Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 42. Tingkah Remaja.


__ADS_3

Ayun menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya. Terserahlah bagaimana sifat dan karakter Fathir, lagi pula semua itu tidak ada hubungannya dengan dia.


Fathir lalu melajukan mobil itu menuju restoran yang sama dengan Keanu dan Evan. Waktunya sangat pas sekali, jadi hari ini semua berkas bisa disiapkan baik dari pihak Evan maupun pihak Ayun.


Dia menatap jalanan dengan tajam, dan beberapa kali menyalip kendaraan yang melaju di hadapannya. Namun, tiba-tiba Fathir menginjak rem secara mendadak saat melihat seseorang yang sedang berlari di pinggir jalan.


"Astaghfirullah!" pekik Ayun dengan kaget saat tiba-tiba mobil itu berhenti secara mendadak, dan nyaris membuat kepalanya terantuk kursi kemudi yang diduduki oleh Fathir.


Ayun memegangi dadanya yang berdebar kuat. Dia benar-benar merasa sangat terkejut, dan langsung menatap ke arah Fathir dengan tajam.


"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda berhenti mendadak seperti ini?" tanya Ayun dengan heran. Untung saja tidak ada mobil yang melaju kencang di belakang mereka.


Fathir terdiam sambil terus memperhatikan jalanan yang ada di samping kirinya. Benarkah seorang lelaki berseragam sekolah yang sedang berlari tadi adalah putranya?


Kedua tangan Fathir mencengkram setiur mobil itu dengan kuat. Kedua matanya menyala dahsyat, dan rahangnya tampak mengeras saat melihat motor Faiz terparkir di depan salah satu toko.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Ayun sambil menepuk bahu Fathir, membuat laki-laki itu terkesiap. Dia merasa bingung karena Fathir hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Sa-saya baik-baik saja," jawab Fathir. Dengan cepat dia melajukan mobil itu dan membelokkannya ke sebuah supermarket, membuat Ayun semakin dilanda kebingungan.


Fathir segera melepas sealtbelt yang ada ditubuhnya. Dia lalu berbalik dan melihat ke arah Ayun yang sejak tadi menatapnya dengan bingung.


"Maaf, Nona. Bisakah Anda menunggu saya di sini sebentar?" ucap Fathir. "Saya akan kembali dalam 10 menit."


"Anda mau ke mana? Tu-tunggu-" Ayun tersentak kaget dan tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat Fathir keluar dari mobil. Laki-laki itu bahkan tidak mengatakan akan pergi ke mana, benar-benar membuatnya sakit kepala.


Ayun lalu memperhatikan ke arah mana Fathir pergi, dan terlihat jelas jika laki-laki itu sedang sangat terburu-buru.


"Sebenarnya ada apa?" gumam Ayun dengan penasaran. Dia lalu membuka pintu dan bersiap turun dari mobil. Namun, tiba-tiba dia ingat jika tadi Fathir menyuruhnya untuk menunggu di sini. "Sudahlah, aku tunggu di sini saja." Dia lalu kembali duduk dengan tenang, walau perasaannya penuh dengan tanda tanya.


Sementara itu, Fathir yang sudah keluar dari mobil bergegas mencari keberadaan putranya. Dia yakin jika Faiz masih ada di sekitar tempat itu, karena motornya masih ada di sana.


"Lepaskan aku!"

__ADS_1


Fathir terdiam saat mendengar suara seseorang, sontak dia segera mencari dari mana sumber suara itu berasal karena dia yakin jika itu pasti berhubungan dengan putranya.


Deg.


Mata Fathir membulat sempurna saat benar-benar melihat putranya ada di tempat itu. Dengan cepat dia melangkahkan kaki untuk menghampiri Faiz.


"Diam kau! Berani sekali kau-"


"Faiz!" teriak Fathir dengan kuat.


Semua orang yang berada di tempat itu terlonjak kaget saat mendengar teriakan Fathir, sontak mereka melihat ke arah belakang di mana sumber teriakan berasal.


"Pa-Papa?" Faiz tersentak kaget saat melihat keberadaan sang papa di tempat itu, begitu juga dengan ketiga temannya yang lain.


Ada 6 orang lelaki yang berada di tempat itu termasuk Faiz. 3 orang adalah temannya, dan 2 orang lagi mungkin adalah musuh mereka karena terlihat dua orang itu sudah babak belur.


Fathir menggertakkan giginya saat melihat apa yang terjadi. Urat-urat yang ada di sekitar leher tampak menonjol kepermukaan karena sedang menahan kemarahan yang teramat besar.


"Kalian mau pergi sendiri, atau digiring oleh polisi?" tanya Fathir dengan dingin.


Glek.


Teman-teman Faiz menelan salive mereka dengan kasar. Lalu satu persatu mulai pergi meninggalkan tempat itu karena merasa takut, begitu juga dengan dua laki-laki yang wajahnya dipenuhi dengan memar.


Tinggalah Fathir dan putranya saja yang berada di tempat itu dengan jarak beberapa langkah. Udara terasa sesak bagi mereka berdua karena sedang sama-sama menahan emosi.


"Kau memang luar biasa ya, Faiz," ucap Fathir dengan getir. Entah dengan cara seperti apa lagi dia harus menasehati putranya yang selalu saja berbuat onar. Lihat, sekarang masih jam 11 pagi, tetapi Faiz sudah berkeliaran dan bukannya sekolah.


Faiz terdiam saat mendengar ucapan papanya, dia bahkan enggan untuk melihat ke arah laki-laki itu.


Fathir mengusap wajahnya dengan geram. "Baiklah, terserah kau mau melakukan apa. Lakukan saja semuanya, lakukan semua yang kau sukai dan membuatmu puas. Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang melarangmu, dan aku tidak peduli. Tapi ingat, jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah!" Dia berucap dengan tajam.


Faiz yang tadinya memalingkan wajah kini tampak menatap sang papa dengan sinis. Wajah mereka berdua sangat mirip bak pinang dibelah dua, begitu juga dengan sifat keras dan mau menang sendirinya juga sama persis.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Fathir langsung berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu. Sudah cukup. Sudah cukup selama ini dia bersabar dengan semua tingkah yang Faiz lakukan, tetapi sekarang tidak lagi.


"Memangnya kapan Papa pernah peduli padaku, hah?"


Fathir yang sudah menjauh beberapa langkah tampak menghentikan kakinya saat mendengar suara Faiz.


"Lalu, memangnya Papa siapa bisa melarangku pulang ke rumah Opa?"


Fathir langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Faiz dengan tajam, tampak putranya sedang tertawa sinis terhadapnya.


"Papa 'kan memang tidak pernah peduli, jadi terus saja bersikap seperti itu dan jangan menjadi manusia munafik. Ah, aku tahu. Papa pasti ingin terlihat hebat layaknya seorang ayah, kan?" ucap Faiz dengan sarkas. "Itu tidak perlu, karena aku tidak butuh!" Tambahnya dengan penuh penekanan.


Amarah Fathir yang semula sudah surut, kini kembali berkobar saat mendengar ucapan Faiz.


Faiz sendiri merasa tidak peduli. Dengan cepat dia berjalan menghampiri sang papa sekaligus ingin pergi meninggalkan tempat itu.


"Kenapa diam saja, Pa? Ayo kita pergi, jangan sampai oma tahu dan memarahiku lagi karena aduan dari seseorang!"


"Faiz!" bentak Fathir kembali dengan tajam, membuat Faiz terkesiap. "Sekali lagi aku mendengar satu kata saja keluar dari mulutmu, maka aku tidak akan tinggal diam!" Dia menunjuk tepat ke depan wajah Faiz.


"Kenapa, apa Papa akan menghajarku, hah? Apa Papa mau menghajarku sampai mati sama seperti apa yang Papa lakukan pada Mama?"


Plak.





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2