Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 62. Kabar Buruk.


__ADS_3

Evan mematung di depan pintu rumahnya sambil memegang kertas dari pengadilan agama. Tangannya lama kelamaan meremmas kertas itu sampai lecek dengan emosi yang seakan ingin meledak.


"Cih, untuk apa aku mikirkan dia? Mentang-mentang udah jumpa banyak orang jadi merasa sok hebat, sampai pintar menggugat segala. Liat saja, dia pasti akan menyesal karena ngukuti apa kata orang," gumam Evan dengan kesal.


Evan lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa kertas itu, terlihat kedua orang tuanya sedang duduk di depan televisi. Namun, kenapa televisinya tidak dihidupkan?


"Loh, kok tivi nya gak hidup, Bu? Apa mati?" tanya Evan dengan bingung, dia lalu berjalan ke televisi untul melihat apa yang terjadi.


"Untuk apa ngidupkan tivi? Kami tidak suka melihatnya," ucap Mery dengan cepat membuat Evan yang akan menghidupkan televisi itu urung dilakukan


Evan lalu berbalik dan menatap ibunya dengan heran. "Kalau Ibu gak suka nonton, kenapa Ibu duduk di sini?" Dia bertanya dengan lirih.


Mery tersenyum getir saat mendengar ucapan putranya itu. "Ini adalah tempat di mana menantu dan cucu-cucuku berkumpul. Jadi kami duduk di sini sambil mengingat kenangan bersama mereka."


Deg.


Ucapan sang ibu benar-benar menusuk hati Evan. Bagaimana mungkin ibunya bisa sampai berkata seperti itu?


"Aku memang salah karena sudah marah dan mengusir mereka, tapi aku juga sudah minta maaf. Mereka saja yang tetap keras kepala dan ngotot mau pergi dari rumah ini," ucap Evan dengan tajam. Selalu saja dia yang disalahkan, padahal mereka lah yang keras kepala dan tidak mau mendengar ucapannya.


Mery dan Beni hanya menghela napas kasar dan membung wajah kesal saat mendengar ucapan laki-laki itu, benar-benar tidak punya rasa penyesalan sama sekali.


"Ayah dan ibu tidak usah khawatir, sebentar lagi mereka pasti akan kembali lagi ke sini," sambung Evan dengan takut.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa sepede itu, Evan? Kalau mereka sama sekali tidak datang ke sini lagi bagaimana, hah?" tanya Beni dengan sarkas. Matanya berkilat panuh emosi dengan rahang yang mengeras.


Evan tersenyum simpul saat mendengar ucapan sang ayah. "Itu tidak mungkin, Yah. Memangnya mau makan apa mereka diluaran sana, lagi pula perekonomian jaman sekarang itu susah. Mana mungkin Ayun bisa membawa anakku dan menghidupi mereka." Dia berucap dengan penuh sindiran.


Tanpa menunggu ucapan dari ayah dan ibunya, Evan berjalan naik ke lantai 2 dengan masih tersisa gelak tawa di mulut laki-laki itu. Dia berjalan terusa sampai masuk ke dalam kamar, lalu melempar kertas yang masih ada tangannya ke atas ranjang.


"Bertahan di luar sana begitu saja tanpa uang atau pekerjaan? Heh, lelucon macam apa itu?"


Evan menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah kamar mandi. Hanya tinggal hitungan hari saja mereka keluar dari rumah, setelah itu pasti akan pulang juga.


Sementara itu, di tempat lain Ayun dan Nayla sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan menu makan malam untuk hari ini. Seperti biasa mereka akan saling bercerita tentang apa yang dilakukan hari ini.


"Jadi kau sudah menyewa rumah?" tanya Nayla setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu. Walau mulutnya sibuk bicara, tetapi tangannya tidak berhenti mencincang-cincang daging untuk bahan masakan mereka.


"Sudah. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi nyamanlah untuk kami," ucap Ayun sambil mencuci buah-buahan yang tadi dia beli sebelum sampai di rumah.


"Mana mungkin aku melakukan itu, Nay. Kalau kau tidak punya suami mungkin aku akan tetap tinggal di sini, tapi kau kan punya keluarga sendiri. Jadi enggak pantas kalau aku tetap ada di sini," ucap Ayun sambil mengulas senyum tipis membuat Nayla juga ikut tertawa.


Setelah semua makanan selesai dan tersaji di atas meja, mereka semua segera berkumpul untuk menikmati acara makan malam bersama.


Suara tawa dan senda gurau menggema di tempat itu, padahal Ayun sudah beberapa kali mengingatkan jika makan tidak boleh sambil bicara atau apalagi tertawa


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah menyelesaikan acara makan itu. Kini semuanya tampak berkumpul di ruang keluarga dengan tetap adanya keributan dari anak-anak.

__ADS_1


Selagi semuanya berkumpul, Ayun sekalian mengatakan pada Nayla dan Rio jika besok akan pindah. Apalagi setelah itu dia akan fokus belajar di restoran, jadi jarak tempuhnya juga tidak jauh.


"Baiklah, besok biar kami antar. Jangan menolakanya, Yun," ucap Nayla dengan cepat saat melihat gelagat tidak baik dari Ayun yang akan menolak apa yang mereka berikan.


Pada saat sedang mengobrol, tiba-tiba terdengat dering ponsel Ayun yang berada di dalam kamar. Dengan cepat dia beranjak dari sofa untuk masuk ke dalam kamar dan melihat siapa yang sedang menelpon.


Deg.


"Yuni?"


Ayun melihat ada satu panggilan tidak terjawab dari adikya yang berada di kampung. Dengan cepat dia kembali menghubungi nomor sang adik yang mana tau ada hal penting yang ingin dikatakan.


"Halo, Mbak,"


"Iya, Yuni. Ada apa, kok tumben malam-malam gini nelepon?" tanya Ayun. Biasanya adiknya itu akan menelepon saat siang atau pagi.


"Mbak, Ibu masuk rumah sakit lagi,"


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2