
Faiz yang berada di dalam selimut hanya diam dan sama sekali tidak menanggapi ucapan siapapun, terutama ucapan dari papanya yang terasa menyayat-nyayat hati.
"Jadi selama ini aku salah paham?" gumam Faiz dengan mata berkaca-kaca. Tidak, tidak mungkin dia salah. Jelas-jelas dia melihat dengan kedua matanya sendiri, dan semua ini benar-benar membuat jiwanya terguncang.
"Hiks, mama." Lirih Faiz dengan tubuh gemetar. "Apa ucapan oma itu benar, Ma? Apa, apa mama yang sudah-" Dia tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya karena merasa dadanya sangat sesak.
Fathir yang masih berada di dalam kamar itu terus menatap ke arah Faiz. Dia tahu jika saat ini putranya itu sedang menangis, terlihat dari selimut yang bergoyang.
"Menangislah. Maafkan papa yang selama ini sudah menyakitimu," ucap Fathir sambil mengusap puncak kepala Faiz yang tertutup selimut.
Jantung Faiz berdegup kencang saat tangan sang papa mengusap puncak kepalanya. Tubuhnya mendadak jadi tegang, dan dia merasa ada ribuan kupu-kupu berputar-putar dalam perutnya.
"Ukh!" Faiz menggeram kesal sambil menahan tangisannya membuat Fathir terus mengusap puncak kepala putranya itu, dia senang karena Faiz tidak lagi menepis tangannya.
"Kenapa, kenapa papa jahat sekali padaku? Kenapa aku punya papa yang kejam sepertimu?" ucap Faiz dengan terisak.
"Maaf, maafkan papa."
"Kenapa papa tidak mengatakannya, kenapa papa terus mempermainkan aku seperti ini?" Faiz terus melampiaskan kekesalannya, tetapi di saat yang sama hatinya berangsur membaik.
"Maaf, semua ini salah papa."
"Benar, semua ini memang salah papa. Aku benci papa."
Fathir terus mengucapkan kata maaf untuk membalas setiap kemarahan Faiz sambil berusaha untuk menahan tawa. Entah kenapa suasana haru dan sedih beberapa saat yang lalu menjadi lucu seperti ini, apalagi kemarahan Faiz sepertinya akan terus berlanjut sampai malam nanti.
Alma dan Farhan yang memperhatikan mereka dari pintu tampak tersenyum haru saat mendengar suara kemarahan Faiz, dan juga permintaan maaf yang terus Fathir ucapkan.
Tidak tahu entah dari mana Fathir menemukan cara seperti itu, yang pasti laki-laki itu sudah jauh lebih hangat pada putranya sendiri.
Farhan menghela napas berat sambil berjalan ke arah sofa. Dia mendudukkan tubuhnya di tempat itu yang terasa sangat lelah.
"Ada apa, Pa? Apa semua baik-baik saja?" tanya Alma sambil memijat lengan sang suami. Hari ini mereka memutuskan untuk libur karena khawatir dengan keadaan Faiz.
"Semua baik, hanya saja sepertinya aku akan mengangkat Reza sebagai wakil Ceo."
__ADS_1
Alma terkejut saat mendengar ucapan sang suami. "Kau yakin, Pa?" Dia bertanya dengan tajam.
Farhan menganggukkan kepalanya. Dia sudah merasa lelah jika harus memikirkan semuanya sendiri, dan tidak ada orang yang membantunya dari dekat selain asisten pribadinya.
"Apa aku coba bicara dengan Fathir lagi?" gumam Farhan.
"Tidak, jangan lakukan itu!" bantah Alma dengan tegas. "Dia sudah banyak menderita hanya karena kekuasaan perusahaan itu, Pa. Bagaimana mungkin kau mau menempatkannya kembali?" Dia sangat tidak setuju.
"Lalu aku harus bagaimana, Ma? Terlalu banyak tekanan dari para pemegang saham dan dewan direksi, apalagi kursi wakil CEO sudah lama kosong," ucap Farhan dengan lirih.
Sebenarnya, dialah orang yang paling bersalah atas apa yang terjadi dengan Fathir. Dialah orang pertama yang mendorong laki-laki itu untuk menjadi penggantinya, karena merasa kecewa dengan cara kerja Fathan.
Namun, semua itu malah menjadi bencana untuk keluarganya sendiri. Mereka harus membayar mahal untuk semuanya, bahkan sampai sekarang penderitaan itu belum selesai juga.
"Apa Reza bisa dipercaya? Dia dulu salah satu pendukung anak itu," ucap Alma. Sejak kejadin menyakitkan itu terjadi, dia tidak mau lagi memanggil Fathan dengan menggunakan namanya.
Rasa sakit, kecewa, kemarahan, dan putus asa terus membelenggu hidupnya. Alma bahkan tidak pernah menjenguk Fathan ke penjara sampai detik ini.
"Entahlah, semoga saja dia jujur dan benar-benar bekerja keras untuk perusahaan," jawab Farhan.
Reza adalah satu-satunya kandidat yang paling kuat untuk mengisi kursi kekosongan wakil CEO. Apalagi selama dua tahu belakangan ini performa kerjanya cukup bagus, dan memenuhi kriteria.
"Kenapa harus Reza?" gumam Fathir dengan kedua tangan terkepal erat. Dia lalu menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk mengusir apa yang baru saja dia pikirkan.
Tidak, dia tidak boleh memikirkan tentang perusahaan itu lagi. "Ukh." Fathir memegangi dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Napasnya mulai memburu, dan bayangan-bayangan tentang masa lalu mulai berputar-putar dalam kepalanya.
"Sia*l!" Fathir harus segera ke kamar untuk mengambil obat sebelum kedua orang tuanya melihat, tetapi tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak untuk kerja sama.
"Tenang. Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan." Fathir terus mengingat ucapan dokter dan berusaha untuk mengalihkan pikirannya, agar tidak lagi memikirkan masalah itu dan kembali tenang.
Faiz terpaku di depan pintu saat melihat apa yang terjadi pada sang papa. Dia segera menghampiri papanya dengan wajah panik.
"Pa-papa tidak apa-apa?"
Deg.
__ADS_1
Fathir terkesiap saat mendengar suara Faiz, apalagi saat ini putranya itu sedang berdiri di hadapannya.
"Pa-papa tidak apa-apa, kembali ke kamarmu," ucap Fathir dengan lirih. Sia*l, dia tidak bisa lagi bertahan jika terus seperti ini. Dia benar-benar tidak bisa bernapas.
"Kenapa napas papa kayak gini, wajah papa juga pucat," tukas Faiz dengan gemetaran dan takut.
Sekuat tenaga Fathir berusaha untuk kembali ke kamar Faiz. Jangan sampai kedua orang tuanya melihat atau mereka akan semakin khawatir.
Faiz yang melihat keadaan sang papa langsung membantunya untuk masuk ke dalam kamar. Untung saja dia sudah sehat, jadi bisa melakukan hal seperti ini.
"Papa butuh apa? Katakan padaku," tanya Faiz dengan panik.
"O-obat, obat papa."
"Aku akan mengambilnya." Faiz segera keluar dari kamar untuk mengambil obat yang dimaksud oleh sang papa. Sebelum pergi, dia menutup pintu kamarnya agar tidak ada yang masuk. Gerak-gerik papanya tadi sangat jelas sekali jika sang papa tidak mau oma dan opanya mengetahui semua ini.
Faiz segera berlari ke kamar sang papa melewati oma dan opanya yang langsung berteriak saat melihatnya.
"Faiz, kau mau ke mana?" tanya Alma dengan panik, apalagi Faiz lari-lari seperti itu.
"Kamar papa!" jawab Faiz tanpa melihat ke arah mereka. Dia langsung masuk ke dalam kamar itu, dan tidak lupa mengunci pintu.
Faiz segera mencari di mana obat papanya berada. Semua laci sudah dibuka, tetapi tidak juga menemukannya.
"Di mana, di mana obat itu?" ucap Faiz dengan panik. "Tuhan, tolong aku." Dia terus mencarinya, tidak peduli keadaan kamar itu sudah seperti kapal pecah.
Tiba-tiba, Faiz terdiam saat mengingat jika papanya tidak ingin ada yang tahu bagaimana kondisinya saat ini. Itu artinya obat itu tersimpan di tempat yang tidak mudah ditemukan oleh orang lain.
"Brangkas," pekik Faiz. Dia segera mencarinya di dalam lemari, dan berhasil. Dia sudah melihat brangkasnya.
"Sia*l berapa nomor sandinya?" teriak Faiz dengan frustasi. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Padahal nyawa sang papa sedang berada di ujung tanduk, tetapi ada saja halangan dan rintangan. "Tuhan, tolong aku lagi."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.