
Keanu dan Fathir yang baru saja selesai meeting di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari kedai makanan cepat saji itu, tidak sengaja melihat kedatangan David dan Ayun.
Mereka lalu bermaksud untuk menghampiri kedua orang itu karena sudah lumayan lama juga Keanu tidak bertemu dengan Ayun, sementara Fathir tentu saja senang saat melihat keberadaan wanita itu.
Namun, siapa sangka jika mereka akan dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa? Di mana Ayun berada sangat dekat dengan David, dan posisi mereka saat ini terlihat seperti sedang bermesraan.
"Apa yang mereka lakukan?" ucap Keanu dengan kedua mata melotot tajam, dia lalu menoleh ke arah samping di mana Fathir berada.
Keanu menelan salive dengan kasar saat melihat raut wajah Fathir. Tampak jelas kemarahan diwajah laki-laki itu, apalagi urat-urat yang ada disekitar leher mencuat ke permuakaan dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Fathir, kau, kau tidak-" Keanu tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat Fathir pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan ke arah Ayun, sontak dia mengikuti langkah laki-laki itu sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Ayun yang tersadar dari lamunan bergegas memperbaiki posisi berdirinya sambil mendorong tubuh David agar sedikit menjauh, David sendiri hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping.
"Te-terima kasih, David," ucap Ayun dengan tergagap, dia tahu jika tadi laki-laki itu sengaja menariknya agar tidak terkena tumpahan kopi.
David menganggukkan kepalanya. "Anda tidak-"
"Ayun!"
Ayun dan David terlonjak kaget saat mendengar panggilan seseorang, sontak mereka menoleh ke arah kanan di mana Fathir dan Keanu berada.
"Ka-kalian?" ucap Ayun dengan kaget saat melihat keberadaan Fathir dan Keanu.
Fathir berjalan terus dan berhenti tepat di hadapan Ayun, sementara Keanu berdiri di samping David yang menganggukkan kepala kepada mereka.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fathir sambil menatap Ayun dengan tajam, membuat wanita itu mengernyitkan kening bingung. "Aku melihatmu dan David berdekatan, apa kalian-"
"A-aku baik-baik saja. Ta-tadi aku gak sengaja menabrak pelayan yang membawa makanan dan minuman, ja-jadi David menolongku," potong Ayun dengan cepat, seolah sedang mengklarifikasi apa yang sedang terjadi di tempat itu.
Fathir terdiam saat mendengarnya, sesaat kemudian dia tersenyum tipis membuat ketegangan diwajah Ayun sebagai bertambah. "Jadi seperti itu?"
Ayun menganggukkan kepalanya, tanpa sadar jika apa yang sedang dia lakukan saat ini persis seperti sedang menjelaskan kesalahpahaman kepada seorang kekasih atau suami.
"Tunggu, kenapa aku harus menjelaskan semuanya?" Ayun jadi merasa bingung sendiri. Untuk apa dia sampai menjelaskan semuanya? Padahal semua itukan tidak penting.
Keanu yang sejak tadi memperhatikan tampak tersenyum menahan geli. Tidak disangka Fathir akan menunjukkan rasa cemburunya, begitu juga dengan Ayun yang seolah sedang memberi penjelasan agar laki-laki itu tidak cemburu lagi.
"Dasar mereka ini. Baru kutinggal sebentar ke luar negeri, sudah semakin dekat saja." Keanu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Lain hal dengan Keanu, David yang juga masih berada di sana hanya diam sambil mendengarkan. Entah apa yang sedang terjadi padanya saat ini, yang pasti ada rasa tidak nyaman dalam hatinya.
"Tunggu, tidak mungkinkan kalau aku tertarik dengan buk Ayun?" Dengan cepat David menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikiran gila itu. Dia sudah menganggap wanita itu sebagai kakaknya sendiri, jadi jangan sampai merasakan hal seperti itu.
Keanu mengernyitkan kening saat melihat apa yang David lakukan, dengan cepat dia menepuk bahu laki-laki itu membuat David terkesiap.
"Kau baik-baik saja, David?" tanya Keanu dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
David menganggukkan kepalanya. "Saya baik-baik saja, Tuan." Dia menjawab dengan sedikit gelisah akibat ditatap dengan sedemikian rupa.
Keanu ikut menganggukkan kepalanya. "Dengar, David. Jangan coba-coba untuk mengusik milik orang lain, atau nanti kau akan terkena amukan seseorang." Dia kembali menepuk bahu laki-laki itu, lalu beralih mendekati Fathir dan Ayun.
David terdiam. Jelas dia tahu apa maksud dari ucapan Keanu, memangnya siapa yang tidak tahu jika Fathir menyimpan sebuah perasaan untuk Ayun? Karena tidak mungkin selama ini Fathir mau membantu sampai seperti itu jika tidak jatuh hati pada Ayun.
Setelah apa yang terjadi, akhirnya mereka semua duduk di tempat itu sambil menunggu pesanan Ayun disiapkan. Mereka juga menikmati makanan dan minuman yang disajikan, walau dalam suasana yang masih sangat tidak nyaman.
"Jadi bagaimana, Mbak? Apa semua berjalan lancar?" tanya Keanu pada Ayun.
Ayun mengangguk. "Alhamdulillah lancar, Ken. Nanti kami akan mengeceknya secara langsung, sekalian bertemu dengan pak Hadi."
Keanu merasa senang saat mendengar ucapan Ayun. Tidak disangka jika wanita itu bisa mengatasi segala pekerjaan, padahal selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
"Dia baik, Mbak. Mungkin nanti malam kami akan berkunjung ke rumah Mbak, sekalian membicarakan masalah papa dan tante Hasna."
Ayun mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Keanu, dia lalu menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak mengerti.
"Masalah papa dan ibu?" tanya Ayun.
Keanu kembali mengangguk dan menceritakan perihal lamaran yang papa Abbas lakukan, sontak saja membuat Ayun terkejut bukan main.
"Kau, kau bilang apa?" pekik Ayun dengan tidak percaya.
Keanu menatap Ayun dengan heran saat melihat reaksi wanita itu. Mungkinkah Hasna belum memberitahukannya pada semua orang?
"Apa tante Hasna tidak mengatakan sesuatu?" tanya Keanu.
Ayun menggelengkan kepalanya. Lalu tiba-tiba dia teringat dengan kejadian saat di meja makan pagi tadi, mungkinkah saat itu ibunya ingin membahas perihal masalah lamaran itu?
Keanu jadi merasa bersalah pada Hasna karena tidak sengaja mengatakan perihal lamaran sang mertua. Namun, kenapa Hasna merahasiakan tentang hal itu? Mungkinkah perasaan papa Abbas selama ini bertepuk sebelah tangan?
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika papa akhirnya melamar ibu. Kenapa papa tidak mengatakan apa-apa padaku?" ucap Ayun dengan lirih, kedua matanya langsung berkaca-kaca karena merasa bahagia.
Keanu dan Fathir tampak saling pandang saat mendengar ucapan Ayun. "Apa Mbak tidak suka tentang hal ini?" Keanu bertanya dengan pelan.
Ayun tersenyum tipis sambil mengusap air matanya. "Bukan seperti itu, Ken. Aku hanya merasa terharu dengan apa yang papa lakukan, dan aku juga merasa senang karena akhirnya kedua orang tuaku bersatu." Dia menatap mereka semua dengan sendu.
Keanu menghela napas lega saat mendengarnya. Terlepas dari keputusan Hasna mau atau tidak, setidaknya Ayun mendukung pernikahan itu.
"Tapi, bagaimana dengan Nindi?" tanya Ayun dengan khawatir, dia takut jika adiknya itu tidak setuju jika papanya menikah dengan sang ibu.
"Apa yang Mbak khawatirkan? Nindi adalah orang pertama yang mendukung pernikahan papa dengan tante Hasna, dia merasa senang jika keluarga kita bisa bersatu," jawab Keanu.
Ayun menghela napas lega sambil mengucap syukur saat mengetahui jika Nindi setuju, karena dia yakin jika ibunya juga pasti setuju.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang lelaki sedang duduk di sudut pesta. Sejak tadi dia sibuk membantu di sana-sini, sampai kakinya terasa sangat pegal dan hampir patah.
"Ezra!"
Ezra yang sedang meluruskan kaki menoleh ke arah sumber suara, terlihat seorang wanita sedang berjalan ke arahnya sambil membawa segelas minuman.
"Aku sudah mencarimu ke sana kemari, ternyata kau ada di sini," ucap seorang gadis bernama Mayra sambil memberikan segelas minuman dingin untuk Ezra.
Ezra menerima minuman itu dan langsung menenggaknya hingga tinggal setengah. "Aku capek, May. Kenapa tamu kalian banyak sekali sih?" Dia mencebikkan bibir dengan kesal.
Mayra tergelak saat melihat kekesalan diwajah Ezra, tetapi dia sangat berterima kasih karena laki-laki itu sudah mau membantu dipesta pernikahan kakaknya ini.
"Pasti capek yah, melayani tamu-tamunya ayah?" ucap Mayra dengan pura-pura sedih, membuat Ezra semakin kesal. "Tapi enggak apa-apalah, anggap saja kau sedang latihan untuk pernikahan kita nanti. Hehe." Dia merasa geli sendiri saat mengatakannya.
Ezra berdecih mendengar ucapan Mayra, padahal hati kecilnya merasa senang mendengar ucapan gadis itu.
"Dasar kepedean. Memangnya siapa yang mau menikah denganmu?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1