Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 54. Cari Cuan Lagi.


__ADS_3

Ayun berucap dengan penuh keragu-raguan, tetapi dia ingin sedikit meringankan kekhawatiran Fathir terhadap Faiz.


"Apa, kenapa aku harus memperhatikannya?" Adel memekik tidak terima. Memangnya siapa laki-laki itu sehingga harus diperhatikan?


Yah, sudah Ayun duga jika reaksi Adel akan jadi seperti ini. "Sabar dulu, Nak. Ibu tidak memintamu untuk memperhatikannya kali, cukup pastikan agar dia tidak membuat masalah saja."


"Enggak mau! Apa Ibu mau menjodohkan aku dan dia?"


"Apa?" Ayun memekik kaget dengan apa yang Adel katakan. Bagaimana mungkin dia menjodohkan mereka yang masih sama-sama duduk dibangku Sekolah menengah pertama? Lagi pula, kenapa Adel bisa sampai berpikir seperti itu sih?


"Terus, apa maksud Ibu coba nyuruh aku merhatikan Faiz?" tanya Adel dengan cemberut.


Ayun lalu menjelaskan jika Fathir merasa khawatir dengan perilaku Faiz selama ini, dan mungkin saja Adel bisa membantu laki-laki itu untuk mengawasi agar Faiz tidak membuat masalah di sekolah.


"Ayahnya sudah sangat baik pada kita, Nak. Jadi tidak ada salahnya jika kita membantunya, bila perlu kau dekati Faiz. Lalu bertemanlah dengannya," ucap Ayun.


Adel bergumam kesal saat mendengar ucapan sang ibu. Dia tidak ingin menjadi bulan-bulanan cewek-cewek yang menyukai Faiz di sekolah. Walau laki-laki itu seorang berandalan, tetapi banyak sekali cewek-cewek yang menyukainya.


"Tapi kalau kau tidak mau ibu juga tidak akan memaksa, ibu hanya ingin kalian tenang dan nyaman di sekolah," sambung Ayun kemudian.


Mungkin permintaannya itu terlalu berat, dan tidak seharusnya dia menyuruh Adel melakukan sesuatu yang tidak di sukai.


Ayun lalu beranjak keluar dari kamar itu setelah mengecup kening Adel, tidak lupa menyucapkan selamat malam untuk putri tercintanya itu.


*


*


Keesokan harinya, Ayun berangkat ke kantor sekaligus mengantar Adel ke sekolah karena hari ini Ezra masuk kuliah siang. Jadi dia ingin sekalian mengantar sang putri, apalagi sudah lumayan lama dia tidak ke sekolah putrinya itu.


"Belajar yang rajin ya, Sayang. Jangan lupa makan siang," ucap Ayun pada saat sudah sampai di sekolah Adel.


Adel menganggukkan kepalanya dan segera menyalim tangan sang ibu. Tidak lupa dia mengecup pipi ibunya sebelum masuk ke sekolah.


Ayun tersenyum sambil memperhatikan Adel yang sudah berkumpul dengan teman-temannya. Dia merasa senang karena anaknya kembali ceria setelah perceraiannya dengan Evan, dan semoga anaknya akan terus seperti itu.


"Ayo kita ke kantor, Pak!" ajak Ayun pada supir.


Supir lalu kembali melajukan mobil itu menuju kantor. Padatnya jalanan di pagi hari membuat mobil mereka harus melaju dengan pelan, tetapi tidak apa-apa. Dari pada harus kencang-kencang dan berakhir pergi ke dunia lain.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Ayun sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera turun dari mobil dan berlalu masuk ke dalam kantor.


"Selamat pagi Buk."


"Selamat pagi Buk Ayun."


"Selamat pagi Buk."


Beberapa karyawan yang sudah berada di perusahaan langsung menyapa kedatangan Ayun dengan ramah, apalagi atasan mereka itu punya sifat yang ramah pula.


"Selamat pagi juga semuanya, semangat kerjanya ya," balas Ayun sambil mengepalkan kedua tangannya pertanda semangat yang membara.


"Siap, Buk bos," jawab semua karyawannya dengan kompak, termasuk David juga yang baru datang ke tempat itu.


"David, kau sudah datang?" tanya Ayun dengan ramah sambil melangkahkan kaki menuju ruangannya.


"Sudah dong, Buk. Saya kan karyawan yang paling rajin," jawab David dengan bangga.


Ayun menggelengkan kepalanya mendengar kelakar David. "Apa kau sudah sarapan?" Dia bertanya sambil masuk ke dalam ruangan dengan tetap diikuti oleh laki-laki itu.


"Em ... saya su-"


David mengangguk paham, tetapi yakinkah kalau besok dia pasti akan kembali mengulangi hal yang sama. Memang dasarnya dia itu malas untuk sarapan.


"Ambil ini, tadi saya bawa bekal," ucap Ayun sambil memberikan bekal pada David. Jangan sampai ada satu orang pun karyawannya yang sakit akibat tidak makan, dia sangat tidak menyukainya.


"Ti-tidak perlu, Buk. Saya akan sarapan di luar saja," tolak David dengan segan, bagaimana mungkin dia bisa memakan bekal bosnya sendiri?


"Tidak apa-apa, tapi nanti kau harus mengganti makan siang saya," sahut Ayun sambil pura-pura menatap dengan tajam.


David tersenyum lebar mendengar ucapan Ayun, dengan cepat dia mengambil bekal yang wanita itu berikan padanya.


"Terima kasih, Bu. Siang nanti saya akan mentraktir Anda."


"Baiklah. Sekarang cepat habiskan makanan itu sebelum jam kerja dimulai, nanti gajimu saya potong loh," ucap Ayun sambil mulai menyalakan laptop di hadapannya, walaupun dia belum lihai menggunakan benda tersebut.


David langsung memberikan pose hormat pada sang merah putih, lebih tepatnya hormat pada Ayun membuat wanita itu tergelak. Dia lalu bergegas keluar dari ruangan itu sambil membawa bekal yang tadi diberi oleh wanita itu.


"Wah, Pak manager. Enak sekali dapat bekal dari buk Ayun, kami juga mau," seru salah satu karyawan yang duduk di depan tempat duduk David.

__ADS_1


"Iya dong, makanya jangan sarapan kalau pagi," sahut David sambil tergelak, membuat yang lain juga ikut tertawa saat mendengarnya.


Pekerjaan pun di mulai, semua orang tampak serius mengerjakan tugas yang sudah menjadi bagian mereka. Begitu juga dengan Ayun.


Hari ini, Ayun memulai pekerjaannya dengan dipenuhi aura positif. Dia mempelajari semuanya dengan semangat, apalagi siang ini David mengajaknya untuk bertemu langsung dengan salah satu klien yang sempat bekerja sama dengan kantor mereka dulu.


"Apa Anda sudah siap?" tanya David sambil masuk ke dalam ruangan Ayun.


Ayun menganggukkan kepalanya seraya beranjak bangun dari kursi. "Siap gak siap harus siap, Vid. Tapi, aku merasa gugup."


David tersenyum saat melihatnya. Wajar saja jika Ayun merasa seperti itu, dan semua orang juga pasti akan merasakannya pada saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya.


"Tidak apa-apa, Buk. Tarik napas, lalu hembuskan perlahan. Jangan ditahan ya, nanti keluar dari bawah."


"Ppft. Hahaha." Ayun yang sedang mengikuti intruksi dari David langsung ambyar saat mendengar ucapan laki-laki itu, hingga suara gelak tawanya memenuhi seisi ruangan. "Dasar kau David, kayak mana kalau tadi saya keluar dari bawah betulan?"


"Ya paling, menyebarkan aroma yang sangat memabukkan," sahut David membuat Ayun kembali tertawa. Rasa gugup, dan gelisah yang sejak tadi dirasakan langsung lenyap seketika.


Mereka berdua lalu pergi menuju sebuah restoran untuk bertemu dengan seseorang. Mereka sengaja datang lebih cepat agar bisa makan siang terlebih dahulu, apalagi pertemuannya tepat pukul 2 siang.


Dari sudut ruangan, tampak sepasang mata terus memperhatikan Ayun dan juga David. Dia merasa terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan mereka di restoran ini.


"Apa tidak apa-apa jika aku menghampirinya?" gumam Evan. Sudah hampir setengah jam dia berada di tempat itu, dan ketika mau pergi. Dia dikejutkan dengan kedatangan David dan juga Ayun.


Nyut.


Dada Evan berdenyut sakit saat melihat interaksi antara Ayun juga David yang tampak sangat akrab, padahal dulu wanita itu tidak pernah tertawa senang seperti itu di hadapannya.


"Hentikan, Evan. Jangan memikirkan sesuatu yang bukan lagi menjadi urusanmu!" ucap Evan pada dirinya sendiri, dia harus mulai belajar bersikap tenang dan menekan emosinya.


"Loh, siapa ini? Bukankah ini tuan Evan Dheandra?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2