Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 92. Tidak Terima.


__ADS_3

Sella terkesiap saat mendengar ucapan Evan. "Kau-kau mengusir mama?" Matanya mendelik tidak terima.


Evan menghela napas kasar. Belum selesai masalah yang satu, sudah berdatangan masalah lain yang membuatnya ingin sekali pergi meninggalkan semuanya.


Mery yang sejak tadi menatap putranya langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah. Terserah apa yang akan terjadi dengan mereka, dia sama sekali tidak peduli.


Endri yang masih ada di tempat itu menatap Evan dengan nyalang. "Urus masalahmu dan jangan terus-terusan membuat kami malu, Evan." Dia berucap dengan telak sambil melangkah masuk ke dalam rumah, membuat Sella langsung melirik dengan tajam.


"Papa, aku mau sama mama," ucap Suci tiba-tiba, membuat Evan langsung menatap putrinya dengan kepala berdenyut sakit.


"Ayo, kita masuk ke rumah papa!" Evan lalu membawa Suci untuk masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan ucapan putrinya itu, sementara Sella terus menatapnya dengan tajam.


Evan terus melangkah masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke arah Sella sedikit pun, tetapi dia tidak menutup pintu rumahnya agar wanita itu bisa mengikutinya.


"Kau harus mengeluarkan Sherly dari penjara, Evan. Bagaimana mungkin kau-"


"Apa Mama tidak salah?" potong Evan dengan cepat, saat ini mereka sudah berada di dalam rumah. "Mama memintaku melepaskan Sherly, sementara aku sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya sudah wanita itu lakukan?" Dia menatap dengan nyalang membuat Suci mulai mengkerut takut.


Sella terdiam. Semua ini memang kesalahan Sherly, tetapi sebagai seorang suami, bukankah sangat keterlaluan jika memenjarakan istrinya sendiri?


"Dia, dia punya alasan kenapa melakukan semua itu, Evan. Dia juga terpaksa melakukannya," ucap Sella dengan pelan, dia tidak boleh emosi jika berhadapan dengan Evan.


"Jadi benar-benar dia yang mengambil berkasku?" tanya Evan dengan tajam, matanya menyorot ke arah Sella dengan penuh kemarahan.


Sella menelan salivenya dengan kasar, saat ini Evan terlihat sangat menyeramkan. "Itu, itu karena dia terpaksa, Evan. Dia diancam oleh wanita itu supaya mengambil berkas milikmu."


Evan memejamkan kedua matanya dengan rahang mengeras dan urat-urat yang menonjol disekitar leher, dia berusaha keras untuk menahan emosinya sekarang.

__ADS_1


"Cukup, aku tidak mau membahas itu sekarang." Lirih Evan sambil mengerjapkan matanya dan berjalan ke arah tangga hendak membawa Suci ke kamarnya.


Sella mendelik tidak percaya. "Jadi kau akan membiarkan istrimu di penjara, hah? Apa kau sama sekali tidak memikirkan anakmu?" Dia mulai terpancing emosi.


Sekuat tenaga Evan menahan segala sesak yang ada di dalam dada dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar, dia membawa Suci ke kamar Adel karena ada banyak mainan dikamar itu.


"Suci di kamar kak Adel dulu ya, nanti papa ke sini lagi," ucap Evan sambil mengecup kening putrinya.


"Kak Adel?" tanya Suci dengan bingung. Dia mendongakkan kepala dan menatap sang papa dengan kening mengkerut.


Evan menganggukkan kepalanya. "Iya, kak Adel. Jadi Suci tunggu di sini ya."


Walaupun tidak paham dengan apa yang papanya katakan, Suci tetap menganggukkan kepalanya dan mulai membongkar mainan-mainan yang ada di kamar itu, sementara Evan bergegas keluar untuk bicara dengan Sella.


"Sekarang karakan apa mau Mama," ucap Evan saat sudah kembali berhadapan dengan Sella.


"Cabut laporanmu dan keluarkan Sherly dari penjara. Kasihan Suci, Evan," pinta Sella dengan lirih.


"Sebenarnya kenapa, kenapa dia mengambil berkas itu, hah? Apa uang yang selama ini aku beri untuk kalian kurang?" tanya Evan dengan sarkas.


Sella terdiam, tidak menyangka jika Evan akan bertanya seperti itu padanya.


"Mama memintaku untuk mengeluarkan Sherly, sementara kalian sama sekali tidak memikirkan bagaimana sakitnya perasaanku yang sudah kalian khianati. Kenapa, kenapa, hah?"


Brak.


Evan melayangkan pukulan ke meja, menyebabkan suara benturan menggema di tempat itu dengan kuat.

__ADS_1


Mery dan Endri yang berada di dalam kamar ternyata sejak tadi menguping pembicaraan mereka, dan tentu saja kemarahan menyelimuti hati mereka saat mengetahui jika Sherly lah yang telah membuat Evan menderita kerugian.


"Ancaman seperti apa yang membuatnya bersikap seperti itu, apa kalian ingin membod*ohiku?" ucap Evan dengan sarkas. Cukup, sudah cukup. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan semua ini.


Sella terdiam dan mencoba untuk memutar otak agar Evan mengalah kali ini saja. "Mama tau dia salah, Evan. Tapi setiap kesalahan bisa diperbaiki. Kasihanilah Sherly dan Suci, apa kau sama sekali tidak memikirkan anakmu?" Dia berusaha untuk membujuk.


"Suci akan tinggal bersamaku di sini," ucap Evan. Yah, lebih baik seperti ini. Lebih baik Suci tinggal bersamanya, terserah jika orang tuanya mau menerima anaknya atau tidak.


"Kau jangan seenaknya, Evan. Sebagai seorang suami, seharusnya kau bertanggung jawab terhadap istrimu!" sentak Sella tidak terima. "Dia melakukan itu juga karena kau, jadi kau harus melepaskan dia. Aku tidak mau dengar apapun alasanmu!" Dia berucap dengan penuh penekanan.


"Enak sekali kau berkata seperti itu!"


Tiba-tiba Mery keluar dari kamar dan membalas ucapan Sella, membuat wanita itu dan Evan melihat ke arahnya.


"I-ibu? Apa yang-"


"Kau tidak boleh melepaskan dia dari penjara, Evan! Seorang pencuri harus dihukum, itu adalah buah dari perbuatannya sendiri," ucap Mery dengan tajam. Enak sekali meminta keluar setelah melakukan kejahatan.


Kedua mata Sella memerah saat mendengarnya. "Dulu aku sudah melarangmu menikah dengan putriku, tapi kau mengatakan kalau mencintainya dan akan selalu bersamanya sampai kapan pun. Apa kau lupa tentang itu?"


Evan terdiam saat mendengarnya, sementara Mery menatap Sella dengan sinis dan tidak suka.


"Aku bahkan diceraikan oleh suamiku hanya karna kau, Evan. Hanya karna mengizinkan putriku menikah dengan laki-laki sepertimu, aku dicampakkan oleh Abbas. Semua ini karnamu, karna kesalahanmu!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2