
"Nindi?" Ayun tercengang dengan tatapan tidak percaya saat melihat Nindi dan keluarga wanita itu ada di tempat ini, sementara Nindi sendiri langsung berjalan menghampirinya. "Ka-kau sudah sehat?" Dia bertanya dengan khawatir saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya.
Nindi tersenyum dan memeluk lengan Ayun dengan erat. "Tentu saja, semalam 'kan aku cuma kecapekan. Ayo, semua orang sudah menunggumu loh!" Dia menarik tangan Ayun agar mendekat ke arah di mana yang lainnya berada.
Ayun benar-benar senang dan terharu saat melihat Nindi dan yang lainnya ada di tempat ini. Tidak tahu dengan kata-kata seperti apa untuk mengucapkan rasa terima kasihnya, yang jelas dia tidak akan pernah melupakan apa yang Nindi dan keluarga wanita itu lakukan untuknya.
Ayun lalu menyalim tangan Abbas dan menyapanya dengan ramah, begitu juga dengan Keanu dan Bram yang jelas ada di tempat itu juga.
Bram lalu mengajak Ayun untuk masuk ke dalam ruangan sembari membahas wacana yang akan dibicarakan disidang pertama ini, karena mereka harus menyiapkannya dengan sebaik mungkin agar tidak ada celah bagi pihak tergugat untuk menyangkal semua gugatan yang mereka layangkan.
Setelah 10 menit berada di dalam ruang sidang, masuklah Evan dengan ditemani oleh Sherly dan juga Sella yang berjalan dengan angkuh ke dalam ruangan itu.
Ayun yang sedang berbincang dengan Bram tampak melirik ke arah mereka, tetapi secepat kilat dia kembali mengalihkan pandangannya.
Evan menatap tajam ke arah Ayun yang sedang duduk tepat di samping Nindi, dan di belakang Abbas. Dia menyernyitkan kening saat tidak melihat keberadaan Yuni dan suaminya, bukankah mereka ada di sini? Tetapi kenapa malah tidak ikut ke persidangan?
"Kau lihat, wanita itu di kelilingi oleh keluarga kita, Sherly. Sepertinya dia benar-benar ingin menggeser posisi mama di dalam keluarga itu," ucap Sella dengan ketus. Matanya menatap Ayun dengan geram, bisa-bisanya wanita tidak tahu malu itu bersama dengan suaminya.
"Memangnya Mama bisa apa lagi? Toh papa sudah tidak mau dengan Mama, lebih baik cari yang lain saja," ujar Sherly dengan ringannya, membaut Sella langsung menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Enak saja mulutmu itu. Gara-gara kalian aku jadi diceraikan, pokoknya aku tidak akan tinggal diam kalau sampai wanita itu menikah dengan Abbas!" ucap Sella dengan penuh penekanan dan kemarahan. Enak saja Ayun ingin mendapatkan sesuatu yang sudah susah payah dia perjuangkan, memangnya mau mencari laki-laki seperti Abbas di mana lagi?
Evan yang mendengar pertengkaran antara ibu dan anak itu hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Bisa-bisanya mereka selalu saja bertengkar di semua tempat, bahkan di saat seperti ini. Dia lalu berpindah tempat duduk ke belakang saat melihat pengacaranya masuk ke dalam ruangan.
Beberapa saat kemudian, hakim dan para jajarannya masuk ke dalam ruangan sidang membuat suara berisik yang tadi memenuhi ruangan itu langsung menghilang.
Semua orang duduk di tempatnya masing-masing, termasuk Ayun dan Evan yang sudah sama-sama duduk di samping pengacara mereka masing-masing.
Hakim lalu memulai acara persidangan pada hari ini diawali dengan pembacaan identitas dari pihak penggugat dan tergugat, tidak lupa pembacaan gugatan yang pihak penggugat layangkan ke pengadilan.
Sidang berjalan dengan lambat karena adanya bantahan-bantahan dari pihak Evan tentang perselingkuhan yang telah bertahun-tahun dia lakukan, mereka mengakui bahwa adanya perselingkuhan hanya dalam kurun waktu kurang lebih 5 tahun saja.
Sidang pertama ini diisi dengan proses mediasi agar pihak penggugat dan tergugat bisa kembali rujuk, dan menjalin bahtera rumah tangga. Namun, besarnya kesalahan pihak tergugat dan tuntutan yang ada. Jelas mediasi berakhri gagal, apalagi sudah hadirnya seorang anak dari hasil perselingkuhan itu.
Ayun yang akan membantah pernyataan Evan ditahan oleh pengacaranya. Tidak peduli 10 tahun atau 5 tahun berselingkuh, yang jelas ucapan Evan sudah menyatakan dengan resmi bahwa dia benar-benar berselingkuh.
"Tapi Pak, ini-"
"Tidak apa-apa, Buk Ayun. Percayalah kalau dia sudah masuk ke dalam jebakan yang saya buat," ucap Bram menenangkan. Dia sudah menyiapkan semuanya dengan baik, sehingga sidang perceraian ini nantinya tidak akan berjalan dengan lambat dan berlarut-larut.
__ADS_1
Ayun mengangguk paham. Baiklah, dia serahkan saja semuanya pada Bram yang memang sudah ahli dalam hal seperti ini, karena sepertinya Evan juga tidak main-main menolak gugatan hak asuh anak juga perihal harta gono-gini.
"Saat ini, anak-anak klien saja dibawa pergi oleh pihak penggugat. Jadi seharusnya itu sudah masuk ke ranah pelanggaran-"
"Kata siapa?" potong Bram dengan cepat sambil berdiri dari kursinya membuat Evan dan pengacaranya menatap tidak suka. Dia mengangukkan kepala kepada hakim, dan meminta izin untuk bicara.
"Tapi Tuan Hakim, saya-"
"Pak Bram, saya persilahkan Anda untuk bicara," ucap hakim dengan cepat, membuat pengacara Evan yang bernama Agung itu langsung terdiam.
Bram tersenyum simpul. Jelas saja hakim mempersilahkan bicara karena sejak tadi asik Agung saja yang tidak terima dengan gugatan yang kliennya layangkan, tanpa bisa memberikan sanggahan berupa bukti.
"Jika pihak tergugat merasa klien saya membawa anak mereka pergi, bukankah itu sudah sangat tidak masuk akal?" ucap Bram dengan lantang. "Anak-anak mereka bukan baru berumur 1 sampai 5 bulan, atau bahkan 5 tahun, yang bisa di ajak pergi ke sana kemari. Tapi sudah berumur 15 dan 21 tahun, jadi mereka sudah bisa berpikir sendiri dan memilih jalan mana yang menurut mereka itu baik. Dan perlu digaris bawahi, mereka bukan pergi, tapi diusir."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.