
Sherly terlonjak kaget saat mendengar ucapan polisi, membuat orang-orang yang ada di tempat itu menjadi ribut dan berbisik-bisik.
"A-apa yang Anda katakan? Saya, saya tidak melakukan apapun!" bantah Sherly sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi, Nyonya. Ayo, bawa dia!" perintah polisi itu pada rekannya yang lain.
"Tidak, tunggu. Ini, ini salah paham. Saya tidak melakukan apapun, saya tidak bersalah!" teriak Sherly dengan panik saat dua orang polwan memegangi kedua tangannya.
Keadaan kedai es krim itu seketika menjadi ramai atas penangkapan Sherly. Baik para karyawan dan pelanggan yang datang sama-sama terkejut dengan apa yang terjadi, bahkan orang-orang yang ada di samping tempat itu juga tampak penasaran saat melihatnya.
"Berhenti, apa-apaan ini!" teriak Sella yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerja Sherly bersama dengan Suci, karena mendengar ada suara keributan di tempat itu.
Sherly langsung berbalik dan menatap sang mama dengan nanar. "Tolong aku, Ma. Aku tidak bersalah, lepaskan aku!" Dia memberontak dan mencoba untuk melepaskan pegangan kedua polwan itu.
"Jangan memberontak, Nyonya. Atau petugas akan menyeret paksa untuk ikut ke kantor polisi," ucap salah satu polwan tersebut.
Sella segera menurunkan Suci dari gendongannya dan berlalu menghampiri mereka. "Lepaskan anakku, dia tidak bersalah!" Dia menarik tangan salah satu polwan yang memegangi Sherly, tetapi langsung ditepis oleh polwan tersebut.
"Be-benar, aku tidak bersalah!" bantah Sherly lagi, dan berusaha untuk melepaskan diri.
"Tolong bersikap kooperatif, Nyonya. Anda bisa menyewa pengacara dan menjelaskannya di kantor, sekarang silahkan ikut dengan kami."
Mereka lalu membawa paksa Sherly walau wanita itu terus mengatakan tidak bersalah dan memberontak, sementara Sella juga berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya tetapi tidak digubris oleh pihak yang berwajib.
__ADS_1
Akhirnya, Sherly digiring ke kantor polisi dengan kedua tangan diborgol. Dia tidak bisa melakukan penolakan apapun lagi saat ini, dan pasrah dibawa ke kantor polisi.
Semua orang yang ada di tempat itu langsung dibubarkan oleh beberapa karyawan kedai, karena mereka mulai merusuh dan menggosipi penangkapan yang terjadi pada Sherly.
Sella sendiri sedang panik dan tidak tahu harus melakukan apa. "Sia*l sia*l sia*l. Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa, kenapa dia bisa sampai ketahuan?" Dia mengumpat kesal dengan apa yang terjadi.
Sekarang apa yang harus Sella lakukan? Dia bingung dan tidak tahu harus melakukan apa, tetapi yang pasti dia harus segera ke kantor polisi dan menghubungi Evan untuk mengatakan apa yang telah terjadi.
Sementara itu, di kantor polisi terlihat Evan sedang terdiam kaku saat melihat apa yang ada di atas meja. Dadanya berdegup kencang, dengan napas yang tercekat ditenggorokan ketika melihat beberapa foto Sherly dan Nia saat sedang melakukan transaksi.
"I-ini, ini-" Lidah Evan bahkan terasa kaku untuk digerakkan dan tidak bisa mengeluarkan suara.
"Ini adalah bukti-bukti yang kami dapatkan," ucap polisi yang menunjukkan bukti-bukti itu ke hadapan Evan. Dia juga menjelaskan semua keterangan dari para saksi yang mendukung bukti-bukti bahwa Sherly lah yang menjadi tersangka atas kasus ini.
"Kenapa? Kenapa Sherly melakukan semua ini, kenapa dia mengkhianatiku?" Evan merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sedang dia lihat saat ini. Dia lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit, bahkan napasnya juga masih terasa sesak saat ini.
"Lalu, bagaimana dengan Nia dan Burhan? Mereka jelas terlibat dalam kasus ini?" tanya Hery, dia tidak akan bisa terima jika sepasang istri itu bebas begitu saja sementara mereka yang mendapatkan formulir tersebut.
"Untuk saat ini status mereka masih sebagai saksi, tetapi tidak menutup kemungkinan jika nanti akan berstatus sebagai tersangka," jawab polisi tersebut.
Evan mencengkram kedua tangannya dengan erat saat mendengar kata demi kata yang polisi itu ucapkan. Tidak, dia tidak akan membiarkan semua ini begitu saja. Dia harus segera menemui Sherly dan meminta penjelasan wanita itu tentang apa yang terjadi, memangnya apa alasan wanita itu mengkhianatinya seperti ini?
Brak.
__ADS_1
"Brengs*ek!" Evan memukul meja dengan kuat dan mengumpat kesal. Dia segera beranjak pergi dari tempat itu dengan wajah merah padam menahan amarah, membuat Hery panik dan segera mengikutinya.
"Sherly!" gumam Evan dengan suara tertahan. Rahangnya mengeras dengan urat-urat menonjol ke permukaan, kedua tangannya juga terkepal erat menahan kemarahan yang sedang dirasakan saat ini.
Tepat saat Evan keluar dari kantor polisi, Sherly juga keluar dari mobil dan segera dibawa ke arah tempat itu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Mata Evan menyala dahsyat saat melihat wanita itu, sementara Sherly sendiri menundukkan kepalanya sambil mencoba memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Evan mengetahui semua ini.
"Sherly!" teriak Evan sambil melangkah mendekati wanita itu, membuat Sherly terkesiap dan mendongakkan kepalanya.
Deg.
Dada Sherly berdegup kencang saat melihat keberadaan Evan, sontak dia meneteskan air mata menyesal karena telah melakukan kesalahan.
"Evan, Evan tolong aku. Aku, aku tidak bersalah. Aku-"
"Kenapa, kenapa, Sherly? Kenapa kau mengkhianatiku seperti ini?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.