
Evan menatap polisi itu dengan tajam dan tidak percaya. Bagaimana mungkin Sherly yang menjadi tersangka? Tidak, telinganya pasti sedang bermasalah sehingga tidak bisa mendengar dengan baik dan benar.
"Kami sudah mengumpulkan semua bukti dan kesaksian dari semua orang yang terlibat, dan semuanya mengarah pada Nyonya Sherly, istri kedua Anda. Jadi, untuk saat ini-" Polisi itu tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Evan mencengkram kerah kemejanya dengan erat, membuat semua orang yang ada di tempat itu terkesiap.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" bentak Evan dengan tajam. Rahangnya mengeras dengan mata memerah karena terbakar emosi akibat ucapan polisi tersebut.
Beberapa polisi yang ada di tempat itu langsung menarik tubuh Evan, agar cengkraman laki-laki itu terlepas.
"Jaga sikap Anda, Tuan!" tegur salah satu polisi yang ada di tempat itu, dia merasa emosi dengan apa yang Evan lakukan.
"Seharusnya kalian yang menjaga sikap dan bekerjalah yang benar!" ucap Evan dengan nada bentakan. "Kalian bilang apa tadi, istriku yang menjadi tersangka? Apa kalian sudah gila?" Dia mengumpat kesal. Apa mereka tidak bisa bekerja dengan baik sehingga berkata hal seperti itu?
Pengacara Evan yang bernama Hery segera menenangkan sang klien, jangan sampai kliennya malah ikut ditahan karena sudah berkata tidak sopan pada petugas kepolisian.
"Bawa dia ke dalam ruangan dan tunjukkan semua hasil penyelidikan kalian, dan untuk yang lain segera pergi ke rumah tersangka," perintah polisi yang ada di hadapan Evan, dia adalah kepala penyidik atas kasus laki-laki itu.
"Tunggu, mau ke mana kalian?" teriak Evan saat melihat beberapa polisi dan polisi wanita pergi dari tempat itu. "Kalian harus menangkap pelakunya, bukan istriku!" Dia tetap bersikukuh bahwa polisi tidak bekerja dengan benar, dan telah melakukan kesalahan.
"Jika Anda terus seperti ini, maka kami juga bisa menangkap Anda atas pencemaran nama baik pihak kepolisian," ucap polisi tersebut memberi ancaman. Bisa-bisanya Evan tidak terima dengan tersangka yang akan mereka tangkap.
Hery kembali berusaha untuk menenangkan Evan karena sudah bertindak keterlaluan, jika terus seperti ini maka keadaan akan menjadi semakin runyam.
Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa malah Sherly yang menjadi tersangka, apa wanita itu sedang dijebak?
__ADS_1
"Mari, Tuan! Kita harus melihat hasil penyelidikan polisi dan bukti yang mereka dapatkan," ajak Hery. Dia juga penasaran kenapa malah wanita itu yang menjadi tersangka, sementara dugaan mereka adalah David.
Evan terpaksa masuk ke dalam ruangan untuk melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi, sementara Nia dan Burhan yang masih ada di tempat itu hanya menatap sinis saja.
Ternyata bukan hanya mereka saja yang masih ada di tempat itu, tetapi David juga datang ke sana saat mendengar bahwa Nia dan Burhan juga dipanggil oleh pihak penyidik. Tidak disangka dia akan melihat kemarahan Evan saat mengetahui siapa tersangka yang sebenarnya.
"Sejak awal aku sudah curiga kalau wanita itu yang mengambilnya, karena hanya dia yang datang dua kali ke kantor sebelum hilangnya berkas itu. Lalu lihat sekarang, ternyata dugaanku benar." David tersenyum senang melihat apa yang terjadi.
"Sekarang rasakan kehancuranmu, Evan. Musuhmu bukanlah orang lain, tapi orang yang berada tepat di sampingmu. Dan setelah ini, aku akan membalasmu sampai kau tidak bisa bangkit lagi. Karena aku tau semua tentang pekerjaanmu, bahkan aku juga sangat tahu sekali bagaimana menghancurkannya." David mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Bertahun-tahun bekerja bersama dengan Evan, jelas David tahu apa-apa saja rahasia di dalam pekerjaan laki-laki itu. Bahkan usaha property Evan dialah yang mengurusnya, dan mengembangkannya sampai seperti ini. Jadi, dia jugalah orang yang akan menumbangkannya sampai rata menjadi tanah.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Sherly sedang berada di kedai es krimnya. Hari ini dia datang untuk memeriksa pendapatan selama seminggu terakhir ini, dan bertepatan keadaan kedai ramai jadi dia bisa menyapa beberapa pelanggan agar menjadi langganan tetapnya.
Langkah Sherly terhenti saat mendengar ucapan seseorang, dia lalu berbalik dan menatap kedua wanita yang saat ini sedang duduk sambil bergosip ria.
"Benar. Kita datang 'kan untuk melihatnya, aku penasaran secantik apa sih dia sehingga tega merebut suami orang lain?" Wanita itu merasa kesal.
"Benar, aku kasihan melihat Ayun. Padahal dia wanita baik dan ramah, bisa-bisanya sih Evan selingkuh dengan wanita lain."
Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia lalu melirik ke arah samping di mana ada beberapa orang juga yang sedang menggosipinya. Sebenarnya datang dari mana mereka semua ini, kenapa bisa mengenal Ayun dan datang ke sini?
"Si*alan. Apa wanita itu menyuruh mereka datang ke sini untuk menghancurkan reputasiku?" Sherly berdecak kesal. Dia yakin jika ini adalah perbuatan Ayun, karena tadi mereka beberapa kali menyebut nama wanita itu.
__ADS_1
Para pelanggan yang datang ke kedai Sherly memang mengenal Ayun, karena mereka adalah para tetangga yang tinggal di sekitar rumah Evan dan penasaran dengan sosok wanita yang menjadi istri kedua laki-laki itu.
Sejak mendengar dan melihat pengusiran yang Evan lakukan pada Ayun dan kedua anaknya malam itu, mereka mulai mencari-cari apa sebenarnya masalah yang terjadi. Sampai akhirnya teman Adel buka suara, karena dia sempat mendengar curhatan Adel bahwa ayahnya menikah lagi dengan wanita lain.
"Kalian-" Sherly yang akan menegur mereka tidak jadi mengeluarkan suara saat melihat kedatangan polisi ke tempat usahanya.
Dua orang polisi, dan tiga orang polwan masuk ke dalam kedai milik Sherly dan langsung berhadapan dengan wanita itu.
"Apa benar Anda yang bernama Sherly Ralisya?" tanya salah satu polisi.
"Be-benar, ta-tapi ada apa yah, Pak?" tanya Sherly dengan gugup.
"Kami membawa surat perintah penangkapan Anda atas kasus hilangnya barang berharga milik tuan Evan,"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1