Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 163. After Sah.


__ADS_3

Dengan pelan dan penuh keanggunan, Ayun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang ada di lantai satu. Semua mata langsung melihat ke arah tangga saat mendengar suara langkah kakinya, termasuk Fathir yang menatap dengan tajam.


Semua orang menatap kagum dan terpesona melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Ayun. Apalagi dalam balutan pakaian adat sunda berwarna putih dengan siger yang terpasang dikepala, menambah keanggunan dalam dirinya.


Fathir sendiri terus menatap Ayun dengan tajam. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada, disertai getaran yang membuat jiwanya menggelora. Sungguh kecantikan Ayun membuat kedua matanya tidak bisa berpaling.


"Masyaallah, Ibu cantik sekali," ucap Ezra yang sejak tadi menatap sang ibu dengan kagum, membuat Fathir tersadar dari lamunan.


Dengan cepat Fathir berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Ayun. Senyum tulus tercetak jelas diwajahnya, dengan tatapan penuh cinta dan binar kebahagiaan yang membuat semua orang ikut merasa bahagia.


Ayun yang sejak tadi tersenyum sambil menatap semua orang, kini bertatapan langsung dengan Fathir. Seorang lelaki yang sebentar lagi akan berstatus sebagai suaminya.


Sesaat pandangan mereka berdua bertemu dan saling menatap kagum, juga mengalirkan jutaan cinta yang terpancar jelas diwajah mereka.


Debaran jantung keduanya pun semakin menguat. Bak seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta dan baru pertama kali saling melihat, hingga membuat binar-binar cinta bertebaran ke seluruh penjuru tempat.


"Ehem. Bisa kita mulai acaranya?" seru pak penghulu membuat Fathir dan Ayun terlonjak kaget hingga sadar dari lamunan mereka.


"Iyalah iya, yang merasa dunia milik berdua. Kami kan hanya numpang sewa," ucap Nindi dengan nada ejekan membuat semua orang terkikik geli, sementara Fathir dan Ayun merasa malu dengan wajah merah merona melihat semua orang menertawakan mereka.


Fathir lalu kembali duduk di tempatnya semula setelah berhasil menenangkan diri, begitu juga dengan Ayun yang duduk di samping sang calon suami.


Pak penghulu lalu kembali bertanya pada Fathir dan Ayun, apakah mereka berdua sudah siap untuk melaksanakan akad pada saat ini.

__ADS_1


"Insyaallah kami siap, Pak," ucap Fathir dan Ayun secara bersamaan.


Pak penghulu menganggukkan kepalanya lalu meminta semua orang agar tenang, karena acara akad akan segera dilaksakan.


Dengan gagah dan penuh percaya diri, Fathir menjabat tangan pak penghulu yang akan menjadi wali nikah Ayun, dikarenakan sesuatu hal yang menghalangi Abbas untuk menjadi wali nikah wanita itu, walaupun Abbas adalah ayah kandung Ayun.


"Bismillahirrahmanirrahim, dengan rahmat Allah yang maha kuasa. Saudara Fathir Alfarizi," ucap pak penghulu dengan lantang.


"Saya, Pak."


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ayundya Nadira Husein binti Hasna Al-mawari Husein, dengan wali hakim dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan berlian dibayar tunai." Pak penghulu menghentakkan tangannya agar langsung disambut oleh Fathir.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayundya Nadira Husein binti Hasna Al-Mawari Husein dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ...," ucap Fathir dengan lantang. Suasana yang senyap membuat suaranya menggema di tempat itu dengan kuat.


"Sah!" ucap para saksi dan semua orang yang ada di tempat itu.


"Alhamdulillah." Semua orang mengucap syukur atas bersatunya Fathir dan Ayun.


Seketika suasana berubah meriah dan penuh keharuan setelah akad selesai dilaksanakan, terutama untuk anak-anak Ayun dan Fathir yang menangis haru melihat pernikahan orangtua mereka.


Ayun sendiri juga tidak kuasa menahan air mata yang langsung terjun bebas diwajahnya. Rasa senang, sedih, dan terharu bercampur jadi satu dalam hatinya. Sungguh semua ini terasa seperti mimpi indah yang datang dalam kehidupannya.


Begitu pula dengan Fathir yang langsung mengucap syukur karena telah menjadikan Ayun sebagai istrinya, juga pendamping hidupnya sampai maut memisahkan.

__ADS_1


Setelah kepahitan yang terjadi dalam hidup mereka, tidak pernah sedikit pun ada dalam benak Ayun dan Fathir melakukan pernikahan untuk yang kedua kalinya.


Namun, ternyata takdir Tuhan mempertemukan mereka dan mempersatukan mereka dalam ikatan cinta suci. Sungguh sebuah kebahagiaan yang rasanya sangat tidak nyata, hingga membuat hati mereka bergejolak dengan tangisan penuh keharuan.


Semua keluarga juga menangis haru menyaksikan momen kebahagiaan Ayun dan Fathir. Mereka menjadi saksi hidup betapa kejam dan tragisnya kehidupan yang telah Ayun dan Fathir jalani, hingga kini sepasang suami istri itu menuai kebahagiaan yang selayaknya mereka dapatkan.


Adel, Ezra, dan Faiz langsung memeluk kedua orangtua mereka dengan erat disertai tangisan saat kata sah menggema di tempat itu. Mereka tidak dapat membendung kebahagiaan atas bersatunya kedua orangtua mereka, dan berharap agar keluarga mereka akan selalu dilimpahkan kebahagiaan untuk selama-lamanya.


"Kami benar-benar beruntung memiliki anak-anak seperti kalian. Terima kasih, terima kasih karena telah mempersatukan kami. Papa sangat menyayangi kalian dan bangga karena menjadi orangtua kalian," ucap Fathir dengan sendu sambil menatap wajah ketiga anak yang sangat dia sayangi.


Ayun yang sejak tadi menangis semakin terisak mendengar ucapan Fathir. Yah, selama ini anak-anak merekalah yang sudah membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat, hingga akhirnya berlabuh dalam sebuah ikatan pernikahan.


"Papa kalian benar, Nak. Terima kasih karena sudah menjadi anak-anak yang baik. Ibu sangat bangga pada kalian."





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2