
Evan semakin menundukkan kepalanya dengan bibir terkatup rapat saat mendengar pertanyaan sang ibu. Sebenarnya dia sudah meminta maaf pada kedua anaknya, tetapi permintaan maaf itu tidak dibarengi dengan perasaan penyesalan yang teramat dalam seperti ini.
"Masih ada waktu untuk berubah, Evan. Jangan kau sia-siakan semuanya," sambung Mery kembali sambil mengusap kepala Evan yang berada di pangkuannya.
Tidak tahu entah sudah berapa lama Mery tidak bicara seperti ini pada putra semata wayangnya itu. Apalagi sejak pernikahan kedua Evan terungkap, keadaan terus memanas bahkan sampai menghancurkan keluarganya sendiri.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Endri mendengar semua percakapan istri dan juga anaknya. Dia bersandar di balik dinding dengan diam, pandangannya menatap lurus ke depan dengan perasaan yang menyesakkan dada.
"Benar, dia harus segera memperbaiki hidupnya dan juga hubungannya dengan anak-anaknya. Terutama Ezra, aku yakin anak itu pasti sangat membenci ayahnya." Endri menghela napas kasar.
Beberapa hari yang lalu dia mencoba untuk menghubungi nomor Ezra, tetapi nomor ponsel cucunya itu sudah tidak aktif lagi. Mungkinkah Ezra ganti nomor? Entahlah, dia merasa tidak yakin. Dia lalu ingin menanyakannya pada Adel, tetapi perasaan bersalah membelenggunya.
Namun, bukan hanya Ezra dan Adel saja yang harus dipikirkan, tetapi Suci juga. Entah kenapa dia merasa sangat khawatir dengan gadis kecil itu.
Walau Suci terlahir dari rahim wanita yang sudah menghancurkan keluarganya, tetap saja gadis kecil itu tidak tahu apa-apa dan tidak salah apapun. Suci patut dikasihani dalam hal ini, apalagi dia tinggal bersama Sherly yang sudah jelas bagaimana tingkah dan perilakunya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang sibuk di dalam ruang kerjanya. Hari ini, dia memutuskan untuk mulai bekerja walau pun masih dalam tahap belajar.
Tok, tok. "Buk, saya David." David mengetuk pintu ruangan sang atasan sambil membawa beberapa berkas ditangannya.
"Masuklah."
David segera membuka pintu ruangan itu dan masuk saat mendapat jawaban dari dalam, terlihat seorang wanita dengan memakai stelan kemeja berwarna putih dan celana kantor berwarna abu-abu sedang tersenyum ke arahnya.
"Ini berkas untuk proyek tahun lalu, Bu. Anda bisa membacanya," ucap David sambil memberikan berkas yang sejak tadi dia bawa.
"Baiklah, terima kasih, David," sahut Ayun sambil menerima berkas pemberian David. "Apa pekerjaanmu masih banyak?"
David menganggukkan kepalanya. Masih banyak yang harus dia kerjakan mengenai proyek mereka, apalagi Fathir mengatakan jika bulan depan mereka akan menerima tender dari sebuah perusahaan.
__ADS_1
"Jangan bekerja terlalu keras dan lupa istirahat, David. Sekarang sudah waktunya pulang," tukas Ayun. Dia memasukkan berkas-berkas pemberian David ke dalam tasnya.
David mengangguk paham. Memang saat ini jam sudah menjunjukkan pukul 5 lewat 30 menit, sudah saatnya semua orang selesai bekerja dan pulang ke rumah masing-masing.
"Saya akan mengingatnya, Buk," sahut David dengan tersenyum cerah. Sudah sejak lama dia tidak diperhatikan seperti ini.
Ayun lalu beranjak dari ruangan itu setelah David keluar. Dia mengambil tas kerjanya yang ada di atas meja dan bersiap untuk pulang.
"Saya pulang duluan ya, jangan lembur dan cepatlah pulang agar bisa istirahat," ucap Ayun pada beberapa karyawannya yang masih berada di kantor.
Mereka mengangguk paham dan menanggapi ucapan Ayun itu dengan senyuman. Mereka merasa senang karena wanita itu sudah mulai bekerja, bahkan pagi tadi semua orang menyambut kedatangan Ayun dengan meriah.
Ayun melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Terlihat supirnya sudah menunggu di parkiran, dia segera menghampirinya dan mengajak untuk pulang ke rumah sang papa.
Sebenarnya, Ayun ingin lebih lama menghabiskan waktu di kantor. Apalagi ini hari pertamanya bekerja, jadi semangat yang ada dalam dirinya masih berkobar dengan luar biasa.
Namun, rupanya hari ini adalah hari ulang tahun Nindi. Itu pun dia mengetahuinya saat siang tadi sang papa menelepon dan memberitahukan tentang kejutan untuk Nindi, tahu begitu dia akan mulai bekerja besok.
Sebelum ke rumah sang papa, Ayun memutuskan untuk singgah ke mall sebentar untuk membeli hadiah. Dia merasa bingung ingin memberi hadiah apa untuk Nindi, apalagi adiknya itu sudah punya semuanya.
Ayun lalu memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan, dia berpikir untuk memberikan kalung atau gelang untuk Nindi. Apalagi ini adalah hadiah pertama yang dia berikan untuk sang adik, setidaknya dia ingin memberikan yang terbaik.
"Selamat datang, Nyonya. Silahkan," ucap karyawan yang ada di toko tersebut.
Ayun menganggukkan kepalanya lalu mulai melihat-lihat perhiasan yang ada di tempat itu. "Saya ingin memberi hadiah untuk adik perempuan saya, bisakah Anda membantu memilihkan kalung yang cantik untuknya?" Dia memutuskan untuk meminta bantuan dari karyawan itu, karena dia sendiri tidak mahir dalam hal seperti ini.
"Tentu saja, Nyonya. Silahkan kemari," balas karyawan itu. Dia menunjukakn berbagai koleksi kalung yang sangat indah dan mewah, membuat kedua mata Ayun membelalak lebar.
"Masyaallah, kalungnya cantik-cantik sekali," seru Ayun saat melihat koleksi dari toko itu.
__ADS_1
Berbagai model kalung terpampang di hadapan Ayun. Mulai dari kalung emas, berlian, bahkan ada yang campuran antara keduanya.
Ayun terlihat bingung untuk memilih hadiah mana yang akan dia berikan untuk Nindi. "Ah, benar. Aku belum pernah memberikan kalung untuk ibu dan juga Adel." Dia jadi teringat dengan ibu dan juga putrinya. Tidak ada salahnya jika dia ingin membelikan untuk mereka juga.
Ternyata bukan hanya tampilan kalung itu saja yang membuat kedua mata Ayun terbebelak, bahkan harganya pun berhasil membuat jantungnya seakan ingin melompat keluar dari rongga dada.
"Ya Allah, harganya sama dengan mobil," gumam Ayun sambil menggelengkan kepalanya dengan tidak habis pikir.
Beberapa saat kemudian, Ayun sudah selesai memilih empat buah kalung untuk keluarganya. Semua mendapat bagian. Mulai dari Nindi yang sedang berulang tahun, Adel, ibu, dan juga Yuni.
"Permisi, saya ingin membeli yang ini."
Ayun memperhatikan seorang lelaki muda yang baru saja masuk ke dalam toko. Lelaki yang wajahnya sangat tidak asing, dan sangat mirip dengan seseorang yang dia kenal.
"Tungggu, apa dia anaknya tuan Fathir?" Ayun merasa terkejut dan juga penasaran. Wajah lelaki muda itu sangat mirip dengan Fathir, mungkinkah memang anaknya?
"Maaf, uang Anda tidak cukup untuk membelinya."
"Apa, bagaimana mungkin tidak cukup?" tanya lelaki bernama Faiz itu dengan marah, membuat orang-orang yang ada di tempat itu terlonjak kaget, termasuk Ayun.
Karyawan itu lalu mengatakan jika harga cincin yang mau dibeli adalah 10 juta, sementara uang Faiz hanya ada 9 juta saja.
"Apa, kenapa harganya 10 juta? Seminggu yang lalu kan masih 9 juta. Kau mau menipuku?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.