
Farhan dan Alma langsung mengucapkan banyak terima kasih pada Arvin karena bersedia untuk menemui polisi, sementara Arvin sendiri merasa lega dan senang karena bisa membantu mereka.
Selama ini Arvin merasa sangat bersalah pada Fathir dan kedua besannya atas apa yang sudah Clarissa lakukan, padahal selama ini mereka sudah banyak membantu keluarganya.
Itu sebabnya Arvin memilih untuk pindah ke kota lain dan menjauh dari keluarga Fathir, bahkan dia mengasingkan diri sebagai bentuk penyesalan atas apa yang terjadi, bahkan masalah itu sampai menghilangkan nyawa putrinya.
Tidak ada dendam sedikit pun dihati Arvin atas kematian Clarissa, karena dia sadar bahwa semua itu terjadi karena kesalahan putrinya sendiri. Bahkan Fathan juga harus mendekam di dalam penjara karena sudah melenyapkan putrinya, walau sekarang kebenarannya Fathirlah yang membunuh Clarissa.
Keluarga Fathir sudah sangat banyak membantunya di saat terpuruk, dan sudah menerima Clarissa dengan baik walau keluarganya tidak sederajat dengan mereka. Untuk itulah Arvin merasa sangat berhutang budi pada mereka dan bersedia untuk menemui polisi. Dia harus melakukan pembelaan terhadap Fathir, bila perlu dia ingin mencabut laporan atas kematian putrinya itu beberapa tahun yang lalu karena memang dialah yang membuat laporan tersebut.
"A-ayah, Anda di sini?" Fathir yang baru keluar dari kamar merasa terkejut saat melihat keberadaan Arvin, begitu juga dengan Faiz.
Arvin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Bagaimana kabar kalian? Kalian baik-baik saja 'kan?" Dia bertanya dengan hangat.
Fathir dan Faiz menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. "Ayah juga baik-baik saja, 'kan?" Balas Fathir.
Arvin menganggukkan kepalanya, kemudian Alma mengajak mereka semua untuk makan malam bersama karena memang sudah waktunya makan.
Mereka lalu berkumpul di meja makan dan menikmati makan malam itu dengan hangat. Arvin banyak bertanya tentang keseharian Faiz, dia merasa sangat rindu dengan cucunya itu.
Setelah makan, mereka semua berpindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan. Tentu saja Fathir langsung bertanya tentang maksud dari kedatangan Arvin, dan dijawab dengan jujur oleh mertuanya itu.
"Ayah tidak perlu melakukannya, aku memang pantas dihukum karena sudah membuat Clarissa meninggal," ucap Fathir.
"Tidak, Papa tidak boleh berkata seperti itu!" sahut Faiz dengan tajam. Dia tidak suka dengan apa yang papanya katakan, karena semua itu disebabkan ketidaksengajaan.
Arvin tersenyum, hatinya benar-benar lega melihat Faiz tumbuh menjadi laki-laki yang baik seperti ayahnya. "Apa yang Faiz ucapkan benar, Nak. Kau tidak boleh berkata seperti itu, dan ayah yakin Clarissa juga pasti tidak akan setuju."
Farhan dan Alma juga tampak marah mendengar ucapan Fathir, membuat laki-laki itu tersenyum getir.
"Pokoknya kau tidak usah khawatir dan serahkan semuanya pada ayah, ayah pasti akan mengatasi semuanya dan menebus kesalahan yang telah Clarissa lakukan. Kau fokus saja untuk pernikahanmu, ayah juga ingin melihat calon ibunya Faiz," ucap Arvin dengan senyum hangat.
Fathir mengangguk membuat semua orang tersenyum lega, mereka lalu kembali melanjutkan obrolan itu sampai menjelang malam.
*
__ADS_1
*
Setelah semua persiapan yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga, juga berbagai masalah yang terjadi. Tidak terasa sudah dua minggu berlalu, dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, yaitu hari pernikahan Fathir dan Ayun yang akan dilaksanakan dengan sangat meriah hari ini.
Untuk kedua kalinya, halaman rumah Ayun diubah menjadi bak istana raja dan ratu. Dilengkapi dengan pernak-pernik yang menambah keindahan dan kemewahan tempat itu, juga ada ratusan bunga yang mengeliligi.
Perpaduan antara warna gold dan putih semakin memancarkan aura kemewahan dan keeleganan tempat itu, membuat semua mata yang memandangnya takjub dan tidak bisa berpaling.
Seluruh keluarga besar Ayun dan Fathir sudah berkumpul di tempat itu untuk melaksanakan acara akad, terlihat Fathir juga sudah duduk di depan Abbas menunggu kedatangan wanita yang sebentar lagi akan menyandang status nyonya Fathir.
"Jangan gugup," bisik Keanu yang saat ini sedang duduk di belakang Fathir. Terlihat ada Ezra dan Faiz juga di sampingnya.
Fathir menoleh sekilas ke arah Keanu sambil menghela napas kasar. "Aku tidak gugup kok, hanya sediki cemas saja."
"Itukan sama saja!" sahut Keanu sambil tergelak. Wajah cemas Fathir terlihat sangat lucu dimatanya.
"Jangan gugup, Pa. Papa pasti bisa. Ayo, semangat!" seru Faiz dengan lantang membuat wajah sang papa memerah karena merasa malu dengan seruannya.
"Diam dan duduk saja di tempatmu, Faiz," bisik Fathir dengan tajam dan penuh penekanan. Dia yang sejak tadi merasa gugup dan cemas, semakin tertekan mendengar ocehan putranya itu.
"Hah, kenapa mereka tertawa? Memangnya apa salahku?" ucap Faiz dengan tidak mengerti.
Ezra langsung merangkul Faiz dan menyuruhnya untuk diam saat kembali mendapat tatapan tajam dari papa mereka. Jangan sampai acara akad pagi ini gagal karena keributan antara anak dan ayah.
Sementara itu, di dalam kamar terlihat Ayun sedang bersiap bersama dengan empat orang perias. Ada kedua adik dan ibunya juga di dalam kamar itu.
"Masyaallah, Mbak terlihat sangat cantik sekali," seru Nindi dengan tatapan kagum, begitu juga dengan Yuni yang merasa takjub akan kecantikan wajah sang kakak.
"Benar, Nak. Kau sangat cantik sekali, Fathir bisa pingsang melihat kecantikanmu ini," sambung Hasna.
Wajah Ayun bersemu merah karena merasa malu dengan pujian yang mereka berikan, bahkan dia tidak sanggup untuk melihat wajahnya sendiri saat ini.
"Semua sudah siap, Nyonya. Lihatlah ke depan," ucap salah satu perias yang sejak tadi mempersiapkan penampilan Ayun.
__ADS_1
Perlahan Ayun melirik ke arah kaca yang ada di hadapannya, sementara yang lain menatap dengan sangat antusias menunggu responnya.
"Ya Allah. Ini, ini wajahku?" seru Ayun dengan tidak percaya. Tangannya terulur memegang wajah yang tampak sangat cantik dengan riasan flawless, apalagi dipadukan dengan pakaian kebaya adat sunda yang semakin memancarkan aura keanggunannya.
Keempat perias itu tersenyum bangga mendengar ucapan Ayun, sementara Hasna dan yang lainnya juga tersenyun bahagia.
"Ya, Nak. Ini adalah wajahmu, wajah cantik dan anggun yang sangat menyejukkan hati dan mata," ucap Hasna sambil mengusap bahu Ayun.
Kedua mata Ayun berkaca-kaca karena tidak menyangka bahwa wajahnya akan cantik seperti itu, bahkan dia merasa jauh lebih cantik dari pada saat menikah dengan Evan puluhan tahun silam.
"Terima kasih karena sudah membesarkanku dengan baik, Bu. Ibu bahkan memberikan kecantikan Ibu padaku," ucap Ayun sambil melihat sang ibu dengan mata berbinar terang.
Hasna tersenyum. Dia lalu mengecup kening putri sulungnya itu dengan penuh syukur. "Berbahagialah, Nak. Do'a ibu akan selalu menyertaimu."
Ayun mengangguk sambil memeluk sang ibu dengan erat, lalu kedua adiknya juga tidak mau kalah. Mereka berempat saling berpelukan dengan hangat dan luapan kebahagiaan yang berlimpah.
"Ibu!"
Pelukan itu lalu terlepas saat mendengar panggilan seseorang, terlihat Adel masuk ke dalam kamar sambil membawa buket bunga ditangannya.
"Ibu, ayo kita keluar! Semua orang sudah menunggu," ajak Adel.
Ayun dan yang lainnya mengangguk. Mereka lalu bersiap untuk keluar dari ruangan itu dengan perlahan, disertai debaran jantung Ayun yang mulai berdebar tidak karuan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Lancarkanlah semua acara pada hari ini, ya Allah, dan tenangkanlah hatiku yang merasa gugup ini."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1