
Fathir yang baru keluar dari ruang pemeriksaan langsung tersenyum lebar saat melihat keberadaan sang kakak. Dengan cepat dia memanggil kakaknya itu hingga membuat Fathan dan yang lainnya menoleh ke arahnya.
"Fathir," gumam Fathan dengan senang saat melihat Fathir, terlihat laki-laki itu sedang berjalan ke arahnya.
Mereka lalu saling berpelukan dengan erat seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu membuat Farhan dan yang lainnya menatap haru, sementara para polisi yang sudah mengetahui permasalahan mereka menatap dengan heran dan terkejut.
"Apa kau baik-baik saja, kau sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Fathan saat sudah melerai pelukannya. Dia menatap Fathir dengan penuh kekhawatiran.
Fathir tersenyum. Kebencian dan kekecewaan yang selama ini ada dalam hatinya untuk sang kakak, kini terasa memudar dan berganti dengan perasaan hangat seperti saat mereka kecil dulu.
"Aku baik-baik saja, bajing*an itu tidak akan bisa melukaiku," ucap Fathir.
Fathan menghela napas lega sambil mencebikkan bibirnya. Dia merasa lega karena melihat keadaan Fathir baik-baik saja, tetapi merasa sebal juga saat mendengar jawaban adiknya itu.
"Tapi syukurlah kau baik-baik saja. Terima kasih karena sudah membalas perbuatan Rian, kakak berhutang banyak padamu," ucap Fathan dengan tulus. Tatapan hangat penuh kasih sayang terpancar untuk Fathir yang dibalas dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Yah, kakak memang berhutang banyak padaku. Seumur hidup kau tidak bisa membalasnya," sahut Fathir sambil bersedekap dada, seolah memberitahu bahwa selamanya Fathan tidak akan bisa membalas semua perbuatan yang telah dia lakukan.
Fathan langsung tergelak mendengar ucapan sang adik, begitu juga dengan Farhan dan yang lainnya. Mereka menggelengkan kepala melihat interaksi antara kakak dan adik itu.
Setelah mengobrol sebentar, Fathan harus segera kembali ke lapas bersama dengan beberapa polisi.
Fathir dan yang lainnya mengantar kepergian Fathan ke halaman kantor polisi, sekaligus untuk pergi dari tempat itu juga.
"Aku pergi, Pa. Titip salam buat mama," ucap Fathan sambil mengusap bahu sang papa.
Farhan menganggukkan kepalanya. Sekilas dia memeluk Fathan, lalu memegang kedua bahu putra sulungnya itu.
"Tetap sehat dan bersabarlah, Nak. Pengacara sudah memberitahu papa tentang jalannya kasus ini, dan ada harapan besar agar kau bisa dibebaskan," balas Farhan dengan sendu.
Fathan mengangguk. Dia lalu melihat ke arah Abbas dan Keanu untuk pamit kembali ke tempatnya, dia juga kembali mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka atas bantuan yang telah diterima.
Setelah berpamitan pada mereka, Fathan lalu beralih pada Fathir yang sedang berdiri di sampingnya. Dia menatap laki-laki itu dengan bangga, dan merasa beruntung punya adik sebaik dan sehebat Fathir.
"Jagalah kesehatanmu, Fathir. Sebentar lagi kau akan menikah, 'kan? Jangan membuat calon istrimu khawatir," ucap Fathan dengan hangat disertai senyuman manis diwajahnya.
__ADS_1
Fathir terkekeh. Dia lalu mengusap bahu sang kakak dengan lembut. "Tentu saja, aku pasti akan selalu menjaga kesehatan supaya Ayun tidak khawatir. Jadi, aku harap kakak juga seperti itu. Tetaplah sehat sampai hari kebebasanmu, sebentar lagi kita akan kembali berkumpul."
Fathan menganggukkan kepalanya. Dia lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam mobil polisi yang sejak tadi sudah menunggunya.
Begitu masuk, mobil tersebut langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tidak lupa Fathan melambaikan tangan kepada mereka semua dengan senyum lebar, seperti seseorang yang akan pergi ke suatu tempat yang indah.
"Aku memang ingin sekali bebas, Fathir. Aku ingin kembali bersama denganmu dan semua keluarga kita, aku juga ingin melihat sudah sebesar apa Faiz saat ini. Tapi jika balasan atas kebebasanku adalah penangkapanmu, maka aku tidak akan terima. Lebih baik aku tetap dipenjara dari pada harus melihatmu menerima hukuman atas kejahatan yang telah aku dan Rian lakukan," gumam Fathan sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil.
Fathan lalu memejamkan kedua matanya ketika teringat saat berada di ruang interogasi beberapa saat yang lalu. Dia sudah mengatakan semuanya dengan jelas pada pihak penyidik, dan berharap mereka menghukum Rian dengan seberat-beratnya.
Bukan hanya itu saja, Fathan juga memohon agar Fathir terbebas dari hukuman. Terlepas dari apa yang terjadi di malam itu, karena memang semua adalah kesalahannya sendiri.
"Tuhan, selama ini aku telah banyak membuat kesalahan dan telah banyak menyakiti adikku sendiri. Sekarang aku tidak mau menyakitinya lagi, aku mohon bebaskan dia dari segala hukuman. Aku mohon," gumam Fathan kembali dengan penuh harap. Hanya itulah yang dia inginkan saat ini.
Sementara itu, Fathir dan yang lainnya juga segera pergi dari kantor polisi begitu Fathan pergi. Namun, mereka tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke rumah sakit di mana Rian berada.
Yah, saat ini Rian masih berada di rumah sakit akibat dihajar habis-habisan oleh Fathir. Dia bahkan sempat mengalami koma selama dua hari akibat luka yang ada disekujur tubuhnya, dan saat ini dia hanya bisa berbaring di atas ranjang karena tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Rian mengalami patah tulang dibeberapa bagian. Mulai dari tangan, kaki, bahkan sampai tulang yang ada di wajahnya juga habis karena tinjuan Fathir. Bukan hanya itu saja, beberapa tulang rusuk dan tulang ekornya juga mengalami masalah, bahkan Dokter mengatakan jika dia bisa saja cacat karena semua itu.
"Lihat, dia sudah seperti mayat hidup sekarang," ucap Farhan saat mereka sudah sampai di rumah sakit, dan sedang melihat keadaan Rian dari luar ruangan.
Keanu tersenyum sinis. "Masih untung dia tidak mati ditangan putra Anda, Om. Fathir benar-benar menghajarnya dengan sepenuh hati." Dia melirik ke arah Fathir yang sedang menatap Rian dengan tajam.
"Padahal aku ingin sekali membunuhnya." Lirih Fathir dengan sarkas. Terlihat jelas kemarahan dikedua sorot matanya, bahkan sejak tadi tangannya sudah terkepal erat.
Farhan tersenyum. Dia lalu menepuk bahu Fathir membuat putranya menoleh. "Kematian terlalu mudah untuknya, Nak. Biarkan dia hidup seperti itu, dia juga harus mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatannya."
Fathir mengangguk. Yah, mungkin begini jauh lebih baik dari pada membunuh bajing*an itu. Mungkin perasaannya akan sangat puas jika membunuh Rian dengan tangannya sendiri, tetapi cuma sampai disitu saja. Laki-laki itu hanya akan mati dan tidak merasakan rasa sakit yang selama ini dia dan Fathan alami.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Kami pastikan dia akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya," ucap salah seorang polisi yang ada di tempat itu.
Farhan mengangguk paham, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu. Kemudian dia mengajak mereka untuk pulang setelah memastikan keadaan Rian.
"Aku ingin menemuinya sebentar, Pa," ucap Fathir sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. Ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Rian saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan menghajarnya lagi atau dia akan benar-benar mati," seru Farhan dengan khawatir.
Fathir tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Tidak, dia tidak akan membunuh laki-laki itu. Dia hanya ingin mengobrol sebentar dan melihat kondisi Rian dari dekat.
Rian yang sedang berbaring di atas ranjang hanya bisa mengedipkan kedua matanya. Jangankan untuk bergerak, untuk bicara saja dia sangat kesusahan.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Rian? Kau belum mati, 'kan?"
Deg.
Rian tersentak kaget saat mendengar suara yang sangat dia kenali. Kedua matanya langsung menajam saat melihat keberadaan Fathir yang sudah berdiri di hadapannya.
"Lihat tatapanmu itu, sepertinya kau sangat ingin sekali membunuhku, ya," sambung Fathir dengan nada ejekan. Kedua tangannya bersedekap dada seolah meremehkan Rian.
Kedua mata Rian berkilat penuh emosi. "K-k-kau, k-kau a-kan kubunuh!" Kedua tangannya yang dibalut perban mulai mengepal.
Fathir langsung tertawa mendengar ucapan Rian. Sungguh laki-laki yang sangat tidak tahu diri sekali.
"Kau ingin membunuhku?" tanya Fathir dengan nada ejekan. "Cobalah berkaca dan sadar dengan kondisimu sekarang, Rian. Bagaimana bisa kau membunuhku dengan tubuh cacatmu itu, hah?" Dia berucap dengan sarkas.
Wajah Rian langsung merah padam dengan kemarahan yang luar biasa. Darahnya terasa mendidih mendengar ucapan Fathir, dia benar-benar ingin sekali membunuh laki-laki itu saat ini juga.
Fathir lalu berjalan ke samping ranjang agar bisa lebih dekat dengan Rian. Dia mencondongkan tubuhnya lalu memposisikan mulutnya berada tepat ditelinga laki-laki itu.
"Aku ucapkan selamat untuk tubuh cacatmu itu, Rian. Bagaimana, kau suka dengan maha karyaku, 'kan?" bisik Fathir dengan sarkas membuat Rian langsung mengerrang murka. "Ups, jangan marah seperti itu, Rian. Kau harus tetap menjaga kesehatanmu. Aku tidak ingin kau mati, karena masih ada hukuman yang sedang menantimu saat ini."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1