Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 53. Kurangnya Komunikasi.


__ADS_3

Tanpa diketahui oleh semua orang, Fathan merencanakan sebuah kejahatan besar untuk menghancurkan rumah tangga adiknya sendiri. Kemarahan, iri dengki, dan juga dendam berhasil membuatnya kehilangan akal sehat.


Fathir adalah laki-laki sempurna yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, bahkan juga memiliki istri yang cantik. Semua itu membuat keirian dalam hati Fathan semakin besar, apalagi dia tidak beruntung dalam hal kepintaran dan juga wanita. Dia bahkan belum menikah sampai sekarang.


Tidak tahu apa yang Fathan lakukan, yang pasti dia berhasil mendapatkan Olivia. Lalu, tidak lama hubungan mereka diketahui oleh Fathir yang tentu saja langsung murka dan tidak terima.


Keributan besar pun terjadi, baik di perusahaan dan juga di rumah membuat semua keluarga besar merasa murka. Terutama kedua orang tua mereka.


Fathir merasa frustasi karena pengkhianatan yang istri dan kakaknya lakukan. Selama berhari-hari dia tidak pulang, dan tidak menampakkan diri. Sampai akhirnya dia kembali dalam keadaan mabuk berat.


Malam itu, Fathir dan Olivia kembali bertengkar. Fathir yang kalap memarahi istrinya habis-habisan, dia bahkan sudah menjatuhkan talak 3 pada wanita itu.


Setelah pertengkaran yang terjadi, Fathir pergi ke apartemen Fathan untuk memberi laki-laki itu pelajaran. Lalu, tragedi itu terjadi. Di mana Olivia melindungi Fathir pada saat Fathan menembakkan sebuah pistol yang langsung menembus jantungnya.


"Maaf, Sayang. Semua itu salah kami," ucap Alma sambil menangis dengan tersedu-sedu.


Tubuh Faiz bergetar saat mendengar semua cerita sang Oma. Tidak, semua itu tidak benar. Bagaimana mungkin mamanya bisa berbuat seperti itu?


"Tidak, semua itu bohong!" tukas Faiz dengan tubuh gemetaran. Wajahnya tampak pucat, dan tatapan matanya terlihat sangat syok sekali.


"Sudah, Faiz. Lupakan semua itu, kau tidak perlu-"


"Jangan sentuh aku!" Faiz menepis tangan sang papa yang akan memeluk tubuhnya. "Aku tau kalau papa pembohong, semua itu tidak benar. Malam itu, malam itu aku jelas-jelas ada di sana. Aku, aku di sana saat Papa memukuli Mama." Bibirnya gemetaran.


Fathir terdiam saat mendengarnya. Dia merasa terkejut karena ternyata Faiz mengetahui kejadian di malam itu. Namun, bukan dia yang memukuli Olivia, melainkan Olivia yang memukuli diri sendiri karena tidak terima dia menjatuhkan talak.


Wanita itu mengamuk bak orang gila, dan Fathir terpaksa menampar Olivia agar sadar dari kelakukan yang tidak waras itu. Dia akui, jika dia memang beberapa kali menampar Olivia. Itu pun saat dia juga hampir kehilangan kewarasannya, karena wanita itu mengancam akan membawa Faiz pergi lalu bunuh diri bersama.


"Aku melihatnya. Aku melihat kalau Papa memukuli mama dan menyiksanya," ucap Faiz kembali.


Faiz saat itu sedang tidur, lalu mendengar suara keributan dari kamar kedua orang tuanya. Dia lalu bergegas melihat apa yang terjadi, dan merasa sangat syok saat menyaksikan sang papa memukuli mamanya.


Dengan takut, Faiz kembali ke kamar dan sembunyi di dalam lemari. Dia terus berada di sana sampai siang, bahkan menahan lapar dan haus. Sampai akhirnya sang oma menemukannya, lalu dia dibawa keluar dan langsung melihat mayat sang ibu.


Fathir memejamkan kedua matanya dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk dada. Dia tidak percaya jika selama ini putranya menyimpan semua kejadian itu dalam diam, dan tentu saja yang menyebabkan Faiz seperti itu karena seorang ayah bodo*h sepertinya.

__ADS_1


Alma langsung memeluk tubuh Faiz dengan erat. Sungguh selama ini mereka tidak tahu jika Faiz melihat keributan itu, walau pun dia salah mengartikan apa yang terjadi.


"Ti-tidak, semua itu tidak benar. Aku tidak-"


"Faiz!" teriak Fathir dan Alma secara bersamaan saat Faiz tidak sadarkan diri.


Dengan cepat Fathir mengangkat tubuh putranya ke atas ranjang, sementara Farhan segera menelepon dokter agar segera datang ke rumah mereka.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka. Dia dan yang lainnya sengaja tidak menginap karena besok paginya pasti akan sangat kerepotan.


"Kok belum tidur, Adel?" tanya Ayun saat masuk ke dalam kamar Adel, terlihat putrinya itu masih bermain ponsel.


"Ini udah mau tidur kok, Bu," sahut Adel sambil cepat-cepat menyimpan ponselnya ke dalam laci.


Ayun menggelengkan kepalanya saat melihat apa yang Adel lakukan. Dia lalu duduk di pinggir ranjang sambil membenahi selimut putrinya itu.


"Oh ya, Bu. Minggu besok ada acara perkemahan dibukit selama satu malam, dan para siswa harus ditemani oleh orang tua atau wali mereka. Apa Ibu bisa menemaniku?" ucap Adel.


"Tentu saja bisa, Nak. Besok ibu akan bicara dengan paman David supaya mengosongkan pekerjaan untuk hari itu," jawab Ayun.


Ayun lalu kembali teringat dengan Faiz, apalagi saat ini mereka sedang membahas tentang masalah sekolah.


"Em ... ada yang ingin ibu tanyakan padamu, Adel. Apa kau sudah ngantuk?" tanya Ayun dengan ragu.


Tanpa menjawab pertanyaan sang ibu, Adel yang tadinya sudah berbaring langsung beranjak duduk dengan semangat, tentu saja membuat Ayun terperangah.


"Ibu mau tanya apa?"


Ayun menghela napas kasar. Dasar Adel, putrinya itu memang selalu tidur larut malam.


"Begini, apa kau mengenal Faiz?" tanya Ayun dengan pelan.


"Faiz?" Adel mengernyitkan kening saat mendengar nama yang ibunya sebut. "Faiz anaknya om Fathir?"


Ayun langsung menganggukkan kepalanya. "Iya benar, dia anaknya tuan Fathir. Tapi tunggu, kenapa kau memanggilnya om?" Dia merasa kaget.

__ADS_1


Adel lalu mengatakan jika Ezra lah yang menyuruhnya untuk memanggil Fathir dengan sebutan om, karena laki-laki itu sudah seperti Keanu bagi mereka.


Ayun mengangguk paham. Baiklah, sekarang lupakan tentang itu, dia hanya ingin tahu bagaimana sikap Faiz saat berada di sekolah. Namun, kenapa dia merasa penasaran? Entahlah, dia pun tidak tahu.


"Lalu, bagaimana sifat Faiz saat di sekolah?" tanya Ayun kemudian.


"Cih, dia itu seorang berandalan Bu."


"Apa?" Ayun memekik kaget saat mendengarnya. "Apa, apa maksudmu, Adel?" Dia bertanya dengan bingung.


Adel menghela napas berat. Dia lalu mengatakan jika sikap Faiz itu sangat menyebalkan sekali. Laki-laki itu selalu saja mengganggu orang lain, bahkan dia saja juga sering diganggu.


Bukan hanya itu saja, Faiz juga suka diam-diam merokok di kantin sekolah. Laki-laki itu juga sering bolos, sering mengganggu guru, juga mengerjai teman-teman yang lain.


"A-apa dia suka membully teman-teman di sekolah?" tanya Ayun dengan gusar.


Adel menggelengkan kepalanya. "Dia memang suka mengganggu dan banyak gaya, tapi dia tidak sampai membully sih. Kadang dia malah suka menghajar anak-anak yang suka memalak uang orang lain, apalagi kalau membully. Bisa mati dihajarnya."


Ayun menghela napas lega, ternyata sifat Faiz tidak terlalu buruk. Sepertinya laki-laki itu hanya ingin mencari perhatian saja, dan suka membuat keributan.


"Pokoknya dia berandalan deh Bu," sambung Adel kemudian. Dia saja tidak mau dekat-dekat dengan orang pembawa keributan dan tukang marah seperti Faiz. Dia yang salah, tapi dia juga yang marah.


Ayun kembali diam. Sepertinya sesuatu yang dikhawatirkan oleh Fathir tidak terlalu buruk, dan dia akan mengatakan jika Faiz hanya ingin lebih diperhatikan saja.


"Tapi Nak, apa ibu boleh minta tolong padamu?" tanya Ayun dengan ragu, dan dijawab dengan cepat oleh anggukan kepala Adel.


"Em ... apa, apa ibu bisa minta tolong agar kau memperhatikan Faiz?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2