Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 166. Takhta Tertinggi Adalah Keikhlasan.


__ADS_3

Fathir tersenyum simpul saat melihat wajah Ayun yang sedang memerah bak kepiting rebus. Ingin sekali dia semakin mengodanya, tetapi diurungkan ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.


"I-iya, sebentar," ucap Ayun sambil bergegas untuk membuka pintu kamarnya, sementara Fathir berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan tetap tersenyum senang.


Ayun lalu mempersilahkan beberapa perias yang tadi membantunya untuk masuk ke dalam kamar karena ingin kembali meriasnya. Kemudian dia meminta sedikit waktu untuk berganti pakaian karena memang belum sempat untuk menggantinya.


Beberapa saat kemudian, Ayun dan Fathir sudah siap dalam balutan pakaian berwarna merah. Dengan menggandeng tangan sang istri, mereka berdua keluar dari kamar menuju halaman depan rumah di mana para tamu sudah mulai berdatangan.


Bak raja dan ratu, ketampanan dan kecantikan mereka membuat semua mata yang menatap berdecak kagum. Walau dengan umur yang hampir menyentuh kepala lima, tetapi wajah Ayun dan Fathir tetap tampak sangat muda. Apalagi dalam balutan gaun yang indah dan elegan, membuat para wanita merasa iri denga keberuntungan yang Ayun dapatkan.


Ayun dan Fathir tersenyum ramah kepada semua tamu yang sudah hadir di pesta pernikahan mereka. Dengan perlahan, mereka naik ke pelaminan yang terlihat sangat mewah dan memukau.


Kedua orangtua Ayun tersenyum bahagia melihat putri kesayangan mereka duduk dipelaminan dengan wajah bahagia, begitu juga dengan kedua orangtua Fathir yang merasa sangat lega dan beruntung melihat sang putra bersanding dengan wanita baik seperti Ayun.


Semua keluarga juga turut bahagia dengan pernikahan Ayun dan Fathir, sama halnya dengan Mery dan Endri. Mereka menatap Ayun dengan mata berkaca-kaca karena penuh dengan keharuan, sungguh hati mereka merasa sangat bahagia melihat pancaran kebahagiaan diwajah Ayun. Kebahagiaan yang selama ini tidak pernah putra mereka berikan pada wanita itu.


Namun, lain hal dengan Evan yang merasa benar-benar hancur melihat Ayun duduk bersanding dengan lelaki lain. Laki-laki yang jauh lebih baik darinya, dan bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah dia berikan.


Tangan Evan terulur menekan dada yang terasa sesak, sungguh rasanya sangat sakit sekali. Seumur hidup, belum pernah dia merasa sesakit ini.


"Ya Allah, aku benar-benar menyesal atas semua perbuatan yang telah aku lakukan. Maka dari itu, aku mohon hilangkanlah rasa sakit dan sesak yang memenuhi hati ini. Berikanlah keikhlasan dalam hatiku untuk melihatnya bersama orang lain, karena dia memang pantas bersanding dengan lelaki itu. Bukan dengan laki-laki bajing*an sepertiku." Evan menundukkan kepalanya sambil memejamkan kedua mata. Berharap rasa sakit yang sedang dirasakan dapat berkurang.


Mery yang duduk di samping Evan langsung mengusap bahu putranya itu, membuat air mata yang sejak tadi Evan tahan menetes keluar.


"Tunggulah sebentar, ibu dan ayah ingin memberi selamat pada Ayun dan Fathir. Setelah itu kita pulang," ucap Mery dengan pelan. Dia merasa tidak tega melihat keadaan putranya saat ini.

__ADS_1


Dengan cepat Evan mengusap air matanya sambil menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Aku juga ingin memberi selamat untuk mereka." Dia berusaha untuk tegar.


Mery menatap ragu. Dia takut jika Evan tidak bisa mengendalikan diri di hadapan Ayun, dan nantinya malah akan membuat wanita itu tidak nyaman. Apalagi dalam suasana bahagia seperti ini.


"Maaf karena sudah membuat ibu khawatir," ucap Evan dengan sendu. "Tapi aku tidak bisa pergi sebelum mengucapkan selamat pada Ayun. Aku, aku ingin memberikan doa yang terbaik untuknya."


Mery mengangguk lemah. "Baiklah, Nak. Temui mereka dan berikan do'a yang terbaik, semoga setelah ini kau pun mendapat kebahagiaan."


Evan tersenyum sambil mengaminkan ucapan sang ibu. Dia lalu kembali melihat ke arah Ayun yang sedang bersalaman dengan para tamu, juga berfoto ria dengan semua keluarga.


Beberapa saat kemudian, Evan beranjak dari kursi untuk menemui Ayun dan Fathir dengan diikuti oleh kedua orangtuanya. Semua orang yang mengetahui identitasnya tampak berbisik-bisik, karena tidaj lazim bagi mereka jika seorang mantan suami datang kepesta pernikahan sang mantan istri.


Namun, Evan sama sekali tidak peduli dan tetap melangkah dengan tegas. Dia telah menguatkan niat untuk memberikan selamat pada Ayun dan Fathir, serta ada sesuatu hal yang juga ingin dia berikan pada mereka.


Ayun dan Fathir yang melihat keberadaan Evan tampak tersenyum tipis. Mereka tahu jika hari ini laki-laki itu pasti datang, karena mereka sendirilah yang mengundangnya.


"Selamat untuk Anda berdua, Ayun, Tuan Fathir," ucap Evan dengan tulus, walau Ayun dan Fathir dapat merasakan getaran dalam suaranya. "Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga kalian, dan semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi dengan kebaikan dan kedamaian." Dia menatap dengan sendu.


Ayun tersenyum dengan hangat sambil menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Fathir. wajah yang biasanya datar dengan tatapan tajam, kini tersenyum cerah dengan pancaran kebahagiaan.


"Aamiin. Semoga Allah juga memberikan kebahagiaan dan ketenangan hati untukmu, Mas. Terima kasih karena sudah datang, silahkan nikmati pestanya," sahut Ayun dengan ramah. Tidak ada sedikit pun kebencian dan dendam dalam sorot matanya, yang ada hanyalah ketulusan dan kebahagiaan.


Evan mengangguk sambil menahan dadanya yang semakin berdenyut sakit. Namun, dia juga merasa lega melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ayun. Syukurlah jika sekarang wanita itu hidup dalam kebahagiaan yang berlimpah seperti ini.


"Terima kasih karena sudah memenuhi undangan kami, Evan. Aku senang melihat kedatanganmu," ucap Fathir.

__ADS_1


Evan kembali menganggukkan kepalanya. "Saya merasa beruntung karena diundang oleh Anda, Tuan."


Fathir tersenyum. Dia lalu menyuruh Evan untuk memanggilnya dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel tuan, karena laki-laki itu adalah ayah dari kedua anak sambungnya.


Evan tertegun mendengar ucapan Fathir. Pantas saja laki-laki itu bisa memberikan kebahagiaan pada Ayun dan kedua anaknya, karena ternyata Fathir memang mempunyai hati yang baik.


"Kalau gitu saya permisi, Fathir. Terima kasih karena selama ini sudah memperlakukan anak-anakku dengan baik, dan terima kasih karena sudah menyayangi mereka saat aku memperlakukan mereka dengan buruk," ucap Evan dengan penyesalan yang sangat dalam.


Fathir mengangguk. Dia sudah menganggap Ezra dan Adel seperti anak kandungnya sendiri, jelas saja dia sangat menyayangi mereka.


Evan lalu mengambil sesuatu dari saku jasnya dan memberikan sebuah kotak beludru berwarna biru pada Fathir. "Saya hanya bisa memberikan ini untuk hadiah pernikahan Anda, semoga Anda dan Ayun mau menerimanya."


Tentu saja Fathir langsung menerima hadiah itu dengan senang. Dia lalu menepuk bahu Evan sambil tersenyum hangat, membuat hati Evan terasa tenang.


Evan juga memberikan sepucuk surat pada Ayun yang berasal dari Sherly. Wanita itu kirim salam dan mendo'akan agar pernikahan Ayun dan Fathir selalu bahagia sampai akhir hayat.


Setelah selesai, Evan bergegas turun dari pelaminan untuk menemui Abbas dan Hasna. Kemudian dia beranjak pergi ke parkiran untuk menunggu orangtuanya.


"Tunggu sebentar, Ayah!"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2