Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 125. Pemeriksaan Kecocokan.


__ADS_3

Ayun mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan sang ibu, begitu juga dengan Abbas yang merasa heran kenapa wanita itu menyuruh Ayun untuk duduk di sampingnya.


Sementara itu, Yuni yang juga berada di dalam ruangan itu hanya tersenyum tipis. Dia sudah mendengar semua kebenaran tentang Abbas dan Ayun dari ibunya, tepat di saat keadaan mereka sudah baik-baik saja.


Ayun lalu menganggukkan kepalanya dan segera duduk di samping Abbas walau merasa bingung, dia lalu menatap sang ibu dengan penuh tanda tanya.


"Ayun." Hasna menggenggan tangan putrinya dengan erat. "Ada sesuatu yang ingin ibu katakan padamu, ibu harap kau bisa menerima ucapan ibu dan memaafkan semua yang sudah ibu lakukan."


Ayun mengerti sekarang ke mana arah pembicaraan sang ibu. Apa yang ibunya katakan jelas mengarah pada hubungannya dan Abbas, karena hanya itu satu-satuya rahasia yang ibunya simpan dari semua orang.


"Hasna," ucap Abbas dengan pelan membuat Hasna beralih melihat ke arahnya, begitu juga dengan Ayun dan Yuni. "Aku sudah mengatakan semuanya pada Ayun."


Deg.


Hasna terpaku menatap Abbas saat mendengar ucapan laki-laki itu. Dia tidak menyangka jika Abbas bergerak cepat dan memberitahukan semuanya pada Ayun.


"Ibu."


Hasna tersentak kaget saat tangan Ayun menggenggam tangannya, dengan cepat dia melihat ke arah putrinya dengan sendu. "Ayun, kau, kau sudah-"


"Iya, Ibu. Aku sudah mendengar semuanya dari Tuan Abbas," potong Ayun dengan cepat sambil mengulas senyum tipis, dia ingin menunjukkan pada sang ibu jika dia baik-baik saja.


Air mata langsung menetes membasahi wajah Hasna saat melihat senyum tulus terlukis diwajah Ayun, dia lalu menundukkan kepalanya dengan terisak.


"Kenapa Ibu menangis?" Ayun beranjak dari kursi dan berpindah duduk ke ranjang sang ibu. Dia lalu menarik tubuh ibunya dan memeluk dengan erat.


"Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu," ucap Hasna dengan lirih. "Maafkan ibu yang telah menyembunyikan semuanya darimu." Dia benar-benar merasa bersalah, karena keegoisannya membuat hati Ayun menjadi terluka.


Ayun menggelengkan kepalanya. "Jangan meminta maaf, Bu. Ibu tidak melakukan kesalahan apapun." Dia memberi bantahan. "Aku tahu apa yang ibu lakukan adalah untuk kebaikan dan kebahagiaanku, jadi aku mohon jangan menangis." Dia ikut terisak karenanya.


Abbas menatap kedua wanita itu dengan sendu, beberapa kali dia mengusap air mata yang berhasil keluar dari sudut matanya. Begitu juga dengan Yuni yang ikut terisak pilu, tidak disangka bahwa dia dan sang kakak ternyata tidak saudara kandung.

__ADS_1


"Ibu sangat menyayangimu, Nak. Ibu hanya tidak ingin kau menjadi bahan ejekan orang lain, terutama keluarga kita sendiri," ucap Hasna dengan terbata-bata.


"Aku tau, Bu." Ayun menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk menenangkan sang ibu.


Ayun sadar bagaimana jadinya orang-orang di kampung tempatnya tinggal jika mengetahui jika sang ibu sudah hamil sebelum menikah. Apa lagi keluarga mendiang ayahnya tidak terlalu menyukai sang ibu, pasti mereka tidak akan terima dengan apa yang terjadi.


"Semuanya sudah berlalu, Bu. Dan apa yang terjadi ada hikmahnya untukku. Jika tidak seperti itu, mungkin aku dan ayah tidak akan mempunyai hubungan yang sangat dekat antara anak dan orang tua," ucap Ayun setelah ibunya merasa tenang.


Andai sejak awal Ayun tahu jika laki-laki yang dipanggilnya ayah bukan ayah kandungnya, pasti terjadi kerenggangan antara dia dan sang ayah. Namun, selama mendiang ayahnya hidup. Mereka memiliki hubungan yang sangat erat, bahkan ayahnya adalah orang terdepan yang selalu melindungi dan memastikan jika keadaannya baik-baik saja.


Hasna menganggukkan kepalanya lalu mengecup kening Ayun dengan sayang, dia merasa terharu karena Ayun bisa menerima semua kebenaran yang terjadia antara dia dan Abbas.


Ayun lalu melihat ke arah Abbas yang sejak tadi menatap mereka. "Saya, saya tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi, saya ingin minta maaf karena telah berkata tidak sopan pada Anda." Dia merasa bersalah atas perilaku yang dilakukan waktu itu.


Abbas tersenyum saat mendengarnya. "Tidak apa-apa, Nak. Papa mengerti, dan apa yang kau lakukan itu adalah hal wajar. Papa pantas mendapatkannya."


Ayun mengulas senyum lebar sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi, hatinya terasa hangat saat mendengar Abbas menyebut kata papa.


"Papa memang laki-laki yang sangat egois. Tapi, bolehkah papa mendengarmu memanggilku?" ucap Abbas dengan lirih, membuat Ayun terkesiap.


"Jika kau tidak bersedia, maka papa tidak akan-"


"A-apa Papa udah makan?" ucap Ayun dengan cepat sambil menahan rasa malu dan juga canggung.


Abbas tersenyum lebar saat mendengar ucapan Ayun, begitu juga dengan Hasna dan Yuni yang merasa senang karena Ayun bisa menerima semuanya.


"Nanti papa akan makan bersama dengan Keanu," jawab Abbas dengan wajah berseri-seri.


Mendengar nama Keanu disebut, membuat Ayun mengingat obrolannya dengan laki-laki itu beberapa saat yang lalu. Kini ibunya sudah mengetahui semuanya, maka tidak ada alasan lagi untuk dia menyembunyikan masalah Nindi.


"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada kalian semua," ucap Ayun, membuat semua orang langsung melihat ke arahnya.

__ADS_1


Ayun lalu menceritakan tentang apa yang dia bicarakan dengan Keanu tadi, sekaligus mengatakan jika dia bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Nindi.


Abbas merasa sangat terkejut dan tidak menyangka jika Keanu akan langsung menemui Ayun dan meminta bantuan wanita itu, padahal dia datang menemui Ayun juga untuk meminta hal yang sama.


"Maafkan kami, Nak. Seharusnya kami tidak membebanimu dengan hal seperti ini, apalagi kau-"


"Tidak apa-apa, tu-eh Pa," potong Ayun dengan tergagap, lidahnya belum terbiasa memanggil Abbas dengan sebutan papa. "Aku senang bisa membantu Nindi, dan apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan bantuan yang selama ini dia berikan."


Abbas menatap Ayun dengan sendu, dia takut jika wanita itu dan yang lainnya menganggap mereka hanya memanfaatkan Ayun saja untuk kepentingan Nindi.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Tuan," ucap Hasna, membuat Abbas terkesiap. "Saya tahu apa yang sedang Anda pikirkan saat ini, tapi percayalah jika Ayun benar-benar tulus menyayangi adiknya." Dia berucap dengan lembut sambil menatap ke arah Ayun.


Abbas menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada Ayun, setelah itu dia pamit untuk menemui Keanu dan berbicara dengan Dokter.


***


Setelah Ayun bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Nindi, Dokter segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Mereka berharap agar sel punca Ayun cocok dengan Nindi, agar masih ada harapan untuk kesembuhan wanita itu.


Ayun menjalani rangkaian pemeriksaan dengan serius. Dia terus berdo'a agar keadaan Nindi baik-baik saja dan sel mereka cocok, karena dia ingin sekali memeluk tubuh adiknya itu dengan erat.


Setelah selesai menjalani pemeriksaan, Ayun masuk ke dalam ruangan Nindi dengan menggunakan pakaian yang disiapkan oleh pihak rumah sakit. Dia menatap wanita itu dengan sendu, lalu duduk tepat di samping ranjang.


"Maaf karena baru bisa menjengukmu sekarang, Nindi. Kau baik-baik saja 'kan?" ucap Ayun dengan sendu, dan mencoba untuk menahan air matanya.


"Kau tau, Nindi. Aku sudah bicara dengan tuan Abbas, dan mengetahui semuanya. Awalnya aku merasa kaget dan tidak percaya, tapi dibalik semua itu, aku sangat senang karena kaulah yang menjadi adikku." Ayun mengusap air matanya yang menetes.


"Kau ingin memanggilku mbak, 'kan? Maka bertahanlah, karena mbak juga ingin memanggilmu adik lalu memelukmu dengan erat. Bertahanlah adikku, mbak menunggumu di sini."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2