
Sepanjang malam Ayun terus menjaga Fathir. Dia hanya akan terlelap setiap setangah jam saja, bahkan sampai memasang alarm diponselnya agar tidak ketiduran sampai pagi.
Ayun harus benar-benar memastikan suhu tubuh Fathir kembali normal, dan saat ini suhu tubuh laki-laki itu sudah kembali seperti biasa.
"Alhamdulillah," gumam Ayun dengan senang. Syukurlah suhu tubuh Fathir sudah kembali normal, dan dia sudah merasa lega saat ini.
"Bu!"
Ayun langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara panggilan seseorang, terlihat Ezra berjalan masuk ke dalam kamar itu sambil membawa bantal kesukaannya.
"Kenapa kau ke sini, Nak? Sudah sana, kembali ke kamarmu," ucap Ayun.
Ezra menggelengkan kepalanya sambil duduk di kasur lantai sang ibu. "Biar gantian aku yang menjaga om Fathir, Bu. Ibu pergilah istirahat." Dia menutup mulutnya yang menguap menahan ngantuk.
Ayun melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi. "Yasudahlah, kalau gitu ibu mau ke dapur saja buat sarapan." Dia beranjak dari kasur sambil mengambil sendal. Terlalu nanggung jika dia mau kembali tidur, jadi lebih baik menyiapkan sarapan saja.
Ezra mengangguk sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur itu. Tidak berselang lama, kedua matanya terlelap dan dia lupa jika harus menjaga Fathir.
Ayun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi. Setelah selesai, dia mulai menyiapkan bahan masakan yang akan dia buat.
Pagi ini Ayun akan memasak bubur ayam untuk Fathir, supaya bisa menghangatkan tubuh laki-laki itu dan bisa dicerna dengan mudah.
Sementara untuk menu yang lain, dia akan memasak udang saos tiram dan tumis brokoli. Tidak lupa dengan goreng-gorengan seperti ayam, tempe, dan tahu yang semakin memeriahkan menu sarapan pagi ini.
Semua bahan masakan sudah tersedia di atas meja, waktunya untuk mengeksekusi semua itu. Ayun bergerak dengan lincah ke sana kemari untuk menyiapkan semuanya. Dia yang memang sudah terbiasa menyiapkan semuanya tampak cekatan seperti seorang koki profesional.
Selagi menunggu kuahnya mendidih, Ayun beranjak menuju kamar Fathir untuk memeriksa keadaan laki-laki itu. Begitu masuk, dia menggelengkan kepalanya saat melihat Ezra tertidur dengan lelap.
"Ya ampun, dasar anak ini. Katanya mau menjaga omnya," gumam Ayun sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh sang putra.
Ayun lalu berjalan ke ranjang Fathir dan meletakkan punggung tangannya di kening laki-laki itu. Dia merasa benar-benar lega karena suhu tubuh Fathir tetap stabil.
Tanpa diduga, kedua mata Fathir terbuka saat tangan Ayun masih berada dikeningnya. Dia menatap tangan itu dengan heran dan bertanya-tanya.
Ayun lalu menarik tangannya dan berbalik karena ingin kembali ke dapur. Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekal tangannya membuat dia terkesiap.
"A-Ayun?" ucap Fathir dengan kedua mata terbelalak lebar, membuat Ayun terdiam kaku. "Apa, apa yang kau lakukan di sini?" Dia bertanya dengan heran dan bingung.
__ADS_1
Awalnya Fathir merasa sedang berhalusinasi saat melihat Ayun, apalagi dia baru saja terbangun dari tidurnya. Namun, ketika dia menyentuh tangan wanita itu, seketika dia sadar jika Ayun memang benar-benar nyata berada di hadapannya.
Ayun sendiri terdiam karena merasa bingung dan lucu di saat yang bersamaan. Sepertinya Fathir tidak sadar jika sedang berada di rumahnya, itu sebabnya malah keberadaannya yang dipertanyakan.
"Ayun, kau- aargh!" Fathir memekik kaget saat merasa nyeri di sekitar tangan membuat Ayun langsung berbalik dengan khawatir.
"Ada apa? Kau, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Ayun dengan cemas.
Fathir terdiam saat melihat sebuah jarum infus tertancap di punggung tangannya, dan dia semakin terkejut saat menoleh ke arah kiri dan melihat keberadaan Ezra.
"Ada apa, Bu?" tanya Ezra sambil mendudukkan tubuhnya yang masih mengantuk.
Fathir menatap kedua orang itu dengan tajam dan bingung. Kenapa ibu dan anak itu bisa berada di kamar ini, sebenarnya apa yang terjad? Dia benar-benar tidak habis pikir.
"Minum dulu, Fathir," ucap Ayun sambil memberikan segelas air padanya.
Fathir menerima gelas itu dan langsung meminum isinya sampai habis. Setelah membasahi tenggorokannya yang memang sangat kering, dia mulai memperhatikan kesekitar kamar.
"Tunggu, ini ada di mana?" gumam Fathir saat baru sadar jika dia sedang tidak berada di dalam kamarnya.
Ayun yang sejak tadi diam karena merasa lucu dengan kebingungan Fathir, memilih untuk angkat bicara.
"Apa?" pekik Fathir dengan kaget sampai membuat Ayun melompat karena terkejut, begitu juga dengan Ezra yang membuat rasa kantuknya langsung lenyap.
Fathir merasa benar-benar terkejut dengan apa yang Ayun katakan. Berbagai pertanyaan muncul dalam kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa berada di rumah Ayun?
"Jangan terkejut, Fathir. Tadi malam Faizlah yang membawamu ke sini dan dia datang dalam keadaan panik," ucap Ayun.
Fathir mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh dia tidak ingat dengan apa yang terjadi, apalagi dia bisa sampai di tempat ini.
"Kau bisa bertanya pada Faiz nanti, aku harus kembali ke dapur dulu," ucap ayun kemudian.
Ayun lalu melangkah keluar dari kamar itu karena pekerjaannya belum selesai, dia harus segera menyiapkan acara masak-memasaknya sebelum pagi datang.
Setelah Ayun pergi, Fathir langsung memberondong Ezra dengan berbagai pertanyaan tentang apa yang sudah terjadi padanya. Dia benar-benar merasa sangat malu karena sudah bertanya kenapa Ayun ada si sini, padahal dialah yang menumpang di rumah wanita itu.
Tawa Ayun langsung lepas begitu saja saat berada di dapur. Dia benar-benar merasa lucu saat melihat Fathir kebingungan seperti itu.
__ADS_1
"Fathir, Fathir. Ada saja kamu," gumam Ayun sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi syukurlah kau sudah sadar dan baik-baik saja." Dia senang karena Fathir sudah membaik.
Beberapa saat kemudian, Hasna dan Yuni datang ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Mereka melotot tidak percaya saat semua menu makanan sudah tersaji di atas meja, padahal masih pukul enam kurang.
"Apa ini Mbak, apa Mbak tidak tidur?" tanya Yuni dengan kaget.
Ayun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Apanya yang tidak tidur? Tadi jam empat mbak udah bangun, jadi sekalian masak saja."
Yuni mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar ucapan sang kakak, sementara Hasna tampak sibuk menyiapkan minuman untuk pagi ini.
Setelah semua siap, Ayun beranjak pergi ke lantai dua untuk membangunkan Adel dan juga Faiz. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Fathir keluar dari kamar.
"Kau mau ke mana, Fathir?" tanya Ayun dengan tatapan tajam, apalagi saat ini sudah tidak ada infus lagi yang tertancap ditangan laki-laki itu.
Fathir menoleh ke arah Ayun yang sedang berada di tangga. "Aku hanya ingin keluar kamar." Dia menjawab dengan pelan karena masih merasa malu, apalagi sudah mendengar semua ceritanya dari Ezra.
Ayun menghela napas lega, dia pikir Fathir akan pulang makanya keluar dari kamar. "Pergilah ke dapur, ada ibu dan Yuni di sana." Dia menunjuk ke arah dapur membuat Fathir juga ikut melihat ke arah tersebut. "Aku ingin membangunkan Adel dan Faiz sebentar." Dia lalu melanjutkan tujuannya sambil terus ditatap oleh Fathir.
Fathir tersenyum simpul. Dia memang merasa sangat malu karena sudah merepotkan keluarga ini, terutama Ayun. Namun, hatinya merasa senang dengan apa yang terjadi saat ini, seolah dia dan Ayun sudah tinggal dalam satu rumah.
Tidak berselang lama, tampak Ayun kembali menuruni anak tangga setelah membangunkan Adel dan Faiz. Dia terkejut ketika melihat Fathir tetap berdiri di tempat yang sama seperti tadi.
"Kenapa masih di sini? Ayo, kita ke dapur! Kau harus segera minum obat, jadi harus sarapan dulu. Aku sudah membuatkan bubur ayam untukmu," ucap Ayun dengan jelas, persis seperti seorang istri yang sedang mengurus suaminya.
Fathir tersenyum hangat. "Terima kasih karena sudah menjagaku semalaman, Ayun, dan maaf kalau aku merepotkanmu." Dia merasa tidak enak hati.
Ayun mengangguk. "Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak kerepotan kok. Ayo!" Dia kembali mengajak Fathir untuk sarapan.
Fathir mengikuti langkah Ayun menuju dapur, dan di sana dia bertemu dengan Hasna dan Yuni yang langsung menanyakan bagaimana keadaannya.
"Jika perhatianmu seperti ini, maka aku sudah tidak sabar untuk hidup bersama denganmu, Ayun."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.