
Sherly dan Nia saling serang kata dan mencoba untuk menyerang secara fisik, membuat para polisi menyeret mereka secara paksa dan memasukkannya ke dalam penjara.
Pihak kepolisian belum memindahkan Sherly ke Lembaga Pemasyarakatan (lapas) karena belum melakukan penyelidikan yang cukup, dan rencananya besok wanita itu baru akan dipindahkan.
Melihat keributan yang terjadi, membuat Suci menangis dan berteriak dengan kencang karena merasa takut dan juga terkejut. Apalagi saat melihat mamanya dibawa secara paksa oleh polisi, membuat dia semakin dilanda kecemasan.
"Diamlah, Sayang. Tidak apa-apa, ada oma di sini," ucap Sella sambil menggendong Suci dan mencoba menenangkannya, tetapi gadis kecil itu tetap menangis sesenggukan.
Evan yang melihatnya tentu tidak tinggal diam. Dia segera menghampiri Suci dan ingin memberi ketenangan terhadap putri kecilnya itu.
"Jangan mendekat!" seru Sella dengan tajam saat melihat Evan berjalan ke arah mereka, membuat laki-laki itu menghentikan langkah.
"Berikan Suci padaku, Ma. Biar aku-"
"Tidak. Kau tidak berhak untuk menemuinya atau bahkan menyentuhnya!" tolak Sella dengan sarkas. Dia memeluk cucunya dengan erat dan bergegas keluar dari tempat itu.
Evan menghela napas kasar saat mendengar apa yang wanita paruh baya itu katakan, sementara Suci terus menangis sampai terbatuk-batuk dengan napas sesak dan wajah merah padam.
Sella melangkahkan kakinya dengan cepat untuk pergi dari tempat itu. Dia tidak mau Evan bicara dengan Suci atau bahkan menyentuh cucunya, dia ingin membuat laki-laki itu merasakan apa yang Sherly rasakan saat ini.
"Tunggu, Ma!" teriak Evan yang ternyata mengejar kepergian Sella. Dia yang tadinya jalan cepat kini tampak berlari dan langsung menghalangi jalan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Minggir!" ucap Sella dengan sarkas dan penuh penekanan, terlihat jelas kebencian dari sorot matanya.
"Tidak, Ma. Mama tidak bisa membawa Suci, biarkan dia bersamaku," pinta Evan, dia menatap sang putri dengan sendu yang juga menatapnya dengan tangisan.
"Tidak akan. Cepat minggir dari hadapanku sekarang juga!" tolak Sella. Dia tidak akan pernah memberikannya sebelum lak-laki itu melepaskan putrinya.
"Papa!" seru Suci sambil merentangkan kedua tangannya, meminta sang papa untuk menggendongnya.
Sella menarik kedua tangan Suci saat melihat apa yang cucunya lakukan, dia lalu membalikkan tubuh gadis kecil itu agar tidak melihat ke arah Evan.
"Mama tidak berhak untuk melarangku karena aku adalah ayah kandung Suci, dia anakku!" sentak Evan. Dia punya hak untuk bersama dengan putrinya sendiri dan tidak ada yang bisa menghalanginya.
Sella langsung tertawa miris saat mendengar apa yang Evan katakan. "Ayah kandungnya kau bilang?" Dia bertanya dengan sarkas. "Ayah kandung seperti apa yang menyakiti putrinya sendiri seperti ini, hah? Apa kau tidak tau kalau sepanjang malam dia tidak tidur karena terus mencari mamanya? Dia bahkan sampai demam dan tidak mau makan. Itu semua karena kau!"
"Jika kau benar-benar menyayangi Suci, maka kau pasti akan memikirkan nasibnya dengan membebaskan Sherly. Kau pikir akan jadi seperti apa dia tanpa seorang ibu, hah? Kau benar-benar egois!" ucap Sella dengan tajam, dia lalu bergegas pergi dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang dan membiarkan tangisan Suci menggema di tempat itu.
Evan tarpaku di tempat saat mendengar ucapan-ucapan yang Sella lontarkan padanya. Bukankah saat ini dia yang sedang dikhianati dan dibohongi oleh Sherly, tetapi kenapa masih dia juga yang disalahkan?
"Sh*it!" umpat Evan dengan kesal. Tangannya memukul sebuah mobil yang berada tepat di sampingnya, membuat tangan itu berubah merah.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa Kau melakukan semua ini padaku!" teriak Evan dengan frustasi. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan semua masalah yang sedang membelitnya saat ini. Dia merasa lelah jiwa dan juga raga, bahkan rasanya ingin mati saja agar semuanya selesai.
__ADS_1
Sementara itu, Sella yang sudah berada di dalam taksi berusaha untuk menenangkan Suci yang masih saja menangis, dia bahkan sampai ikut terisak karena keadaan yang menyedihkan ini.
"Diamlah, Sayang. Kalau kau gak diam, nanti kita gak bisa ketemu sama mama lagi," ucap Sella, membuat Suci menatapnya dengan sesenggukan.
"Mau sama mama, sama papa juga." Lirih Suci dengan suara serak dan napas tersengal-sengal.
Sella menganggukkan kepalanya. "Iya, kita ini mau balik lagi jumpain mama sama papa, tapi Suci berhenti nangis ya." Dia mengusap wajah Suci yang basah karena air mata, dan dibalas dengan anggukan kepala gadis kecil itu.
Suci lalu terdiam dengan napas yang masih tersengal-sengal, tetapi dia sudah mulai tenang membuat Sella menghela napas lega.
Sella lalu melihat ke arah jalanan dengan sendu. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Jika Evan benar-benar tidak mau membebaskan Sherly bagaimana, pada siapa dia akan meminta bantuan?
Tiba-tiba, Sella teringat dengan Abbas. Walau hubungannya sudah berada di ujung tanduk dengan laki-laki itu, tetapi sejak dulu Abbas sangat menyayangi Suci. Laki-laki itu pasti tidak akan tega dengan apa yang terjadi pada gadis kecil itu saat ini, karena harus berpisah dengan ibunya sendiri.
"Benar, aku harus segera menemuinya dan meminta bantuan. Aku yakin dia pasti bisa membebaskan Sherly dengan semua koneksinya, tapi bagaimana jika dia tidak mau?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.