
Evan membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Dokter itu, begitu juga dengan Sella yang merasa terkejut dan hampir saja memukul kepala wanita paruh baya itu.
"Anak saya masih hidup, Dokter. Tapi suaminya aja yang enggak punya pikiran dan hati nurani," ucap Sella dengan cepat. Dia lalu membuang muka dengan kesal.
Evan menatap Sella dengan tajam, bisa-bisanya wanita paruh baya itu berkata demikian di hadapan orang lain. Sementara itu, Dokter yang masih berada di sana menatap mereka semua dengan penuh tanda tanya.
"Maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi, alangkah baiknya jika anak Anda dipertemukan dengan ibunya. Saya khawatir bukan hanya fisiknya saja yang akan sakit, tapi mentalnya juga," ucap Dokter itu dengan lirih. Dia lalu memberitahu jika pasien boleh pulang jika sudah menghabiskan dua botol infus agar tidak lemas.
Evan mengucapkan terima kasih pada Dokter itu, lalu beralih melihat ke arah Suci dengan sendu. "Apa Suci sudah makan, Nak?" Dia mengusap puncak kepala Suci dengan lembut.
Suci menggelengkan kepalanya. "Enggak mau, Suci mau sama mama."
Lagi, Suci kembali mengatakan keinginanya untuk bertemu dengan Sherly membuat kepala Evan berdenyut sakit. Dia benar-benar berada di ujung keputus-asaan sekarang, dan haruskah dia membebaskan Sherly agar putrinya kembali sehat?
"Kau lihat apa yang sudah kau lakukan?" ucap Sella dengan tajam membuat Evan melirik ke arahnya. "Semua ini terjadi karena perbuatanmu. Suci harus menderita seperti ini karena kau sama sekali tidak peduli padanya. Apa kau mau menghancurkan mentalnya?" Dia berucap dengan sarkas.
"Cukup, Ma!" ucap Evan dengan suara tertahan. "Jangan bicarakan masalah ini di hadapan Suci." Dia memberi peringatan bahwa mereka tidak boleh bertengkar di hadapan anak kecil.
"Kenapa? Suci juga harus tau bahwa papanya sendirilah yang sudah memisahkan dia dengan mamanya," tukas Sella dengan tajam.
Evan yang akan membalas ucapan Sella tidak jadi mengeluarkan suara saat tangannya di cengkram oleh Suci, membuat dia beralih menatap ke arah putrinya itu.
"Iya, Sayang. Suci mau apa, hem?" Evan bertanya dengan lembut.
__ADS_1
Suci menatap papanya dengan mata berkaca-kaca, bahkan kedua matanya sudah sembab akibat terlalu banyak menangis. Ternyata apa yang omanya katakan adalah benar, jika sang papa yang memisahkan dia dengan mamanya.
"Aku mau mama, Pa. Aku mau sama mama," ucap Suci dengan lirih. Sejak dulu dia tidak pernah berpisah dengan sang mama, dan sekarang dia tidak bisa melihat mamanya lagi.
Evan menatap Suci dengan sendu. "Ada papa di sini, Sayang. Besok kalau Suci udah sembuh, kita jalan-jalan ke taman bermain ya." Dia berusaha membujuk, karena ingin agar Sherly berada lebih lama di dalam penjara.
Suci kembali menggelengkan kepala dan terus meminta bersama dengan mamanya, apalagi dia mendapat ancaman dari sang oma jika tidak bisa bertemu lagi dengan mamanya kalau papanya tidak setuju dengan apa yang dia minta.
Evan menghela napas kasar dengan perasaan kalut. Dia terpaksa menganggukkan kepalanya agar Suci tidak menangis lagi, bahkan dia harus mengikat janji supaya putrinya percaya.
Sella tersenyum tipis saat melihat apa yang Evan lakukan. Dia tidak tahu apakah laki-laki itu akan benar-benar membebaskan Sherly, tetapi dia yakin jika Evan pasti sudah terpengaruh dengan apa yang terjadi pada Suci.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Abbas sedang duduk merenung. Saat ini dia berada di taman samping rumah sakit, dan sedang memikirkan keadaan Nindi.
Sudah beberapa hari berlalu, tetapi Abbas belum juga mengambil keputusan, dia bahkan sama sekali tidak bertemu dengan Ayun karena takut membuat wanita itu tidak nyaman.
"Maafkan aku, Pa. Selama ini aku selalu menuruti apa yang papa katakan, dan percaya sama semua keputusan papa. Tapi kali ini, aku tidak bisa hanya diam dan menunggu. Walau aku tidak tahu apakah Ayun bisa menyembuhkan Nindi, tapi itu adalah satu-satunya harapan saat ini," gumam Keanu dengan tatapan sendu. Kali ini dia tidak bisa lagi menunggu keputusan papa Abbas, dan memutuskan untuk langsung menemui Ayun.
Keanu kembali berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia yakin jika saat ini Ayun sedang menunggu ibunya, dan dia tahu jika ibu wanita itu sudah dipindahkan ke dalam ruang perawatan.
Ayun sendiri saat ini sedang duduk di dalam ruangan sang ibu sambil memperhatikan ibunya yang sedang istirahat. Dia merasa senang karena kondisi ibunya membaik, begitu juga dengan Yuni yang berada satu ruangan dengan sang ibu.
Ayun lalu menatap kotak makanan yang ada di atas meja. Sebenarnya dia ingin memberikan makanan itu kepada Abbas seperti biasa sekalian melihat keadaan Nindi, tetapi dia merasa ragu karena sampai sekarang Abbas tidak pernah datang lagi untuk menemuinya.
__ADS_1
"Apa tuan Abbas tersinggung dengan ucapanku?" gumam Ayun dengan kedua tangan yang saling bertautan.
Ayun lalu menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya. Beberapa hari ini dia sudah memikirkan semuanya, dan berusaha untuk menerima kebenaran yang Abbas katakan walau belum bisa menanyakannya langsung dengan sang ibu. Apalagi dengan dukungan Ezra dan Adel, membuat hatinya terasa lebih terbuka untuk menerima Abbas sebagai ayah kandungnya.
"Assalamu'alaikum."
Ayun tersentak kaget saat mendengar suara baritone seseorang, sontak dia menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang ke ruangan itu.
"Tu-tuan Keanu?" Ayun membulatkan matanya saat melihat kedatangan Keanu, dengan cepat dia beranjak dari sofa untuk menghampiri laki-laki itu.
"Maaf jika saya mengganggumu, Ayun," ucap Keanu dengan wajah datar.
Ayun menggelengkan kepalanya. "A-anda tidak mengganggu kok, Tuan. Saya hanya terkejut saja karena Anda datang ke ruangan ini." Dia membantah ucapan Keanu dengan gugup.
Keanu menganggukkan kepalanya dan bertanya bagaimana kondisi ibunya Ayun saat ini, juga keadaan adik wanita itu yang menjadi pendonor.
"Alhamdulillah keadaan ibu dan Yuni semakin membaik, Tuan. Terima kasih sudah menanyakannya," ucap Ayun, yang dibalas dengan anggukan kepala Keanu. "Bagaimana dengan keadaan Nindi, Tuan? Dia baik-baik saja 'kan?
Raut wajah Keanu langsung berubah menjadi sendu. "Apa aku boleh bicara 4 mata denganmu, Ayun?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.