggukan kepalanya. Dia lupa mengatakan tentang hal itu pada sang istri, padahal sudah sejak semalam Fathir memberitahukan tentang hal itu.
__ADS_1
Nindi tampak tersenyum sinis saat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya. "Lihat, lihat apa yang terkadi sekarang. Mereka benar-benar luar biasa." Dia sampai mengusap dadanya yang mendadak terbakar emosi.
Dengan cepat Nindi berjalan ke arah Evan dan diikuti oleh sang suami yang menatap penuh gelisah. Dia langsung berdiri tepat di hadapan laki-laki itu membuat Evan mendongakkan kepala.
"Apa sekarang kau sudah puas, hah?" tanya Nindi dengan sarkas membuat Evan tersentak kaget dan segera beranjak dari kursi. "Kau benar-benar manusia yang tidak punya hati, Evan. Jangankan mengasihi orang lain, kau bahkan tega menghancurkan hidup anak-anakmu sendiri. Kau tidak pantas disebut sebagai manusia!"
Keanu langsung merangkul bahu Nindi saat melihat kemarahan yang sangat besar dari istrinya itu, sementara Evan hanya terdiam dengan tatapan kelam.
"Dulu kau menghancurkan perasaan Ezra dan juga Adel, anak kandungmu sendiri demi bersama dengan wanita yang katanya sangat kau cintai itu. Lalu sekarang, kau juga menghancurkan Suci yang bahkan masih berumur 4 tahun dengan berpisah dengan ibunya. Binatang saja jauh lebih baik dari pada kau, Evan!" ucap Nindi dengan sangat emosi, seumur hidupnya baru kali ini dia mengatakan jika binatang jauh lebih baik dari manusia.
Keanu hanya diam sambil merangkul Nindi. Dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan kemarahan sang istri karena apa yang istrinya katakan adalah benar.
"Mana yang katanya kau sangat mencintai Sherly, hah? Mana?" tanya Nindi kembali. "Dengan lantangnya kau berkata mencintainya di hadapan semua orang, kau bahkan mencampakkan kakakku dan menginjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang apa, hah? Kau juga mencampakkan wanita itu, 'kan?"
Nindi terus memojokkan Evan dengan kata-kata sarkasnya. Dia benar-benar merasa sangat murka karena seenaknya saja laki-laki itu menghancurkan hidup orang lain.
"Aku tidak peduli kalau kau mau mencampakkan seribu wanita pun, tapi setidaknya pikirkan anak-anakmu. Mereka darah dagingmu sendiri, dan merekalah yang harus menderita karna keegoisanmu!" Nindi menunjuk tepat ke wajah Evan yang sedang menunduk di hadapannya.
"Maaf, maafkan aku," ucap Evan dengan lirih. Dia tahu jika penyesalan yang dia rasakan tidak akan bisa mengembalikan semua ini, terutama mengembalikan kesehatan Suci.
Keanu yang sejak tadi diam terus menatap Evan dengan tajam. Terlihat jelas penyesalan dan rasa bersalah diwajah laki-laki itu, juga penderitaan yang sedang dirasakan.
"Ayo kita pergi, Sayang! Bukankah kau mau melihat wanita itu?" ajak Keanu sambil menggenggam kedua tangan Nindi.
Nindi menghela napas kasar sambil beristighfar kepada Allah agar kemarahannya menghilang, dia takut tidak bisa mengendalikan diri jika terus seperti ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan kedua anaknya sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah Fathir.
Sebelum itu, Ayun memutuskan untuk membuat cookies sebagai buah tangan yang akan dibawa ke rumah keluarga Fathir. Sekaligus puding untuk makanan penutup mereka nantinya.
"Apa makanan ini tidak terlalu sederhana, Bu?" tanya Ayun pada sang ibu sambil memasukkan puding ke dalam cetakan.
__ADS_1
Hasna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Yang terpenting niat tulusmu dan juga rasanya, mereka pasti akan menyukai apa yang kau buat ini."
Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Apa yang ibunya katakan benar, tidak semua hal harus diukur dengan kemewahan dan uang. Bisa saja hal paling sederhana yang malah akan membuat orang lain terkesan.
"Kalian akan berangkat setelah maghrib?" tanya Hasna sambil membantu Ayun menyiapkan puding itu.
Ayun kembali mengangguk. "Iya, Bu. Setelah shalat kami akan berangkat. Bagaimana kalau Ibu juga ikut? Aku juga akan mengajak Firda dan Anggi nanti."
Hasna terdiam mendengar ajakan Ayun. Sebenarnya malam ini ada seseorang yang ingin bertamu ke rumah ini, jadi tidak mungkin dia pergi bersama mereka.
"Begini, Nak. Malam ini tuan Abbas akan datang bertamu, katanya ada hal penting yang ingin dia katakan pada ibu," ucap Hasna.
"Benarkah?" Ayun bertanya dengan kaget dan dijawab dengan anggukan sang ibu. "Bagaimana ini, Bu? Aku tidak enak pada papa." Tidak mungkin papanya datang mereka malah pergi ke tempat lain.
"Tidak apa-apa, Mbak," ucap Yuni tiba-tiba yang baru masuk ke dapur membuat Ayun dan sang ibu menoleh ke arah pintu. "Tuan Abbas datang karena ingin bicara pada ibu, bukan pada mbak." Dia mengedipkan sebelah mata seakan memberi kode pada sang kakak.
Hasna langsung mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Yuni, sementara Ayun menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat baru menyadari maksud dari ucapan sang adik.
"Ah, jadi begitu," sahut Ayun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, membuat sang ibu menatap dengan heran. "Ya sudah, kalau gitu ibu harus menyiapkan makan malam sekalian untuk papa, jadi nanti papa bisa makan malam di sini."
"Makan malam apa? Papamu bilang cuma mau datang aja kok, enggak bilang mau makan malam juga," balas Hasna dengan heran.
"Eh eh eh, bagaimana mungkin Ibu bisa seperti itu?" ucap Ayun kembali sambil melirik ke arah Yuni dengan lirikan penuh makna. "Jarang sekali papa ada waktu untuk main ke sini, apalagi papa udah lelah bekerja seharian. Jadi Ibu harus memperlakukan tamu dengan baik, bukankah Ibu yang mengajari kami seperti itu?" Dia berucap dengan menggebu-gebu.
"Itu benar, Bu," sambung Yuni yang memberikan bala bantuan. "Tuan Abbas pasti sangat lelah, dan dia akan merasa senang saat bisa menikmati makanan buatan Ibu yang super lezat."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.