Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 113. Aku Akan Menikah.


__ADS_3

Fathir terdiam saat mendengar ucapan Dokter, begitu juga dengan Ayun yang merasa jika ucapan Dokter itu sangatlah tepat.


Ayun lalu beralih menatap Fathir dengan nanar. "Kakak kandungmu sendirilah yang telah menggoreskan luka dihatimu, maka harus dia sendiri jugalah yang menyembuhkannya."


Setelah selesai, Ayun dan Fathir beranjak keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju parkiran rumah sakit. Tidak ada yang bersuara di antara mereka, seolah sama-sama memikirkan apa yang Dokter katakan tadi.


Fathir langsung mengantar Ayun pulang ke rumah karena dia ingin agar wanita itu istirahat. Apalagi masih ada saudara dari kampung yang belum kembali. Pasti Ayunlah yang mengurusnya.


"Terima kasih untuk hari ini, Ayun," ucap Fathir saat mereka sudah berada di halaman rumah Ayun.


Ayun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. "Sama-sama, Fathir. Aku senang bisa menemani dan membantumu. Apa kau mau masuk dulu?"


Fathir menggelengkan kepalanya. Jika dia mampir, maka Ayun tidak bisa langsung istirahat karena masih harus menemaninya lagi.


"Aku langsung pulang saja supaya kau bisa istirahat," tolak Fathir.


Ayun menganggukkan kepalanya. Seperti biasa, dia akan mengingatkan Fathir untuk hati-hati dalam berkendara.


"Sebentar, Ayun." Fathir memegang ujung hijab Ayun yang menjuntai ke belakang membuat langkah wanita itu terhenti.


"Yah?" Ayun menoleh ke arah Fathir dengan tatapan penuh tanda tanya.


Fathir diam sejenak untuk meyakinkan diri, dia lalu menatap Ayun dengan dalam agar wanita itu merasakan perasaan tulus yang dia berikan.


"Aku serius tentang ucapanku tadi malam, Ayun. Aku menyukaimu, aku menyayangimu, dan aku mencintaimu. Aku ingin segera menghalalkanmu dan menjadikanmu sebagai pendampingku. Jadi, bolehkah aku melamarmu?" ucap Fathir dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan yang langsung menembus ke relung hati Ayun yang paling dalam.

__ADS_1


Ayun terdiam dengan tatapan sendu. Dia terus menatap Fathir seolah sedang mencari jawaban atas kegundahan dalam hatinya.


Sesaat kemudian, Ayun kembali membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Fathir dan membuat senyuman laki-laki itu surut.


"Jika kau memang ingin melakukannya, maka datanglah pada ayahku, Fathir."


Deg.


Fathir yang sudah merasa lemas saat melihat reaksi Ayun langsung menatap wanita itu dengan tajam dan membara. "Jika aku menemui ayahmu, maka aku tidak akan berkata ingin melamarmu. Tapi aku akan langsung meminta izin untuk menikahimu."


Wajah Ayun langsung bersemu merah saat mendengarnya, dan untung saja Fathir tidak bisa melihat wajahnya itu.


"Lakukanlah sesuai dengan keinginanmu, Fathir. Insyaallah, kau juga akan mendapat jawaban sesuai dengan apa yang kau harapkan," ucap Ayun mendalam.


Fathir langsung tersenyum lebar saat mendengarnya. Ingin sekali dia memeluk Ayun saat ini juga, tetapi tidak mungkin dia lakukan.


Brak.


Ayun masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan kencang. Dadanya tampak naik turun karena merasa benar-benar malu, bahkan napasnya juga tersengal-sengal akibat berjalan terlalu cepat.


"Ya Allah, apa yang telah aku lakukan?" Ayun menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa malu dengan diri sendiri. Tidak disangka dia akan menjawab ucapan Fathir dengan sebijak itu.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, ya Allah? Aku, aku benar-benar sangat malu." Dia berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kaki, persis seperti seorang ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.


Dari lantai dua, Abbas dan Hasna terus memperhatikan Ayun sambil menahan tawa. Mereka tidak menyangka jika Ayun akan menunjukkan reaksi yang sangat menggemaskan seperti itu, bahkan Hasna saja pun tidak pernah melihatnya selama ini.

__ADS_1


"Anak kita benar-benar sedang jatuh cinta, Hasna. Hatiku sangat bahagia melihatnya," ucap Abbas dengan lirih


Hasna menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Mas. Selama ini aku tidak pernah melihatnya seperti itu, aku bahkan tidak tahu kalau selama bertahun-tahun cintanya bertepuk sebelah tangan." Dia terisak dengan pilu.


Abbas langsung memeluk tubuh Hasna dengan erat dan mencoba untuk menenangkannya. "Semua itu sudah berlalu, Hasna. Kali ini aku berjanji padamu, kalau Ayun tidak akan pernah menderita dan menangis lagi. Kalau pun dia menangis, maka dia hanya akan menangis karena kebahagiaan."


Abbas berjanji pada istri dan juga dirinya sendiri, bahwa dia akan melindungi dan menjaga kebahagiaan Ayun. Tidak akan dia biarkan siapapun orang yang berusaha untuk kembali menyakitinya dan mengganggu kehidupannya.


Setelah mendapatkan jawaban yang sangat menyentuh hati dari Ayun, Fathir langsung menemui mamanya yang saat itu sedang berada di rumah sakit. Tidak peduli jika dia harus bolak-balik ke sana kemari, yang pasti dia ingin mengatakannya saat ini juga.


"Fathir? Kau di sini?" ucap Alma yang terkejut saat melihat kedatangan putranya. Dia yang sedang memeriksa salah satu pasien diberitahu oleh perawat bahwa Fathir ingin bertemu dengannya saat ini juga.


"Ayo masuk, Ma!" Fathir langsung menarik tangan sang mama dan membawa masuk ke dalam ruangan, setelahnya dia menutup pintu ruangan itu dan menatap mamanya dengan berbinar-binar.


"Sebenarnya ada apa, Fathir? Jangan membuat mmaa takut!" ucap Alma dengan tajam.


Fathir memegang kedua bahu sang mama dengan erat. "Aku akan menikah, Ma. Aku akan menikah."


"Hah?" Alma menatap Fathir dengan tidak mengerti dan bertanya-tanya.


"Aku akan datang ke rumah Ayun dan menemui tuan Abbas, Ma. Aku akan meminta izin untuk menikah dengan wanita itu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2