
Kedua orang tua Evan tersentak kaget saat mendengar ucapan Ayun, sementara Evan hanya diam dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher.
"Apa maksudmu, Ayun?" tanya Mery dengan lirih, matanya menatap sayu dengan gurat kecewa.
"Maafkan aku, Ibu. Aku sudah tidak bisa lagi bertahan dalam hubungan yang menyakitkan ini." Lirih Ayun dengan tatapan tajam dan suara yang tegas. "Ibu pernah bilang bahwa sudah menganggap aku sebagai anak sendiri, 'kan? Jika Ibu benar-benar menyayangiku, maka biarkan aku bercerai darinya dan terbebas dari semua ini." Pintanya dengan suara tertahan.
"Tapi Ayun, semua ini tidak-"
"Aku mau istirahat dulu Ayah, Ibu," potong Ayun dengan cepat, dia lalu melihat ke arah Ezra. "Kau juga istirahatlah, Nak. Besok harus kuliah lagi, 'kan?" Dia mengulas senyum tipis, lalu berbalik dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Semua orang terdiam dengan tubuh kaku dengan apa yang terjadi saat ini, apalagi saat mendengar ucapan Ayun yang benar-benar membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa.
Ezra tersenyum miris saat melihat tidak ada reaksi apapun dari ayahnya saat sang ibu mengucapkan tentang perceraian. "Selamat, keinginan Anda akan segera tercapai, Ayah. Setelah ini, Anda tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi jika ingin bersama dengan wanita itu. Anda bisa menunjukkan pada dunia betapa besar dan sucinya cinta kalian." Dia berucap dengan tajam, lalu beranjak pergi ke kamarnya.
"Hah!" Beni memijat kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Semua masalah ini seakan-akan membuat umurnya semakin berkurang.
"Kau lihat, Evan. Bagaimana mungkin kau melakukan semua ini pada istrimu sendiri?" ucap Mery dengan ketus. "Dan apa itu tadi? Kau memberikan banyak uang untuk j*a*l*a*ng itu, hah?" Dia benar-benar merasa emosi.
"Namanya Sherly, Bu."
"Apa?" Pekik Mery dengan tajam.
Evan menghela napas kasar. "Sudahlah, terserah jika wanita keras kepala dan angkuh itu mau bercerai dariku. Aku ingin lihat apa yang bisa dia lakukan di luar sana, dia merasa besar kepala hanya karena aku tidak mau menceraikannya." Dia akan menuruti apa yang Ayun inginkan, dan lihat apa yang akan terjadi nanti.
"Tidak, ibu tidak akan membiarkan kau dan Ayun bercerai," tolak Mery. Selama ini Ayun sudah memperlakukannya dengan baik, dan selalu melayaninya sepenuh hati.
__ADS_1
"Kenapa, Bu? Apa Ibu pikir wanita di dunia ini hanya dia saja," ucap Evan dengan kesal. Masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari wanita itu.
"Apa kau pikir wanita simpananmu itu jauh lebih baik dari Ayun, hah?" hardik Mery dengan sinis. "Tidak ada wanita baik-baik yang merebut suami orang lain, Evan. Ingat itu." Dia berucap dengan tajam.
"Dia tidak merebutku dari siapapun, Bu. Aku menerima kehadirannya, dan kami saling menerima satu sama lain," bantah Evan dengan tidak kalah tajam.
"Kau benar-benar sudah tidak punya akal lagi, Evan. Suatu saat nanti kau pasti akan menyesal. Kenapa kau tidak pergi saja dan tinggal dengan wanita itu?" ucap Mery yang secara tidak langsung mengusirnya putranya sendiri.
"Ibu tolong, tidak bisakah kita berhenti membahas ini?" pinta Evan dengan lirih. "Kenapa aku harus pergi dari rumah orang tuaku sendiri? Lagi pula, aku juga sudah susah payah membangun rumah ini agar nyaman untuk kita tinggali. Jika ada yang harus pergi, maka Ayunlah orangnya." Dia berucap dengan ringan, tanpa sedikit pun merasa bersalah.
"Kau benar, Evan. Kenapa kita harus terus membahas masalah ini?" ucap Beny, membuat Evan tersenyum senang karena ayahnya memberi pembelaan. "Untuk apa kita terus membiarkan Ayun tersiksa menjalani rumah tangga bersamamu."
Deg.
"Hentikan Mery, sudah cukup selama ini kita menahan Ayun untuk tetap berada di sini. Sekarang biarkan dia pergi untuk mencari kebahagiaannya sendiri, biarkan dia terbebas dari semua penderitaan ini. Aku yakin hidupnya akan jauh lebih baik dan bahagia dari pada di rumah ini saat bersama dengan seseorang yang sudah tidak punya akal pikiran dan hati nurani," ucap Beni dengan sarkas. Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
Mery hanya bisa diam dengan helaan napas frustasi. Dia lalu melirik ke arah Evan yang masih berada di sana. "Kau lihat, semua hancur hanya karena keegoisanmu. Sekarang terserah kau mau melakukan apa." Dia ikut pergi menyusul langkah sang suami.
Evan menghela napas kasar sambil mendudukkan tubuhnya ke atas sofa. Kepalanya berdenyut sakit dengan apa yang terjadi saat ini, tetapi dia tidak akan diam saja. Jika Ayun memang ingin bercerai, maka dia akan mengabulkannya. Lihat saja, wanita keras kepala itu pasti akan menyesal.
Ayun yang sedang berdiri di ujung tangga tersenyum miris. Ternyata sejak tadi dia berada di sana karena ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum, dan siap sangka jika dia akan mendengar semua ucapan mereka?
"Kau bahkan sudah membahas tentang kepergianku, Mas," gumamnya dengan getir. "Tenang saja, aku pasti akan segera pergi dari rumah ini. Tapi aku tidak akan diam saja, aku akan menuntut hak pembagian harta selama kita hidup bersama. Aku tidak akan membiarkan wanita itu menikmati hasil dari kerja kerasku selama ini." Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu kembali masuk ke dalam kamar karena sudah tidak selera untuk minum.
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya, tampak Ayun sudah rapi seperti akan pergi ke suatu tempat. Dia berjalan menuruni anak tangga sambil menenteng tas, dan berlalu ke dapur.
Semua menu sarapan sudah tersaji di atas meja, tetapi bukan dia yang memasaknya, melainkan beli dari tukang sayur yang setiap pagi keliling sekitaran kompleks rumahnya.
Tidak berselang lama, datanglah Ezra dan Adel yang langsung duduk dikursi makan, lalu menyusul kedua mertua Ayun juga.
Ayun segera menyajikan makanan dan minuman untuk mereka, lalu ikut menikmati sarapan bersama.
"Ibu mau ke mana?" tanya Adel saat melihat pakaian sang ibu sangat rapi.
"Ibu ada urusan diluar sebentar," jawab Ayun, bersamaan dengan datangnya Evan yang masih muka bantal ke tempat itu.
"Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku sudah terlambat ini," ucap Evan dengan tajam, padahal hari ini dia ada janji dengan seseorang.
"Maaf, aku bukan alarmmu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1