Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 51. Kelakuan Para Orang Tua.


__ADS_3

Hasna memekik kaget saat mendengar ajakan Abbas, sementara Thomas dan yang lainnya menatap mereka berdua dengan tatapan bingung dan tidak mengerti.


"Me-membantu memakai baju baru?" ucap Hasna dengan tidak mengerti.


Ayun dan yang lainnya tampak menahan senyum saat melihat tatapan berapi-api yang papa Abbas berikan, terlihat jelas jika saat ini laki-laki paruh baya itu sedang cemburu buta.


"Sayang, sepertinya sebentar lagi kita akan menemani papa melamar seorang wani- akh!" Keanu meringis kesakitan dengan suara tertahan saat pinggangnya dicubit sangat kuat oleh sang istri.


"Aku tahu kalau kau tadi memprovokasi papa, Mas!" ucap Nindi dengan penuh penekanan. Suaminya itu memang suka sekali memanas-manasi sang papa, dan papanya pun selalu saja mudah tersulut emosi.


"Cih, aku kan cuma membantu papa saja," gerutu Keanu sambil mencebikkan bibirnya.


Nindi menghela napas kasar saat mendengar gerutuan sang suami. Dia bukannya tidak setuju jika papanya menikah dengan ibunya Ayun, malah dia akan merasa senang karena keluarga mereka akan benar-benar bersatu.


Hanya saja dia tidak suka jika Keanu membuat keributan seperti ini, walau pun papanya tampak sangat menggemaskan dimatanya.


"Baru kali ini aku melihat papa seperti itu," gumam Nindi dengan tersenyum lebar.


Kembali lagi pada Abbas yang masih menatap Thomas dan Hasna dengan tajam, seakan sedang mengibarkan bendera perang.


"Kau bilang 'kan mau ngasi aku baju baru," jawab Abbas dengan penuh penekanan.


Ah, iya. Hasna baru ingat jika dia memang sudah membuatkan kemeja batik untuk Abbas. Bukan hanya untuk Abbas saja, tetapi dia juga sudah membuatkan untuk Keanu, Fathir, Angga, dan juga Ezra. Pokoknya dia membuatkan untuk semuanya.


"Iya. Kalau gitu tunggu sebentar, biar saya ambilkan," ucap Hasna. Dia lalu beranjak dari tempat itu menuju kamar tamu di mana baju-baju itu berada.


Hasna memang seorang tukang jahit. Baik baju wanita atau pun lelaki, dia bisa menjahit semuanya. Bahkan selama ini upah dari menjahit itulah yang memenuhi kebutuhan sehari-harinya, apalagi sejak dia menjadi seorang janda.


Abbas tersenyum senang saat mendengarnya. Dia menatap Thomas dengan sinis, seolah mengatakan bahwa dia sudah sangat dekat dengan wanita itu.


"Apa-apaan tua bangka itu, dasar!" Thomas menjadi kesal sendiri, tetapi tunggu dulu. Kenapa Abbas sangat kesal melihatnya bicara dengan Hasna? Apa laki-laki itu cemburu?


"Ppft!" Thomas tergelak dan dengan cepat menutup mulutnya saat baru menyadari apa yang sedang terjadi saat ini.


"Kenapa kau tertawa? Dasar orang tua!" tukas Abbas dengan ketus. Memangnya dia sedang melawak sampai-sampai Thomas tertawa seperti itu?


"Hey, kalau aku orang tua. Maka kau itu tua bangka bangkotan!" balas Thomas tidak mau kalah.

__ADS_1


Terjadilah adu mulut antara Abbas dan juga Thomas yang sama-sama tidak mau kalah, membuat anak-anak mereka memegang kepala yang terasa berdenyut sakit melihat tingkah para orang tua itu.


Ayun, Ezra dan juga Adel membelalakkan kedua mata mereka saat melihat apa yang kakek Abbas lakukan. Tidak disangka laki-laki berwibawa, hangat, dan juga baik sepertinya bisa bersikap seperti ini.


"Sudah, Pa. Istighfar," ucap Nindi sambil memeluk lengan sang papa. Dari dulu sampai sekarang papanya memang tidak pernah akur dengan paman dari suaminya itu.


"Cih, papa udah banyak istighfar. Pamanmu itu yang harus disuruh banyak istighfar, kalau perlu ruqyah sekalian!" tukas Abbas sambil bersungut-sungut marah. Dia lalu meninggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Apa? Hey kau-"


"Ayah!"


Thomas tidak bisa melanjutkan ucapannya saat putranya menatap dengan tajam. Cih, dia benar-benar kesal sekali melihat tingkah kekanakan Abbas. Padahal tingkahnya juga sama saja.


Abbas memilih masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Hasna, lalu mereka bertemu di ruang keluarga.


"Kenapa Anda menyusul? Ini, sudah saya bawakan bajunya," ucap Hasna sambil menunjukkan baju untuk Abbas.


Abbas menatap tumpukan baju yang berada di tangan Hasna. "Kok bajunya ada banyak ?" Dia merasa heran, apalagi semua corak dan warna batiknya sama.


"Jadi, baju itu bukan untukku saja?" tanya Abbas dengan kekesalan yang bertambah berkali-kali lipat.


"Tidak, Tuan. Kan bagus kalau-"


"Cih, kau dan Thomas sama aja!" potong Abbas dengan tajam. Dia lalu beranjak pergi ke kamarnya karena sudah tidak mood lagi untuk berkumpul dengan yang lainnya.


Hasna tercengang melihat apa yang terjadi. Lalu, apa maksudnya kalau dia dan Thomas itu sama? Jelas-jelas mereka sangat berbeda.


"Dia pasti sedang sangat kesal sekarang. Tapi, kenapa malah aku yang kena getahnya?" gumam Hasna dengan tidak terima. Siapa yang berbuat salah, siapa juga yang kena imbasnya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Fathir sudah berkumpul dengan keluarganya. Hari ini adalah hari ulang tahuh sang ibu, untuk itulah mereka merayakannya dengan sederhana dan hanya baerbequean saja di taman samping rumah.


"Oma, aku punya hadiah untuk Oma," ucap Faiz sambil membawa kotak beludru berwarna merah, dia lalu menyerahkannya pada sang oma.


"Oh, Sayangku. Terima kasih banyak," sahut Alma dengan senyum merekah. Dia lalu membuka isi dari kotak beludru itu, dan terpana saat melihatnya. "Ini cincin yang sangat cantik, Sayang." Dia langsung memakaikannya di jari manis, dan sangat pas sekali.


"Apa Oma suka?" tanya Faiz sambil menyandarkan kepalanya ke bahu sang oma untuk bermanja ria, lalu omanya menganggukkan kepalanya. Tentu saja Alma sangat suka dengan apapun pemberian dari cucunya itu.

__ADS_1


Fathir yang sedang duduk bersebrangan dengan mereka terus melihat ke arah Faiz dengan tajam. Dia belum pernah lagi bicara sejak pertengkaran waktu itu, bahkan putraya selalu menghindarinya.


"Tapi, dari mana dia dapat uang untuk membelinya?" gumam Fathir merasa penasaran. Cincin itu jelas bukan cincin murah, dan harganya pasti menyentuh sepuluh juta atau bahkan lebih.


Fathir menghela napas kasar. Sepertinya dia harus mengurung Faiz dikamar agar mereka bisa bicara. Apalagi sebentar lagi putranya itu akan memasuki ujian kelulusan, dia tidak mau nantinya ada masalah.


Setelah acara makan-makannya selesai, beberapa kerabat Fathir pamit untuk pulang karena memang waktu sudah larut malam.


"Oma, aku ingin mengatakan sesuatu."


Fathir yang akan ke kamar menghentikan langkahnya saat mendengar suara Faiz, dia lalu melihat ke arah kamar sang mama di mana ada bocah itu di sana.


"Ada apa, Sayang. Kau mau beli sesuatu?"


Faiz menggelengkan kepalanya. "Tidak. Apa, apa minggu besok Oma sibuk?" Dia bertanya dengan ragu.


Alma tampak berpikir saat mendengar ucapan Faiz, dia mencoba untuk mengingat-ingat jadwalnya di rumah sakit.


"Ah, minggu besok Oma harus menghadiri seminar di Universitas kedokteran. Ada apa, apa kau ingin pergi ke suatu tempat?"


Faiz terdiam saat mendengarnya. Sudahlah, memang apa yang dia harapkan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan dia juga bisa mengatasi semuanya sendiri.


"Sayang, kenapa diam?" tanya Alma sambil menggenggam kedua tangan Faiz. "Katakan pada oma, apa kau ingin sesuatu?" Dia menatap dengan sendu, begitu juga dengan sang suami yang sejak tadi sibuk melihat ponsel.


"Minggu besok, semua siswa kelas tiga akan melakukan perkemahan di puncak. Lalu, para orang tua atau wali siswa harus mendampingi," jawab Faiz dengan lirih.


Alma terdiam. Dia lalu melirik ke arah sang suami yang juga sedang meliriknya. Bagaimana ini? Dia sudah terlanjur janji dengan para mahasiswa, dan tidak bisa dibatalkan begitu saja.


"Papa yang akan menemanimu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2