
Ezra mematung di tempat dengan tatapan nanar saat melihat keberadaan sang ayah, dia tidak menyangka jika ayahnya akan datang ke pesta pernikahan ibunya seperti ini.
Ezra lalu mengalihkan tatapan matanya saat mendengar pertanyaan ayahnya, sementara Evan terus memberikan senyuman hangat pada putranya itu.
"Ezra!" panggil Mayra saat melihat laki-laki itu diam terpaku di tempatnya berdiri. "Sini, letakkan kue itu di meja." Ucapnya membuat laki-laki itu melirik dengan tajam.
Tanpa mengatakan apa-apa, Ezra langsung berjalan ke arah meja lalu meletakkan kue yang dia bawa ke atas meja tersebut.
"Silahkan dinikmati Kek, Nek. Aku permisi dulu," ucap Ezra. Dengan cepat dia berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu.
Mery yang akan mengatakan sesuatu tidak jadi mengeluarkan suaranya saat melihat kepergian Ezra, begitu juga dengan Endri yang hanya bisa menatap cucunya dengan sendu.
"Ezra, tunggu aku!" panggil Mayra sambil mengikuti langkah Ezra. Dia merasa sedikit kesusahan karena sedang memakai gaun. "Ezra, kau mau-"
"Cukup, Mayra!"
Deg.
Mayra tersentak kaget saat mendengar bentakan Ezra, apalagi saat laki-laki itu berbalik dan menatapnya penuh dengan kemarahan.
"Hentikan. Mau sampai sejauh apa kau melakukan semua ini, hah?" tanya Ezra dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat menahan kemarahan yang ada dalam dada. Kenapa gadis itu selalu ikut campur dengan urusan pribadinya sih?
Mayra terdiam dengan tatapan takut, tetapi dia ingin mencoba bicara baik-baik dengan Ezra, karena dia merasa kasihan melihat ayah laki-laki itu.
"Maafkan aku, Ezra. Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dengan urusanmu, aku hanya, hanya merasa tidak tega dengan om Evan," ucap Mayra dengan jujur.
Ezra berdecak kesal mendengar ucapan Mayra. Laki-laki seperti ayahnya tidak patut untuk dikasihani, bahkan tidak patut untuk diperlakukan dengan baik.
"Aku memang tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya perasaanmu, Ezra. Mungkin aku juga tidak akan sanggup jika menjadi dirimu," sambung Mayra dengan lirih. "Tapi setiap manusia punya salah dan dosa, lalu kita sebagai sesama manusia tidak boleh menghakiminya. Bukankah Allah sudah memberikan balasan atas apa yang sudah ayahmu lakukan?" Dia menatap sendu.
Ezra terdiam. Dia sama sekali tidak ingin membahas tentang sang ayah, apalagi yang membahasnya adalah Mayra, gadis yang dia sukai.
Ezra lalu tersentak kaget saat tiba-tiba Mayra memegang tangannya membuat dia langsung menatap dengan heran. "Sudahlah, aku tidak-"
__ADS_1
"Maaf jika aku melewati batas, Ezra. Tapi sebagai sahabat, aku tidak ingin melihatmu larut dalam kesedihan. Aku ingin melihatmu bahagia seperti dulu, aku ingin melihat senyuman yang selalu menghiasi wajahmu. Aku, aku tidak sanggup melihat penderitaan yang selama ini kau tahan dalam hatimu." Dia menunduk dengan tangan gemetar. Air mata tampak membasahi wajah karena ikut merasakan bagaimana sakitnya Ezra.
Ezra tertegun mendengar ucapan Mayra. Tidak disangka gadis itu akan mengatakan sesuatu yang membuat dadanya berdesir hebat.
"Maaf, maafkan aku," ucap Mayra kembali dengan lirih.
Ezra langsung menarik tangan Mayra lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat, tidak peduli jika saat ini ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, termasuk Evan dan kedua orangtuanya, begitu juga dengan Abbas dan sang istri.
Mayra terisak dalam pelukan Ezra. Jujur saja, dia juga ikut merasa sedih dengan apa yang laki-laki itu alami. Hatinya terasa sakit melihat air mata dan kesedihan dalam sorot kedua mata Ezra, bahkan sampai membuat dadanya terasa sesak.
"Tidak, kau tidak perlu minta maaf, Mayra. Aku mohon jangan menangis," pinta Ezra dengan lembut membuat tangisan Mayra semakin menguat.
Evan dan kedua orangtuanya yang sudah berdiri di belakang Mayra merasa terharu dengan apa yang gadis itu lakukan, sementara Abbas dan Hasna menatap dengan penuh tanda tanya dan tidak mengerti.
"Aku mohon berhentilah menangis, nanti kau tidak bisa foto dengan ibu jika riasanmu rusak," sambung Ezra.
Tangisan Mayra langsung terhenti saat mendengar ucapan Ezra. Dengan cepat dia melerai pelukan itu sambil mengusap wajahnya yang sudah basah karena air mata.
"Benar juga. Makeupku pasti udah luntur karena menangis," ucap Mayra dengan suara serak.
"Ayo, ikut aku! Kau bisa merapikan makeupmu di belakang," ajak Ezra. Dia lalu menarik tangan Mayra dan menjauh dari tempat itu menuju taman yang ada di belakang rumah.
Evan terus menatap kepergian Ezra dan Mayra dengan mata berkaca-kaca. Sungguh hatinya terasa teriris sembilu melihat perhatian yang gadis itu berikan pada putranya, sementara dia yang ayahnya malah hanya bisa memberikan kedukaan.
"Evan!"
Evan tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu menoleh ke arah samping di mana mantan mertuanya sudah berdiri di tempat itu.
Evan langsung menundukkan kepalanya di hadapan Abbas, sementara laki-laki itu menatapnya dengan tajam.
"Se-selamat pagi Tuan," sapa Evan.
Abbas menganggukkan kepalanya, sementara sang istri beralih mendekati Mery dan Endri yang sedang menatap dengan hangat.
__ADS_1
"Selamat datang, Buk Mery dan Pak Endri," ucap Hasna dengan ramah. "Terima kasih sudah datang. Silahkan duduk dan nikmati pestanya." Dia mempersilahkan mereka duduk dengan sopan.
Mery dan Endri langsung mengiyakan ucapan Hasna dengan ucapan terima kasih. Mereka lalu menanyakan keberadaan Ayun saat ini yang ternyata sedang berganti pakaian.
Abbas sendiri hanya diam dan enggan untuk bicara dengan Evan. Namun, dia mencoba untuk tidak membuat keributan dan tidan bersikap kasar pada laki-laki itu. Biar bagaimana pun, putrinya saat ini sudah bahagia dan melupakan masa lalu, walaupun rasa sakitnya pasti masih sangat membekas.
Setelah berbincang dengan orangtua Evan, Hasna lalu mengajak Abbas untuk menyapa para tamu yang lainnya. Terlihat para teman-temannya sudah datang ke tempat itu.
Sementara itu, di dalam kamar tampak Ayun dan Fathir sedang berganti pakaian untuk menyambut para tamu. Terlihat jelas jika sepasang suami istri itu sedang merasa sangat canggung, apalagi hanya berdua di dalam kamar.
"A-aku akan ganti pakaian di kamar mandi," ucap Ayun dengan tergagap, tentu saja dia merasa malu jika berganti pakaian di hadapan Fathir.
Fathir menggelengkan kepalanya, dia yang sedang duduk di atas ranjang beranjak bangun sambil membawa pakaian yang akan dikenakan.
"Kau ganti di sini saja, biar aku yang ganti di kamar mandi," ucap Fathir dengan lembut.
Ayun menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali meletakkan pakaian yang ada ditangannya di atas ranjang. Namun, dia merasa bingung karena Fathir belum pergi ke kamar mandi dan malah diam sambil menatapnya.
"A-ada apa, Mas? Apa Mas berubah pikiran dan ingin ganti di sini?" tanya Ayun dengan heran. "Jika iya maka biar aku yang-"
"Tidak, Ayun. Bukan seperti itu," bantah Fathir sambil menggelengkan kepalanya membuat Ayun semakin merasa bingung. "Aku tidak mempermasalahkan tentang ganti pakaian, aku hanya sedang berpikir tentang malam pertama kita."
Blush.
Wajah Ayun langsung memerah karena malu saat mendengar ucapan Fathir. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya karena tidak sanggup menatap laki-laki itu. Kenapa Fathir membahas tentang malam pertama seperti ini sih?
"Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh suamiku? Kenapa dia membahas tentang malam pertama seperti ini?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.