
Sherly melangkahkan kakinya dengan gontai saat berjalan ke arah rumah. Dengan pelan dia mengetuk pintu rumah itu, dan tidak berselang lama pintu itu terbuka.
"Ya ampun Sherly, kau kenapa?" pekik Sella saat melihat keadaan putrinya.
Sherly langsung memeluk tubuh mamanya dengan erat disertai isak tangis, membuat Sella merasa kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Sella lalu membawa Sherly masuk dan mendudukkannya dikursi yang ada di ruang tamu. Kemudian dia duduk di samping wanita itu dan menatap dengan bingung.
"Apa yang terjadi denganmu, Sherly? Kenapa, kenapa penampilanmu seperti ini?" tanya Sella dengan nanar. Dia langsung menggenggam kedua tangan Sherly yang saat ini sedang bergetar.
Sherly menundukkan kepalanya dengan terisak, rasanya dia belum sanggup untuk menceritakan apa yang dia alami beberapa waktu yang lalu.
Melihat Sherly diam, Sella bergegas ke dapur untuk mengambilkan minum. Setelah itu dia kembali lagi dan menyerahkan segelas air pada sang putri.
"Minumlah, Sherly."
Sherly mengangguk lalu mengambil gelas pemberian sang mama. Dia meneguknya sampai kandas, lalu meletakkannya di atas meja.
Setelah merasa sedikit tenang, Sherly beralih menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku, aku takut, Ma. Aku takut dia mengejarku." Dia berucap dengan tubuh gemetaran.
Sella terdiam dan mencoba untuk memahami ucapan Sherly. Dia ingat jika putrinya itu pamit untuk mengantarkan sesuatu ke hotel, tetapi dia tidak siapa yang Sherly temui.
"Siapa, Sherly? Siapa orang yang kau maksud?" tanya Sella dengan tajam.
Sherly diam sejenak untuk mengendalikan diri agar tidak kembali menangis. "Di-dia, dia adalah pak Damar, Ma. Dia ingin memperko*saku."
"Apa?" pekik Sella dengan kuat disertai tatapan mata yang melotot tajam.
Sherly mengangguk dan kembali terisak sambil menundukkan kepalanya. Dia lalu mulai menceritakan apa yang sudah Damar lakukan, hingga membuatnya takut seperti ini.
Sella tercengang dengan tatapan syok saat mendengar cerita Sherly. Dia tidak menyangka jika laki-laki itu mencoba untuk menodai putrinya, bahkan istri dari laki-laki itu adalah majikan mereka sendiri.
"Kita harus mendatanginya sekarang juga, Sherly. Buk Wina harus tau apa yang sudah suaminya lakukan padamu," ucap Sella dengan tajam, dia bahkan sudah beranjak dari kursi dengan wajah merah padam.
Sherly menggelengkan kepalannya. "Tidak Ma, aku tidak mau. Aku tidak mau dihardik oleh semua orang." Dia berucap lirih.
Apa yang terjadi di masa lalu benar-benar membuatnya malu dan takut secara bersamaan. Apalagi sudah berulang kali dia dihakimi oleh banyak orang di depan umum. Cacian, makian, dan hinaan kerap dia terima dari kemarahan semua orang.
"Tapi kita tidak bisa diam saja, Sherly. Mama yakin kalau bajing*an itu pasti akan melakukan sesuatu padamu lagi," ucap Sella dengan sarkas.
__ADS_1
Tubuh Sherly kembali bergetar saat mendengarnya. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya karena tidak ingin berurusan lagi dengan laki-laki itu.
"Aku, aku tidak mau, Ma. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya dan bekerja di sana," ungkap Sherly dengan wajah pucat.
Sella menatap putrinya itu dengan sendu. Kemudian dia mengusap air mata yang ada diwajah Sherly. "Baiklah, mama akan berusaha untuk mencari pekerjaan lain untuk kita. Tapi, kita harus tetap memberitahukan masalah ini pada buk Wina, Sherly. Jangan sampai nantinya malah kau yang disalahkan."
Sherly kembali diam dan memikirkan apa yang mamanya ucapkan. Sesaat kemudian dia mengangguk membuat sang mama merasa lega.
"Yasudah. Ayo, kita ke kamar!" ajak Sella kemudian sambil membantu Sherly untuk pergi ke kamar.
Cukup lama Sella berada di kamar itu untuk menemani Sherly, dan dia beranjak pergi saat sudah memastikan jika wanita itu benar-benar terlelap
Sella menghela napas kasar sambil kembali duduk di ruang tamu. Entah kenapa kemalangan demi kemalangan selalu saja menimpa mereka, ada saja masalah yang terjadi hingga semakin menyulitkan hidup mereka.
***
Keesokan harinya, seperti biasa Sella bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan. Sejak hidup susah seperti ini, dia menjadi sosok yang lebih rajin dan bertanggung jawab mengurus rumah.
Sella bahkan sudah tidak pernah lagi memikirkan Abbas, dan dia sudah tidak tertarik lagi untuk dekat atau pun bersama dengan seorang laki-laki.
Setiap harinya, dia bekerja sebagai office girl di salah satu butik yang juga menjadi tempat Sherly bekerja. Pekerjaannya dimulai pukul 7 pagi, dan berakhir saat sebelum manghrib.
Sella tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar suara teriakan dari luar rumah. Dengan cepat dia berjalan ke arah depan untuk melihat siapa yang melakukan hal seperti itu.
"Keluar kau, dasar pelakor!" teriaknya lagi.
Terlihat ada sekitar lima orang wanita yang berada di depan rumah Sella sambil berteriak-teriak, membuat para tetangga langsung sibuk.
"Bu-buk Wina?" pekik Sella saat sudah membuka pintu dan melihat siapa yang datang ke rumahnya.
Dengan cepat wanita bernama Wina itu mendorong tubuh Sella untuk masuk ke dalam rumah, membuat Sella terhempas kuat menabrak dinding.
"Keluar kau, dasar pelakor!" teriak Wina kambali sambil mencari keberadaan Sherly yang masih berada di dalam kamar.
Dengan menahan rasa sakit disekitar punggung, Sella bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri Wina.
"Apa yang Anda lakukan, Buk? Kenapa teriak-teriak di rumah saya?" tanya Sella dengan tajam.
Wina berdecih saat mendengar pertanyaan Sella. "Di mana anakmu yang tidak tau malu itu, hah? Di mana wanita murahan itu?" Bentaknya dengan sarkas.
__ADS_1
Sella terkesiap mendengar cacian dan hinaan yang Wina layangkan untuk putrinya, sampai akhirnya wanita itu menoleh ke samping di mana Sherly baru saja keluar dari kamar.
Dengan amarah yang sedang meledak-ledak dalam dada, Wina segera menghampiri Sherly dan langsung melayangkan sebuah tamparan ke wajah wanita itu.
Plak.
Sherly terdiam kaku saat mendapat tamparan dari Wina, sementara Sella langsung mendorong tubuh wanita itu dan berusaha untuk melindungi putrinya.
"Apa yang Anda lakukan, hah? Kenapa seenaknya saja menampar anak saya?" tanya Sella dengan penuh emosi.
"Diam kau! Kau tidak berhak untuk ikut campur masalahku dengan pelakor ini. Wanita rendahan sepertimu memang tidak bisa dikasihani!" cibir Wina dengan tajam.
"Itu benar. Wanita perusak sepertinya hanya bisa merebuat suami orang saja, pantas saat ini anaknya sedang sekarat di rumah sakit karena terkena karma perbuatannya itu," hardik yang lainnya.
Sherly yang tadinya menunduk langsung menatap mereka semua dengan api kemarahan, dia tidak terima dengan apa yang mereka ucapkan tentang Suci.
"Jangan berkata sembarangan tentang putriku!" bentak Sherly.
Semua orang yang ada di sana tertawa sinis saat mendengar ucapan Sherly. "Sembarangan kau bilang? Tidak, kami mengatakan yang sejujurnya padamu. Dasar pe*la*c*u*r!"
"Tutup mulutmu!" hardik Sella.
"Kau yang harus menutup mulutmu itu, Sella!" sahut Wina. "Kurang baik apa aku selama ini dengan kalian, hah? Aku tidak peduli ucapan orang-orang dan tetap mempekerjakan mereka. Tapi dasarnya pelakor tetaplah pelakor. Dengan tidak tau malunya kau malah merayu suamiku, dan kau, kau bersama dengannya di hotel. Dasar binatang!"
Sherly menggelengkan kepalanya dan langsung membantah ucapan Wina. "Tidak, itu tidak benar, Buk. Aku tidak melakukan apapun, tapi dialah yang ingin memperk*osaku!"
Semua orang kembali tertawa mendengar ucapan Sherly. "Diperk*osa? Ya ya ya, kau pasti sangat suka sekali diperk*osa oleh semua laki-laki 'kan, dasar j*a*l*a*n*g!"
Pembelaan dan bantahan yang Sherly dan mamanya ucapkan sama sekali tidak di dengar oleh mereka, dan suasana semakin bertambah parah saat Wina melaporkan tentang masalah ini ke pihak yang berwajib.
"Aku tidak bersalah, aku tidak melakukan apapun!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1