Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 98. Kembali Bertemu.


__ADS_3

Abbas tercengang saat melihat kedua mata Fathir berbinar-binar. Baru kali pertama dia melihat laki-laki itu sampai berbinar seperti ini.


"Kalau gitu semangatlah, Fathir. Kami akan selalu mendukungmu," ucap Abbas kemudian.


Fathir menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih, lalu mereka masuk ke mobil masing-masing dan berlalu pergi dari tempat itu.


***


Malam harinya, tepat pukul 8 Fathir baru sampai di rumah karena harus mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Dia bergegas turun dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Fathir saat memasuki rumah. Terdengar sahutan salam dari Faiz yang sedang menuruni anak tangga.


"Papa baru pulang?" tanya Faiz saat melihat kedatangan papanya.


Fathir mengangguk sambil menyodorkan sesuatu untuk Faiz. "Ambillah, tadi papa beli kfc."


Faiz mempercepat langkahnya untuk menghampiri sang papa dengan senyum lebar. Papanya tahu saja jika saat ini dia sedang lapar.


"Kenapa sepi sekali, ke mana semua orang?" tanya Fathir sambil melonggarkan dasi. Dia lalu duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya.


Faiz menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Tadi pas pulang main bola, di rumah udah gak ada orang. Bik Jum juga enggak ada." Dia mengendikkan bahu tidak tahu.


Fathir mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Faiz. Kira-kira ke mana orang tuanya? Seingatnya, hari ini sang mama bertugas di pagi hari, jadi tidak mungkin di rumah sakit.


"Tapi bisa juga jika ada keadaan yang mendesak," gumam Fathir. Sudahlah, dia lalu beranjak naik ke lantai dua menuju kamar. Dia ingin segara mandi, setelah itu makan dan terlelap.


Beberapa saat kemudian, Fathir sudah selesai mandi. Dengan memakai kaos santai berlengan pendek dan celana selutut, dia berjalan menuruni anak tangga menuju dapur untuk menikmati makan malam.


"Pa!"


Fathir yang sedang memindahkan nasi ke atas piring menoleh ke arah tangga saat mendengar panggilan Faiz. "Ada apa, kenapa kau teriak seperti itu?" Dia bertanya dengan tajam.


Faiz mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri sang papa sambil membawa ponsel. "Kakek nelepon, katanya ponsel Papa gak aktif." Dia memberikan benda pipih itu kepada papanya.


Fathir segera mengambil ponsel itu untuk berbicara dengan sang papa. Sangking fokusnya bekerja, dia sampai lupa jika ponselnya kehabisan daya.


"Halo, Pa. Ada apa?" tanya Fathir saat sudah menempelkan ponsel itu ketelinganya.


"Halo, Fathir. Bisakah sekarang kau ke rumah sakit?"


Fathir mengernyitkan kening heran saat mendengar ucapan sang papa. "Rumah sakit? Untuk apa, Pa?"


"Papa akan ceritakan nanti, Nak. Sekarang kau datang saja ke sini, mama juga sedang bersama dengan papa. Ajak Faiz juga," ucap Farhan. Panggilan itu lalu terputus begitu saja sebelum dijawab oleh Fathir.

__ADS_1


Fathir menghela napas heran dengan apa yang papanya katakan. Untuk apa dia harus datang ke rumah sakit, apa papanya sedang sakit?


Dengan gontai Fathir kembali berjalan menaiki tangga untuk memanggil Faiz. Dia sampai tidak sempat untuk makan karena sudah didesak-desak oleh sang papa.


"Ayo ikut papa, Faiz. Kita harus ke rumah sakit!" ajak Fathir saat sudah masuk ke dalam kamar Faiz.


Faiz langsung bertanya untuk apa mereka pergi ke rumah sakit, tetapi papanya tidak bisa menjawab karena memang tidak tahu.


Mereka lalu bergegas pergi menuju rumah sakit sesuai dengan apa yang Farhan inginkan. Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Fathir lalu menyuruh Faiz untuk menghubungi opanya dan bertanya sedang berada di mana mereka saat ini, karena dia malas bertanya pada bagian administrasi.


"Opa sedang berada di ruang ICU, Pa."


Fathir mengangguk. Mereka lalu segera pergi ke ruang ICU untuk melihat sebenarnya apa yang sedang terjadi, sampai mereka harus datang ke rumah sakit dengan terburu-buru seperti ini.


"Apa ada keluarga yang sakit, Pa?" tanya Faiz sambil berjalan di samping papanya.


Fathir menggelengkan kepala. "Tidak, papa tidak pernah mendapat-"


Deg.


Tiba-tiba ucapan Fathir terhenti saat baru teringat akan sesuatu. Dia juga menghentikan langkah kakinya saat merasa curiga dengan semua ini, apalagi papanya tidak mau mengatakan secara langsung alasan kenapa menyuruhnya ke rumah sakit.


Faiz tersentak kaget saat mendengar gumaman sang papa, dia beralih menatap papanya itu dengan bingung dan terheran-heran.


"Ada apa, Pa?" tanya Faiz dengan takut dan khawatir.


"Si*al!" umpat Fathir dengan marah tanpa peduli dengan pertanyaan putranya. "Ayo kita pulang, Faiz!" Dia lalu berbalik sambil mengajak putranya untuk kembali pulang.


Faiz semakin dilanda kebingungan dengan apa yang terjadi, apalagi saat melihat kemarahan diwajah sang papa.


"Fathir!" panggil Farhan yang tidak sengaja melihat keberadaan Fathir dan Faiz. Dengan cepat dia menghampiri mereka yang sepertinya akan pergi dari tempat ini.


Fathir yang sudah berbalik tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dugaannya pasti benar jika Fathan dirawat di rumah sakit ini.


"Kalian mau ke mana? Ayo, papa sudah sejak tadi-" Ucapan Farhan terhenti saat tangannya yang akan memegang lengan Fathir di hempaskan.


"Kenapa, apa Papa ingin membawaku menemui bajing*an itu?" ucap Fathir dengan sarkas, dia menoleh ke arah belakang dan menatap papanya dengan tajam.


Farhan terdiam saat mendengar ucapan putranya, sementara Faiz hanya bisa menatap papa dan kakeknya dengan bertanya-tanya.


"Nak, tolong dengarkan papa dulu," pinta Farhan dengan pelan. "Saat ini kondisinya sedang kritis, dia hanya ingin-"

__ADS_1


"Aku tidak peduli!" potong Fathir dengan cepat. "Aku juga bukan Tuhan yang bisa menyembuhkannya. Jadi jangan paksa aku lagi untuk melihat bedeb"ah itu."


Faiz membulatkan kedua matanya melihat kemarahan yang sangat besar diwajah sang papa. Mungkinkah saat ini bedeb*ah yang papanya maksud adalah pamannya?


Farhan sendiri menatap Fathir dengan sedih. Dia tahu jika putranya itu sudah sangat menderita akibat perbuatan Fathan, tetapi saat ini Fathan benar-benar sedang kritis.


"Papa mohon, Nak. Sekali ... saja. Papa tahu kalau dia itu penjahat, dia laki-laki brengs*ek, dia bahkan bukan manusia. Tapi papa mohon lihatlah dia sekali saja, demi papa," pinta Farhan sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Fathir dan Faiz tersentak kaget saat tiba-tiba papa Farhan bersimpuh di hadapan mereka. "Apa yang Papa lakukan?" Bentak Fathir dengan tajam.


"Tolong, Nak. Tolong kabulkan permohonan papa ini, papa mohon." Farhan terus memohon agar Fathir mau sekali saja bertemu dengan Fathan.


Tidak peduli jika orang-orang menganggapnya orang tua yang egois, dia hanya tidak ingin di ujung napas putra sulungnya itu, menyimpan penyesalan yang sangat besar karena tidak bisa melihat Fathir.


Fathir mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia tidak bisa membiarkan papanya terus seperti ini, tetapi dia juga tidak mau bertemu dengan laki-laki itu.


Tiba-tiba Fathir menoleh ke arah Faiz saat putranya itu menggenggam tangannya. Mata mereka saling bertatapan, seolah Faiz sedang mengatakan jika akan selalu mendukungnya.


Fathir menghela napas kasar. Dia lalu membungkuk dan memegang kedua bahu sang papa. "Baiklah, aku akan menemuinya."


Farhan langsung memeluk tubuh Fathir dengan erat saat mendengarnya, mereka semua lalu bergegas pergi ke ruang ICU untuk melihat keadaan Fathan.


"Fathir?" gumam Alma sambil beranjak dari kursi saat melihat kedatangan Fathir. "Kenapa kau di sini, Nak?" Dia bertanya sambil melirik ke arah sang suami dengan tajam, pasti suaminya yang menyuruh Fathir datang ke rumah sakit.


"Aku ingin melihatnya," jawab Fathir, membuat Alma tersentak kaget. Tanpa mempedulikan ucapan sang mama, dia berjalan masuk ke dalam ruangan Fathan yang memang sedang terbuka.


Jantung Fathir berdebar keras dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh. Wajahnya juga berubah pucat dengan napas mulai memburu hingga membuat dadanya terasa sesak.


Deg.


"Fa-Fathir, Fathir," ucap Fathan saat melihat keberadaan Fathir di ambang pintu.


Seluruh tubuh Fathir terasa memanas saat kembali melihat wajah Fathan. Kejadian demi kejadian di masa lalu terasa kembali menari-nari dipelupuk mata.


"Maafkan aku, Fathir. Maafkan kakak."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2