Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 115. Kebenaran yang Mengguncang Jiwa.


__ADS_3

Akhirnya Ayun dan Abbas pergi meninggalkan rumah sakit menuju kafe yang berada tidak jauh dari tempat itu, bahkan hanya perlu berjalan kaki saja maka mereka sudah sampai.


"Kau mau minum apa, Ayun? Biar saya pesankan," tawar Abbas saat mereka sudah duduk di sudut ruangan.


Ayun lalu menyebutkan minuman yang ingin dia pesan pada Abbas, tidak berselang lama datanglah pelayan yang menghampiri mereka untuk mencatat menu pesanan.


"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan?" tanya Ayun saat pesanan mereka sudah tersaji di atas meja.


Abbas menatap Ayun dengan sayu saat mendengar pertanyaan wanita itu. "Sebelumnya, saya minta maaf jika apa yang akan saya katakan nanti membuatmu terkejut. Juga minta maaf kalau saya terlambat mengatakan semua ini padamu." Dia berucap lirih dengan kedua mata yang menggantung mendung.


Kegelisahan dan kebingungan yang sejak tadi Ayun rasakan, kini semakin bertambah besar. Namun, dia tetap menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Katakan saja apa yang ingin Anda katakan, saya siap mendengarnya," balas Ayun.


Abbas menarik napas panjang sebelum mengatakan yang sebenarnya, lalu menghembuskannya dengan pelan dan berharap agar Ayun tidak terkejut saat mengetahui hubungan mereka.


"Ayun, sebenarnya, sebenarnya kau adalah putri kandungku."


Deg.


Tubuh Ayun mendadak jadi kaku dengan kedua mata membulat sempurna saat mendengar ucapan Abbas. Dia merasa sangat terkejut, hingga tidak mengerti apa yang sebenarnya laki-laki paruh baya itu katakan.


"A-apa maksud Anda?" Ayun bertanya dengan tergagap, tubuhnya bergetar hebat dengan jatung berdegup kencang.


Abbas menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah. "Maaf, Ayun. Maafkan papa, sungguh papa tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut seperti ini, tapi kau benar-benar putri kandungku. Aku, aku adalah ayahmu."

__ADS_1


Kedua pupil mata Ayun semakin melebar dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang Abbas katakan. Sebenarnya apa maksud laki-laki paruh baya itu? Kenapa Abbas mengatakan jika dia adalah anaknya?


Abbas lalu mulai menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Hasna, hingga akhirnya membuat wanita itu mengandung dan melahirkan Ayun.


Ayun menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Kedua tangannya mengepal kuat, dengan air mata yang jatuh membasahi wajah.


"Maaf, Ayun. Maafkan Papa." Lirih Abbas, setelah selesai menceritakan semuanya.


Ayun langsung berdiri dari duduknya dengan tatapan tajam. "Tidak, itu, itu tidak mungin terjadi." Dia Kembali menggelengkan kapalanya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia dan Abbas adalah ayah dan anak kandung?


"Ayun. Itu, itu benar, Nak. Maafkan papa." Lirih Abbas. Dia ikut beranjak dari kursi sambil menatap Ayun dengan sendu.


Ayun tetep menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir deras. Dengan cepat dia menyambar tasnya dan berlalu pergi dari tempat itu.


"Tu-tunggu, Ayun!" Abbas memekik kaget saat melihat kepergian Ayun, dengan cepat dia menyusul langkah wanita itu. Namun, tidak sengaja dia bertabrakan dengan seorang pelayan yang sedang membawa makanan dan minuman.


Suara dari piring dan gelas yang terjatuh ke atas lantai menggema di tempat itu, membuat semua orang langsung menoleh ke arah mereka.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Abbas yang merasa bersalah karena sudah menabrak pelayan itu. Dia lalu melihat ke arah Ayun pergi, dan tidak lagi melihat keberadaan wanita itu.


Ayun mempercepat langkah kakinya dengan pandangan buram, karena sejak tadi air kata tidak berhenti mengalir dari kedua matanya.


"Tidak, itu tidak mungkin." Ayun benar-benar tidak percaya dengan apa yang Abbas katakan. "Kenapa, kenapa dia jadi ayah kandungku?" Langkahnya terhenti karena tidak sanggup lagi untuk menahan berat tubuhnya, karena sejak tadi kedua kakinya sudah gemetaran.


Tangan Ayun berpegangan pada dinding dengan erat agar tidak terjatuh, dia terisak lirih karena kenyataan yang baru saja dia ketahui saat ini. Bagaimana mungkin semua ini terjadi padanya?

__ADS_1


"Kebenaran seperti apa yang Kau berikan padaku ini, ya Allah? Kenapa, kenapa semua jadi seperti ini?" Ayun menjongkokkan tubuhnya dengan terisak pilu. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sakit dan sesak. Sungguh, semua ini sangat mengejutkannya hingga tidak bisa bereaksi apa-apa di hadapan Abbas.


Ayun menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki dengan tangisan yang tidak pernah surut. Sakit, dan lelah sekali rasanya saat bertubi-tubi masalah datang menerpa, dan ketika satu persatu masalah itu berhasil dia selesaikan, kenapa Tuhan masih saja memberikan masalah baru untuknya?


"Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang lemah. Aku mohon jangan terus mengujiku seperti ini, ya Allah. Aku tidak sanggup." Lirih Ayun.


Jiwa Ayun benar-benar terguncang mendapati fakta bawah ayah yang selama ini merawat, dan membesarkannya ternyata bukan ayah kandungnya. Kenapa, kenapa ibunya tidak pernah membicarakan masalah ini? Kenapa beliau menyembunyikannya?


"Ibu, kenapa, Bu? Kenapa semua ini terjadi? Aku, aku adalah anak tuan Abbas?" Hati Ayun terasa sangat sakit saat mengucapkannya. Lalu, tiba-tiba dia teringat dengan kejadian di masa lalu saat dia dan Evan akan menikah.


"Apa karena itu ayah tidak bisa menikahkanku?" gumam Ayun dengan lirih. Dia ingat betul saat mendiang ayahnya mendatanginya di malam sebelum pernikahan terjadi, dan mendiang sang ayah mengatakan sangat gugup dan tidak sanggup menikahkannya secara langsung. Itu sebabnya diwakilkan oleh wali hakim pada saat akad.


"Ayah." Ayun yang tadinya berjongkok kini terduduk lemas di atas tanah. Apa sejak awal ayahnya tahu jika dia adalah anak kandung orang lain? Yah, ayahnya pasti tahu tentang semua itu. Itu sebabnya sang ayah tidak bisa menikahkannya waktu dulu, dan mencari alasan agar dia tidak merasa curiga.


Semua kebenaran yang Abbas katakan pada Ayun benar-benar membuat emosinya meledak-ledak. Berbagai pertanyaan berlarian dalam kepalanya, khususnya pertanyaan untuk sang ibu yang selama ini telah merahasiakan semua kebenaran ini.


"Tidak, aku tidak bisa menanyakannya pada ibu. Aku tidak mau ada masalah dengan operasinya," ucap Ayun dengan lirih. Dadanya terasa semakin sesak karena tidak bisa menanyakannya secara langsung dengan sang ibu, dan sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa.


"Maaf, kenapa Anda menangis di sini?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2