
Alma tersentak kaget saat mendengar ucapan Ayun, sontak dia menatap wanita itu dengan bingung dan penuh tanda tanya.
"Apa, apa maksudmu, Ayun?" tanya Alma dengan lirih.
Ayun berpindah duduk ke samping Alma agar bisa lebih dekat, dia lalu menggenggan kedua tangan wanita itu yang saat ini saling bertautan.
"Maaf jika membuat Tante terkejut, tapi aku punya alasan yang cukup kuat kenapa melakukan hal tersebut," ucap Ayun dengan pelan.
Dia lalu menjelaskan semua rencana yang akan dia lakukan, sekaligus alasan kenapa dia ingin kembali mempertemukan Fathir dengan Fathan walaupun bisa memicu kesehatan calon suaminya.
"Aku sudah berkonsultasi dengan Dokter, Tante. Besok dia akan meminta Fathir untuk datang ke rumah sakit dan melanjutkan sesi selanjutnya, setelah itu baru bisa dilihat apakah bisa mempertemukannya dengan Fathan atau tidak," ucap Ayun setelah selesai menceritakan semuanya.
Alma terdiam saat mendengar penjelasan Ayun. Dia merasa terharu karena wanita itu sampai memikirkan kesehatan Fathir seperti itu, bukan hanya Fathir saja, bahkan sampai Fathan juga yang jelas-jelas sudah menyakiti Fathir.
Namun, Alma tetap merasa khawatir dan was-was. Terakhir kali keadaan Fathir memburuk saat dipaksa bertemu dengan Fathan, begitu juga keadaan Fathan yang sampai hari ini masih berada di dalam ruang ICU.
"Maafkan aku, Tante. Seharusnya aku membicarakan masalah ini dulu dengan Tante," ucap Ayun dengan sendu, dia merasa bersalah karena sudah mengambil keputusan sendiri, bahkan tidak mengatakannya terlebih dulu pada orang tua Fathir.
Tatapan kekhawatiran dikedua mata Alma berubah menjadi binar-binar kebahagiaan saat mendengar ucapan Ayun. "Tidak, Sayang. Kau tidak melakukan kesalahan, jadi jangan meminta maaf." Dia menggelengkan kepala untuk membantah ucapan wanita itu.
"Tante merasa sangat terharu dan senang karena kau memikirkan dan peduli pada keadaan anak-anak tante, sungguh tidak ada orang lain yang begitu peduli sepertimu," sambung Alma sambil menatap dengan sendu.
Ayun merasa lega karena Alma tidak tersinggung dengan apa yang dia lakukan, setelahnya dia berjanji akan terus berada di sisi Fathir untuk memberikan dukungan pada laki-laki itu.
Setelah berbicara dengan calon mertuanya, Ayun beranjak pamit untuk pergi dari tempat itu. Masih ada pekerjaan lain yang harus dia lakukan, yaitu tentang persiapan pernikahannya dan Fathir.
"Apa kau mau bertemu dengan Fathan dulu sebelum pergi?"
Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Alma. "Be-bertemu dengan Fathan?" Dia merasa terkejut dan tidak menyangka dengan tawaran yang wanita itu katakan.
__ADS_1
Alma mengangguk sambil memasang senyum tipis. "Benar. Sebentar lagi kau akan menikah dengan Fathir, tidak ada salahnya jika bertemu dengan kakak iparmu."
Ah, Ayun merasa senang saat mendengarnya. Dengan cepat dia menganggukkan kepala untuk menerima ajakan Alma, walaupun ada sedikit keraguan dalam hatinya.
Alma lalu mengajak Ayun menuju ruangan di mana Fathan berada. Sejujurnya dia sama sekali tidak berniat untuk mempertemukan Ayun dengan Fathan, apalagi mengingat kejadian di masa lalu sangat berkaitan erat dengan seorang wanita.
Namun, Alma merasa sangat tersentuh dengan kebaikan hati Ayun. Dia ingin mencoba untuk mempercayai keyakinan wanita itu, jadi tidak ada salahnya jika mempertemukan Ayun dengan putra sulungnya.
"Masuklah, Ayun. Tante akan tunggu di sini," ucap Alma saat sudah sampai di depan ruangan Fathan, terlihat laki-laki itu sedang tertidur di atas ranjang.
"Apa Tante tidak ikut masuk?" tanya Ayun. Dia melirik sekilas ke arah Dokter yang berjaga di ruangan Fathan, lalu kembali melihat ke arah Alma.
Alma menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia sendiri masih belum bisa mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu, itu sebabnya dia merasa sangat berat untuk menemui putra sulungnya itu.
"Selama ini Tante dan om lah yang menjadi penyemangat Fathir, dia bahkan mau konsultasi dengan Dokter demi orang tuanya. Dia pasti sedih melihat Tante seperti ini," ucap Ayun. Dia tahu jika sebenarnya Alma enggan untuk masuk ke dalam ruangan Fathan.
Alma menghela napas kasar. "Tante merasa sangat bersalah, Ayun. Rasanya Tante takut semakin menyakiti hati Fathir jika menemui kakaknya." Kedua matanya berkaca-kaca.
Fathir akan merasa sedih jika menempatkan kedua orangtuanya di antara dia dan Fathan, apalagi mereka adalah sudara kandung. Semua orangtua tidak akan sanggup untuk memilih salah satu di antara anak mereka.
"Ayo kita masuk, Tante! Kita lupakan masa lalu yang sudah terjadi, dan sekarang kita hanya berharap semoga keadaan Fathir dan kakaknya segera kembali sehat," ucap Ayun kemudian.
Alma menarik napas panjang sambil mencoba untuk menenangkan diri, dia lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil menganggukkan kepalanya.
Ayun tersenyum senang. Jika hati dan perasaan seorang ibu sudah tenang, maka dia yakin jika keadaan anak-anak mereka pasti juga akan membaik.
Kedua wanita itu lalu segera masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapan mereka. Seorang Dokter dan perawat langsung menyambut kedatangan Ayun dan Alma, lalu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan Fathan.
Begitu Alma melangkahkan kakinya memasuki ruangan sang putra, kedua mata Fathan langsung terbuka seolah tiba-tiba tersadar dari tidurnya. Padahal biasanya dia tidak akan bangun sampai beberapa jam ke depan setelah meminum obat.
__ADS_1
Kedua mata Alma langsung berkaca-kaca saat menatap wajah sang putra, sementara Ayun hanya diam sambil berdiri di ambang pintu.
"Ma-mama?" ucap Fathan dengan kaget saat melihat keberadaan sang mama. Dadanya berdegup kencang seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. "Ma-mama di sini?" Dia bertanya dengan sendu.
Alma menganggukkan kepalanya dengan kedua tangan mengepal erat, menahan keinginan untuk memeluk tubuh Fathan.
"Ba-bagaimana keadaanmu, Nak? Kau baik-baik saja?"
Fathan menatap sang mama dengan lelehan air mata. Sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak mendengar panggilan itu, bahkan tidak merasakan kekhawatiran yang diberikan oleh mamanya.
"Aku baik, Ma. Aku sangat baik," jawab Fathan sambil tersenyum tipis.
Alma mengangguk lega saat mendengarnya, dan hatinya terasa lebih ringan seolah beban berat baru saja terangkat dari dadanya.
"Syukurlah. Maaf kalau mama baru bisa menjengukmu sekarang." Lirih Alma.
Fathan mengangguk paham. Setidaknya dia bisa kembali berbicara dengan mamanya, walau harus menunggu lama dengan perasaan tersiksa akibat perbuatannya sendiri.
"Dan ini adalah Ayun," sambung Alma sambil memegang lengan Ayun dan meminta wanita itu untuk mendekat, membuat Fathan langsung menoleh ke arah Ayun. "Dia akan menikah dengan Fathir, dan akan menjadi adik iparmu."
Fathan langsung menajamkan pendangan matanya saat mendengar ucapan sang mama.
"Dia, dia akan menikah dengan Fathir?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.