
Ayun tertegun saat mendengar ucapan Alma, dengan cepat dia menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu yang saat ini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak melakukan apa-apa untuk keluarga Tante, malah keluarga Tante lah yang sudah sangat banyak membantuku. Terutama Fathir, sungguh bantuannya tidak akan pernah bisa aku balas," ucap Ayun dengan lirih.
Air mata Alma menetes membasahi wajah saat mendengar ucapan tulus yang keluar dari mulut Ayun, dia merasa beruntung karena putranya bertemu dengan wanita seperti Ayun.
"Kau mungkin tidak merasa melakukan apapun untuk keluarga ini, Nak. Tapi ketahuilah bahwa semua kebahagiaan yang Allah berikan pada kami ini berkat kebaikanmu juga. Kau telah meluluhkan hati Faiz, hingga dia bisa berdamai dengan papanya, dan kau juga mengukir senyuman diwajah Fathir hingga tante bisa melihat kehidupan lagi dikedua matanya. Sungguh tante sangat berterima kasih padamu, Ayun. Tante sangat berterima kasih."
Tangisan Alma pecah hingga dia terisak pilu dalam dekapan Ayun yang langsung memeluknya dengan erat. Hati yang selama ini selalu menangis meratapi penderitaan putranya, kini terasa bebas sejak kehadiran Ayun dalam hidup Fathir.
Selama ini, Alma sudah berusaha keras untuk mengembalikan semua kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarganya. Berbagai cara telah dia lakukan, sampai akhirnya dia hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada Allah saat tidak mendapatkan hasil yang baik.
Namun, ternyata Allah menjawab segala do'a dan keluh kesahnya selama ini. Allah mengirimkan Ayun dalam kehidupan putranya, hingga akhirnya Fathir kembali hidup dan semangat seperti dulu lagi.
Bukan hanya itu saja, bahkan cucunya juga jauh berubah sejak mengenal Ayun. Faiz tidak lagi mudah marah dan lebih lembut ketika berbicara, terlebih-lebih hubungan antara Faiz dan papanya jauh lebih baik sampai membuatnya sujud syukur di hadapan Allah.
"Aku merasa senang dan bersyukur jika memang sudah membantu keluarga Tante. Tapi lebih dari pada itu, semuanya sudah menjadi kehendak Allah. Dia-lah yang telah membukakan pintu hati semua orang, dan memberikan kebahagiaan disetiap prosesnya," sahut Ayun dengan lirih. Dia mengusap punggung Alma dengan lembut, seolah sedang memberikan ketenangan pada wanita paruh baya itu.
Alma mengangguk sambil berusaha untuk mengendalikan diri. Setelah merasa tenang, dia melerai pelukan mereka dan beralih menatap Ayun dengan hangat.
"Kau sudah tahu 'kan Nak, jika Fathir menyukaimu?"
Ayun terperanjat mendengar pertanyaan Alma. Tubuhnya seketika menegang dengan dada yang kembali berdegup kencang.
"A-aku tahu, Tante," jawab Ayun dengan pelan, terlihat rona merah dikedua pipinya.
Alma mengangguk dengan senyum simpul. "Tante tidak akan menuntut apapun darimu, Ayun. Semua keputusan ada ditanganmu. Jika kau mau menerima perasaan Fathir, maka tante akan merasa sangat bahagia dan bersyukur. Tapi jika kau tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya, maka tante hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian. Hiduplah dengan bahagia, Nak."
Ayun mengangguk dengan perasaan terharu mendengar ungkapan tulus yang Alma berikan padanya, hingga tanpa sadar air mata tampak membasahi wajah.
Setelah selesai memberikan hadiah, kedua wanita itu kembali turun ke lantai satu dan bergabung dengan yang lainnya. Tampak semua orang menyambut mereka dengan tatapan penuh tanda tanya dan penasaran, khususnya dua bocah kematian yang sejak tadi ingin melihat ke lantai dua.
__ADS_1
"Kenapa kalian semua menatap kami seperti itu?" tanya Alma sambil mengernyitkan keningnya, jelas dia tahu jika mereka semua merasa sangat penasaran.
"Oma ngapain sih, lama kali di kamar? Aku udah nunggu dari tadi," ucap Faiz sambil beranjak mendekati sang oma, bermaksud untuk menanyakan hadiah apa yang omanya berikan untuk Ayun.
Alma yang paham ke mana arah pembicaraan Faiz tampak membuang muka dengan acuh. "Anak kecil mana boleh tahu urusan orang dewasa."
"Apa?" sahut Faiz dengan kaget, membuat semua orang tergelak. "Aku kan udah mau tamat SMP, bukan anak kecil lagi." Dia merasa tidak terima.
Alma mengendikkan bahu tidak peduli dan apa yang dia lakukan membuat Faiz mencebikkan bibir sebal, sementara yang lain terus tertawa melihat tingkah bocah yang satu itu.
Sesaat kemudian, Ayun beranjak pamit untuk segera pulang bersama dengan anak-anaknya. Dia kembali menyalim tangan Alma dan memeluk wanita paruh baya itu dengan hangat, tidak lupa mengucapkan terima kasih atas undangan makan malam hari ini.
Ezra dan Adel juga menyalim semua keluarga Faiz, mereka merasa senang dengan keramahan keluarga itu karena sudah menyambut mereka dengan baik.
Kedua orang tua Fathir kembali masuk ke dalam rumah saat Ayun sudah keluar, sementara Fathir sendiri mengantar mereka sampai ke mobil.
"Terima kasih untuk malam ini, Ayun. Aku senang kau datang untuk makan malam dengan keluargaku," ucap Fathir dengan pelan sambil berjalan di samping wanita itu.
Ayun mengangguk sambil mengulas senyum tipis. "Sama-sama, Fathir. Aku juga senang karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluargamu, dan terima kasih juga untuk makan malamnya." Dia menoleh ke arah Fathir yang juga sedang melihatnya.
Ayun yang melihat senyum Fathir langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa dadanya seperti mau meledak, apalagi tiba-tiba dia teringat dengan apa yang ibu laki-laki itu katakan tadi sampai membuat wajahnya memerah.
"Ka-kalau gitu aku pulang dulu, Fathir. Sekali lagi terima kasih untuk makan malamnya," ucap Ayun kemudian saat sudah berdiri di samping mobil.
Fathir mengangguk. "Hati-hati dijalan yah, aku harap dilain waktu kau mau datang ke sini lagi." Ayun mengangguk untuk menanggapi ucapannya. "Dan tolong kabarin aku jika sudah sampai. Selamat malam, Ayun."
Deg.
Ayun terpaku di tempat saat mendengar ucapan selamat malam dari Fathir, begitu juga dengan Ezra dan Adel yang sudah berada di dalam mobil.
"Hebat sekali om Fathir. Malam ini dia benar-benar menyerang ibu dari segala sisi," gumam Ezra sambil berdecak kagum dengan apa yang Fathir lakukan.
__ADS_1
Laki-laki itu memang terlihat diam dan tidak peduli, tetapi sekalinya maju, Fathir seperti tidak punya rem dan terus menerobos hati Ayun tanpa ampun.
"Se-selamat malam juga, Fathir." Ayun langsung masuk ke dalam mobil saat sudah selesai membalas ucapan Fathir, dia harus segera pergi dari tempat itu atau jika tidak dadanya benar-benar akan meledak.
Ezra lalu melambaikan tangannya pada Fathir sambil mengedipkan sebelah mata, tidak lupa dia memberikan dua jempol untuk laki-laki itu karena sudah maju tanpa hambatan.
Fathir yang melihat tingkah Ezra hanya tersenyum tipis, tetapi tampak jelas rona merah dikedua pipinya yang menandakan jika dia sedang merasa malu.
Dia lalu kembali masuk ke dalam rumah saat mobil Ezra sudah melaju ke jalanan. Senyuman tidak lepas dari wajah Fathir, hingga kakinya sampai di dalam kamar.
Fathir merebahkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba bayangan wajah Ayun melintas dalam ingatan, hingga membuatnya kembali tersenyum.
"Aku benar-benar sudah gila. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta seperti ini padanya?" gumam Fathir dengan frustasi.
Perasaan suka saja sudah membuatnya terheran-heran, apalagi rasa cinta yang sangat dia jauhi akibat kejadian kelam di masa lalu.
"Baiklah, mungkin sudah saatnya aku melupakan tentang kejadian itu. Lagi pula mereka bukan orang yang sama, dan setiap wanita itu berbeda," gumam Fathir kemudian. Dia sudah mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya dan mencoba untuk membuka lembaran baru.
Lamunan Fathir lalu terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Tidak mungkin jika yang menelponnya adalah Ayun, karena wanita itu baru saja meninggalkan rumahnya.
"Mau apa dia?" ucap Fathir saat membaca satu nama yang tertera dilayar ponselnya, dengan malas dia menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Fathir. Maaf jika aku mengganggumu," ucap seseorang disebrang telepon.
"Katakan saja apa maumu," balas Fathir dengan tajam.
"Ka- maksudku Fathan, dia, dia melakukan percobaan bunuh diri."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.