
Adel mengusap perutnya yang terasa kenyang setelah menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Dia bersendawa lalu mengucapkan hamdalah karena sudah selesai makan.
Faiz sendiri sedang sibuk menyusun kotak makanannya yang sudah kosong, tidak disangka ternyata Adel benar-benar menghabiskan makanan yang dia bawa.
"Makanan omaku enak 'kan?" ucap Faiz sambil menoleh ke arah Adel.
Adel menganggukkan kepalanya. "Iya, makanan omamu sangat enak. Tapi, masakan ibuku juga enak." Dia membalas dengan tidak mau kalah.
Faiz ikut menganggukkan kepalanya. "Besok aku akan bawa bekal lagi, kau juga bawa yah." Dia berucap sambil menepuk bahu Adel, membuat gadis itu terkesiap.
"Ke-kenapa kau menepuk bahuku? Dasar!" ucap Adel dengan ketus sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke bahu yang tadi disentuh oleh Faiz.
Faiz terkekeh pelan saat melihat raut wajah Adel, dia lalu beranjak dari kursi saat melihat teman-temannya sudah kembali ke dalam kelas.
"Nanti kita pulang bareng ya, aku juga mau ke rumahmu," ucap Faiz sebelum dia pergi ke kursinya sendiri.
Adel berdecih kesal saat mendengar ucapan Faiz. Dasar bod*oh, bisa-bisanya dia terpedaya oleh laki-laki itu hanya karena makanan. Dia bahkan tadi sampai mengizinkan Faiz datang ke rumahnya ketika laki-laki itu bertanya saat dia sedang makan.
Para siswa yang melihat kedekatan Adel dan Faiz langsung berbisik-bisik dengan penuh dugaan. Mereka berpikir ada sesuatu hal yang terjadi di antara Faiz dan Adel, mungkinkah mereka sedang menjalin hubungan asmara?
"Dasar brandalan! Enak saja dia merebut Adel dariku, aku lebih dulu suka sama dia," ucap siswa bernama Bram. Sudah beberapa bulan ini dia menyukai Adel dan berusaha untuk mendekati gadis itu, tetapi dengan kurang ajarnya Faiz malah menikungnya.
"Kau sih, kurang grecep. Kan jadi dia duluan," sambut siswa yang merupakan teman Bram.
"Iya benar. Kalau dibandingkan Faiz, maka kau kalah saing," sahut yang lainnya.
Bram mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia semakin terbakar emosi saat mendengar ucapan teman-temannya. Padahal dia sudah berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Adel setelah selesai ujian, tetapi ternyata dia telah kalah langkah.
"Cih, lihat saja. Aku pasti akan mendapatkan Adel," gumam Bram dengan tajam.
Sementara itu, di tempat lain terlihat sedang terjadi keributan yang membuat para tetangga berhamburan keluar dari rumah mereka.
Mereka bergegas melihat apa yang terjadi di rumah Evan, karena sejak tadi mereka mendengar suara teriakan seorang wanita. Mungkinkah sedang terjadi drama lagi di rumah itu?
__ADS_1
"Aku tidak akan lagi menyerahkan Suci padamu, Sherly!" ucap Evan dengan tegas. Dia menolak memberikan Suci pada wanita itu.
"Suci adalah anakku, dan kau tidak punya hak apapun padanya!" balas Sherly dengan tajam. Berani sekali laki-laki itu mengambil Suci darinya? Tentu saja dia tidak akan tinggal diam.
Semalam, Sherly terpaksa pulang sampai dini hari karena ada pekerjaan di luar kota. Dia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai asisten pribadi dari pemilik butik tempat ibunya bekerja, dan terpaksa menyewa jasa pengasuh untuk menjaga Suci.
Begitu sampai di rumah, dia kaget karena tidak melihat keberadaan Suci. Dia berpikir mungkin Suci sedang berada di rumah Nirma, dan tidak sadar jika sudah banyak pesan masuk ke dalam ponselnya yang kehabisan daya.
Setelah selesai mandi, Sherly langsung tidur karena sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Lalu keesokan harinya, dia baru mengetahui jika Evan mengambil Suci saat Nirma datang ke rumahnya seorang diri.
Amarah Sherly langsung meledak saat mengetahuinya. Dia segera bersiap-siap dan langsung pergi ke rumah laki-laki itu untuk mengambil putrinya kembali.
"Aku adalah ayah kandungnya, jadi aku berhak untuk mengambilnya darimu!" sahut Evan dengan lantang.
Evan lalu menarik tangan Sherly dengan kuat membuat wanita itu memekik kesakitan, dia membawa Sherly keluar dari rumahnya sebelum membuat Suci kembali menangis.
"Lepaskan aku!" teriak Sherly sambil memberontak, tetapi Evan tetap tidak melepaskan tangannya.
"Aargh!"
"Lebih baik Suci tinggal bersama denganku, Sherly. Kau tidak bisa menjaganya dengan baik, kau bahkan tidak ada waktu untuknya. Jadi lebih baik-"
"Kau bilang apa?" potong Sherly dengan tajam, membuat ucapan Evan terhenti.
Sherly mengibaskan tangan Nirma yang masih memegangi lengannya. Wajahnya berubah merah padam dengan sorot mata penuh kemarahan yang terhunus ke arah Evan.
"Kau bilang aku tidak bisa menjaganya dan tidak ada waktu untuk Suci?" bentak Sherly dengan kuat, suaranya bahkan sampai masuk ke dalam kamar Suci yang sejak tadi meringkuk di balik pintu.
"Apa kau tidak berkaca dengan dirimu sendiri, hah? Kau mengusir dan mencampakkanku, kau bahkan sama sekali tidak peduli dengan Suci. Kau tidak peduli apakah kami hidup atau mati, lalu kenapa sekarang kau mengambilnya dariku, hah?" teriak Sherly dengan bibir gemetaran. Urat-urat yang ada disekitar lehernya sampai menonjol keluar dengan tatapan nyalang.
"Ya, aku memang tidak ada waktu untuk menjaga Suci. Tapi aku seperti itu karena sibuk mencari uang demi masa depannya, demi keberlangsungan hidup kami. Tidak seperti kau yang bisanya hanya mengusir dan mencampakkan anakmu sendiri!" sambung Shelry sambil menunjuk tepat ke wajah Evan.
Seketika suasana berubah menjadi hening. Evan yang sejak tadi menolak kedatangan Sherly langsung bungkam saat mendengar ucapan wanita itu, begitu juga dengan kedua orang tuanya yang sejak tadi berusaha untuk menenangkan mereka.
__ADS_1
"Aku memang bukan ibu yang baik untuk Suci, tapi aku tidak sepertimu yang tega membuangnya begitu saja. Aku, aku tidak akan membiarkan kau merebut putriku. Kembalikan dia padaku!" ucap Sherly dengan berlinang air mata.
Sherly benar-benar terpuruk saat diusir dan diceraikan begitu saja oleh Evan, walau dia sudah meminta maaf atas semua kesalahan yang telah dia lakukan.
Sherly menghabiskan hari-harinya dengan bermandikan air mata. Rasa sakit, sesak, dan pedih terasa melummat seluruh jiwa dan raganya. Apalagi orang-orang terus mencemoohnya di sana-sini.
Saat itu juga dia teringat dengan Ayun, dan dia mengingat semua perbuatan yang telah dilakukan pada wanita itu, dan apa yang sedang dia rasakan mungkin karma atas segala kejahatannya.
Seketika perasaan sesal menghantamnya hingga membuatnya jatuh semakin dalam. Namun, dia tersadar saat menatap Suci, putri kecilnya yang malang. Dia harus keluar dari rasa sakit itu demi anaknya, demi masa depan Suci.
"Aku mohon kembalikan dia padaku, kembalikan-"
"Aargh!"
Sherly tersentak kaget saat mendengar suara teriakan yang sangat kuat, begitu juga dengan Evan dan orang-orang yang ada di tempat itu.
"Su-suci?" pekik Sherly dengan panik saat baru menyadari jika pemilik suara itu adalah putrinya.
Dengan cepat Sherly dan Evan berlari menaiki anak tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi, begitu juga dengan Mery dan juga Endri.
Brak.
Evan membuka pintu kamarnya dengan kasar, begitu juga dengan Sherly yang langsung masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ya Tuhan, Suci!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1