
Keributan pun terjadi di tempat itu membuat para pengunjung menjadi panik, begitu juga dengan Abbas dan teman-temannya saat mendengar benturan keras dari perbuatan Fathir.
"Astaga, apa yang dia lakukan?" seru Abbas sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia yang akan menyergap para pengunjung secara diam-diam, terpaksa langsung menondongkan pistol ke hadapan mereka supaya orang-orang yang ada di tempat itu tidak kabur.
"Kami polisi, diam di tempat!" teriak Haris sambil menunjukkan pistolnya ke hadapan semua orang. Dia yang sejak tadi mengawasi para pengunjung juga langsung memberikan ultimatum saat melihat apa yang Fathir lakukan, padahal tadi mereka sudah sepakat untuk bergerak secara senyap.
Para pengunjung semakin bertambah panik dan berlarian ke sana kemari untuk kabur dari tempat itu, tetapi ternyata Abbas sudah lebih dulu menghubungi para petugas kepolisian dan sudah mengepung tempat itu.
"Mau lari ke mana kalian, hah? Tangkap mereka semua!" teriak Abbas sambil berusaha untuk menangkap orang-orang yang ada di tempat itu, sementara yang lain menganggukkan kepala saat mendengar perintah darinya.
Fathir dan Keanu juga segera menuju ruangan Rian yang ada di lantai tiga. Keadaan sudah sangat kacau sekarang, di mana suara teriakan dan benturan keras menggema di mana-mana.
Pada saat yang sama, Rian yang sedang berada di dalam ruangan juga mendengar suara keributan yang sedang terjadi. Dia menatap ke arah pintu dengan tajam dan penuh dengan tanda tanya, sebenarnya apa yang terjadi hingga menyebabkan keributan seperti itu?
Alden sendiri langsung tersenyum sinis saat mendengar suara keributan itu, dia yakin jika Keanu dan yang lainnya sudah memulai aksi mereka.
"Maaf, saya harus keluar sebentar," ucap Rian sambil beranjak dari sofa saat suara keributan itu semakin menjadi-jadi. Kedua matanya berkilat marah karena anak buahnya tidak bejus menjaga tempat ini.
"Tunggu sebentar, Tuan. Kenapa terburu-buru keluar?" ucap Alden sambil ikut beranjak dari sofa, membuat Rian langsung menatapnya dengan tajam. "Anda harus tetap di sini bersama saya." Dia menyeringai dengan sinis.
Rian megernyitkan kening heran saat melihat raut wajah Alden. Apalagi ketika melihat senyuman licik yang terlihat jelas diwajah laki-laki itu.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa di luar ribut sekali?" Rian mengepalkan kedua tangannya dan bergegas berjalan ke arah pintu tanpa mempedulikan ucapan Alden.
Tentu saja Alden tidak membiarkan Rian pergi dan bergegas berdiri di depan pintu, apa yang dia lakukan membuat tatapan Rian semakin menajam.
"Apa yang kau lakukan? Minggir!" ucap Rian dengan penuh penekanan dan dibalas dengan smirik sinis Alden. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa laki-laki itu menghalanginya seperti ini, dan tidak mengerti juga kenapa sampai saat ini tidak ada satu pun dari anak buahnya yang melapor keributan yang terjadi di luar.
"Ada apa, Tuan? Kenapa wajah Anda tegang seperti itu?" tanya Alden dengan penuh makna. "Santai saja dan diamlah di dalam ruangan ini." Dia kembali menyeringai.
Rian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat melihat apa yang Alden lakukan. Sebenarnya kenapa laki-laki itu menghalanginya seperti ini, mungkinkah keributan itu disebabkan olehnya?
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kau lakukan, apa kau yang telah mengacau di tempatku ini?" tanya Rian dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas diwajahnya.
Alden langsung tertawa mendengar pertanyaan Rian. "Rupanya cepat juga Anda menyadari semuanya, yah." Dia mencibir dengan tatapan sinis.
"Dasar bajing*an! Kau-"
"Ah, mereka sudah datang," potong Alden saat mendengar langkah seseorang mendekati ruangan itu, membuat Rian merasa semakin murka. Dengan cepat dia bergeser dari pintu agar tidak menghalangi jalan.
"Siapa kau sebenarnya, hah?" teriak Rian dengan wajah merah padam.
Brak.
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka secara paksa oleh seseorang membuat Rian tersentak kaget. Kedua matanya langsung membelalak lebar saat melihat siapa yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
"Ka-kalian?" Lirih Rian dengan terbata-bata. Tubuhnya seketika terhuyung ke belakang karena syok dengan kedatangan Fathir dan Keanu.
Fathir dan Keanu menatap Rian dengan tajam. Mereka segera masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan ke arah laki-laki tersebut.
Rian terdiam dengan rahang terkatup rapat saat mendengar ucapan Fathir. Tidak, bagaimana mungkin mereka semua ada di sini? Dan kenapa mereka tahu bahwa bar ini adalah miliknya?
"Si*al. Sebenarnya apa saja yang sudah mereka ketahui selama ini?" Kali ini Rian benar-benar merasa tersudut sampai tidak bisa berkata apa-apa. Kedatangan mereka saja susah mengguncang jiwanya saat ini.
"Kenapa kau diam, apa kau sudah kehabisan kata-kata?" sambung Fathir dengan sarkas. "Aku bahkan belum melakukan apa-apa padamu!" Dia menyeringai dengan sangat menyeramkan.
Rian yang sudah merasa tersudut benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Apalagi mereka pasti sudah tahu tentang semua yang dia lakukan di bar ini. Si*al, sungguh sangat si*al.
"Kalian tidak berhak untuk ikut campur apapun yang aku lakukan!" ucap Rian dengan tegas. Benar, mereka tidak berhak untuk ikut campur.
"Benarkah?" sahut Keanu sambil tergelak. "Jadi maksudmu, polisi juga tidak berhak ikut campur atas kekejaman yang kau lakukan?"
Deg.
__ADS_1
Jantung Rian terasa seperti ditusuk oleh sebuah besi panas saat mendengar ucapan Keanu. "Kau, kau bilang apa?" Seketika wajahnya berubah pucat dan pias.
"Oh, ayolah, Rian. Tidak mungkin 'kan, kami tidak melaporkanmu pada polisi?"
"Bajing*an! Kubunuh kau," teriak Rian sambil berlari ke arah Keanu dan hendak menyerang laki-laki itu, karena semua yang terjadi ini disebabkan oleh Keanu.
Brak.
Suara benturan yang sangat kuat menggema di tempat itu, bersamaan dengan tubuh Rian yang terhempas menghantam meja.
"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin menghajarnya!" ucap Fathir dengan tajam. Terlihat jelas kemarahan diwajahnya saat ini.
Rian terkapar di atas lantai sambil menahan sakit di punggungnya. Dengan cepat dia beranjak dari tempat itu sambil menatap Fathir penuh kemurkaan.
"Brengs*ek! Seharusnya sejak dulu aku menghabisimu, seharusnya kau yang mati di malam itu!" teriak Rian dengan wajah merah padam serta napas tersengal-sengal. Dia lalu menyerang Fathir yang langsung menyambut serangannya dengan tidak kalah kuat.
Perkelahian antara Fathir dan Rian pun terjadi. Kedua laki-laki itu sama kuat dalam hal bela diri, kecuali Fathan yang memang tidak ahli dalam hal tersebut.
"Diam di tempatmu, Alden," ucap Keanu saat melihat Alden akan membantu Fathir, membuat laki-laki itu menatapnya dengan heran.
"Kita tidak boleh mengulur waktu, Tuan," ucap Alden. Dia yakin jika anak buah Rian yang lain pasti sedang menuju ke tempat ini.
Keanu menghela napas kasar. "Aku tahu, Alden. Tapi aku ingin memberi kesempatan pada Fathir untuk membalas semua perbuatan yang selama ini sudah bajing*an itu lakukan, setidaknya dia harus membalas semua rasa sakit itu dengan kedua tangannya sendiri."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1