Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 129. Kita Harus Tahu Kebenarannya.


__ADS_3

Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya Dokter keluar dari ruangan membuat Ayun dan semua keluarga Fathir yang sejak tadi menunggu langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan putra saya Dokter?" tanya Farhan. Sebelumnya dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada Fathir dari Alma, dan merasa terkejut dengan pengakuan yang putranya itu berikan.


"Untuk saat ini tuan Fathir harus berada dalam pengawasan kami, Tuan. Setelah beliau sadar, barulah kami akan kembali melakukan pemeriksaan," jawab Dokter tersebut.


Farhan menghela napas kasar saat mendengar jawaban Dokter, begitu juga dengan Alma dan yang lainnya. Mereka merasa sedih dengan apa yang terjadi pada Fathir, terutama Ayun yang merasa sangat bersalah karena telah mengusulkan hal ini pada Dokter.


"Fathir adalah laki-laki yang sangat kuat, dia pasti akan baik-baik saja," ucap Farhan sambil menatap Ayun. Dia tahu jika saat ini wanita itu pasti merasa sangat sedih.


"Apa yang opa katakan benar, Bu. Papa sangat kuat, papa pasti akan segera sadar dan baik-baik saja," sambung Faiz.


Ayun menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Dia berharap semoga Fathir segera sadar dalam keadaan baik-baik saja, dan bisa menjelaskan rasa kebingungan mereka tentang pengakuan yang laki-laki itu katakan beberapa saat yang lalu.


Setelah selesai, Ayun memutuskan untuk pulang karena ada sesuatu yang harus dia persiapkan mengingat hari pernikahannya dan Fathir semakin dekat. Tidak mungkin dia membiarkan Nindi dan yang lainnya mengurus semua persiapan, apalagi kini adiknya itu sedang hamil.


"Mbak Ayun!"


Ayun yang akan menaiki taksi mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan terkejut saat melihat keberadaan Keanu dan Nindi.


"Kalian di sini?" tanya Ayun dengan sedikit terkejut. Baru saja dia memikirkan mereka berdua, dan sekarang mereka benar-benar ada di depan matanya.


"Kami ada janji dengan Dokter, Mbak. Mbak sendiri ngapain di sini?" Nindi balik bertanya.


Ayun terdiam. Dia lalu meminta maaf pada supir taksi itu karena tidak jadi pergi sambil memberikan uang sebagai ganti permintaan maafnya.


"Apa mbak boleh ikut dengan kalian? Mbak juga ingin melihat bagaimana keadaan keponakan mbak," pinta Ayun.


Tentu saja Nindi langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Tentu saja. Ayo, kita masuk!" Dia menggandeng lengan Ayun sambil membawa wanita itu masuk ke dalam rumah sakit.


Keanu sendiri hanya diam sambil menatap Ayun. Dia tahu jika hari ini wanita itu menemani Fathir ke rumah sakit. Lalu, di mana laki-laki itu sekarang?


"Fathir di mana Mbak?" tanya Keanu tiba-tiba membuat langkah Ayun terhenti.


Nindi juga ikut menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat ke arah sang suami, mengikuti Ayun yang juga menoleh ke arah Keanu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin mbak katakan pada kalian mengenai Fathir," ucap Ayun dengan raut wajah sendu.


Keanu langsung paham bahwa saat ini keadaan Fathir pasti sedang tidak baik, padahal selama beberapa hari ini sikap laki-laki itu jauh lebih hangat dari pada biasanya.


"Memangnya ada apa dengan Fathir, Mbak? Apa, apa dia sakit?" tanya Nindi. Dia memang tidak tahu mengenai pemeriksaan Fathir hari ini.


"Kita bicarakam itu nanti, Sayang. Sekarang kita harus menemui Dokter dulu," sahut Keanu.


Nindi mengangguk paham. Pantas saja sang kakak ingin ikut dengan mereka, ternyata ada hal penting yang ingin dibicarakan.


Mereka lalu pergi menemui Dokter yang sudah lebih dulu membuat janji, tampak Dokter itu menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Bagaimana keadaan Anda hari ini, Nyonya. Apa ada keluhan?" tanya Dokter itu sebelum melakukan pemeriksaan.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja, Dokter. Hanya sering merasa mual saat di pagi hari," jawab Nindi dengan senyum senang.


"Itu hal yang wajar, Nyonya. Ayo, kita lihat sih kecil yang ada di dalam sana!" Dokter lalu mempersilahkan Nindi untuk naik ke atas ranjang.


Dengan sigap Keanu membantu sang istri untuk berbaring di atas ranjang, walau istrinya itu terlihat mampu melakukannya sendiri.


Dokter lalu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan keadaan bayi yang ada dalam kandungan Nindi baik-baik saja, mengingat wanita itu pernah mengidap penyakit yang mematikan, jadi harus melakukan pemeriksa rutin dan super ketat.


Beberapa saat kemudian, Dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan dan meminta Nindi untuk kembali duduk di kursi.


"Kandungan Anda sangat kuat, begitu juga dengan janinnya. Bulan depan kita sudah bisa melihat bagaimana pergerakannya, jadi tetap banyak istirahat dan jangan banyak melakukan aktivitas di luar rumah," ucap Dokter itu.


"Alhamdulillah, terima kasih Dokter," sahut Nindi. Dia dan Keanu merasa lega mendengar hasil pemeriksaan Dokter, begitu juga dengan Ayun.


Setelah selesai, mereka bertiga lalu beranjak keluar dari rumah sakit menuju kafe yang berada tepat di sebelahnya.


Keanu segera memesankan minuman dan makanan ringan yang sehat untuk ibu hamil, dia tidak memperbolehkan sang istri untuk makan sembarangan.


"Aku mau minum kopi Mas, boleh yah," pinta Nindi sambil memasang wajah imutnya.


Keanu langsung menggelengkan kepalanya untuk menolak permintaan Nindi secara mentah-mentah, membuat wanita itu langsung mengerucutkan bibir sebal.

__ADS_1


"Minum jus aja biar sehat, Dek. Jangan bandel," seru Ayun sambil mengusap perut Nindi yang masih rata.


"Dia itu memang bandel dan keras kepala Mbak, suka buat emosi lagi," sahut Keanu, mengadukan sikap Nindi selama hamil.


Nindi mendengus sebal mendengar ucapan Keanu, sementara Ayun hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan melihat interaksi di antara mereka.


Pelayan lalu mencatat semua pesanan mereka dan berlalu pergi untuk menyiapkannya. Sesaat kemudian, pelayan itu kembali lagi sambil membawa semua pesanan mereka tadi.


"Silahkan Tuan, Nyonya. Selamat menikmati," ucap pelayan itu.


Ayun langsung mengucapkan terima kasih pada pelayan itu, begitu juga dengan Nindi yang sudah merasa haus sejak tadi.


"Jadi, apa yang ingin Mbak katakan?" tanya Keanu saat pelayan itu sudah pergi.


Ayun menyeruput jus yang ada di tangannya, lalu kembali meletakkan jus itu ke atas meja.


"Hari ini mbak dan Fathir ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Lalu, lalu hasilnya tidak baik," ucap Ayun dengan lirih.


Wajah Keanu dan Nindi berubah pias saat mendengarnya. "Apa yang terjadi dengan Fathir Mbak?" Nindi bertanya dengan khawatir.


Dengan perlahan Ayun menceritakan semua yang terjadi dalam pemeriksaan tadi, termasuk semua ucapan yang keluar dari mulut Fathir.


Jelas saja Keanu dan Nindi sangat syok saat mendengarnya, terutama ungkapan terakhir Fathir yang membahas tentang kematian Clarissa.


"Jadi, jadi yang membunuh Clarissa itu-" Nindi menutup mulutnya dengan kedua tangan karena merasa syok dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Mbak merasa sangat bersalah, gara-gara mbak Fathir jadi seperti ini. Tapi, di sisi lain mbak juga merasa bingung. Apakah semua ucapannya itu benar atau tidak." Lirih Ayun sambil terisak.


Nindi segera menenangkan Ayun yang tentu saja sangat terkejut dengan semua ini, sementara Keanu tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Kita harus mengetahui masalah ini secara jelas saat ini juga. Laki-laki itu harus mengatakan semuanya, kalau tidak aku sendiri yang akan merobek mulutnya itu. Ayo, kita harus menemui Fathan!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2