Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 111. Kabar yang Mengejutkan.


__ADS_3

Semua orang berubah panik saat melihat Nindi tidak sadarkan diri. Dengan cepat Keanu membawa Nindi masuk ke dalam rumah, sementara Abbas segera menelepon Dokter untuk memeriksa keadaan putrinya saat ini.


Keanu membaringkan tubuh Nindi di kamar Ayun, lalu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu dengan sangat khawatir.


Ayun, Hasna, dan Yuni langsung mendekati Nindi dan berusaha untuk menyadarkan wanita itu. Mereka memijat tubuh Nindi sambil diberi minyak kayu putih agar rasa lelahnya menghilang, sementara para lelaki tampak menunggu di luar kamar.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nindi, Ken? Kenapa dia sampai tidak sadarkan diri seperti itu?" tanya Abbas dengan panik. "Apa jangan-jangan penyakitnya kabuh lagi?" Dia benar-benar merasa sangat khawatir.


Ezra langsung mendekati sang kakek dan mengusap punggungnya. "Sabarlah, Kek. Aku yakin tidak terjadi apa-apa dengan tante." Dia mencoba untuk menenangkan.


Abbas menghela napas kasar sambil mencoba untuk berpikir positif, tetapi tetap saja dia merasa sangat khawatir dengan apa yang terjadi.


Fathir juga tampak menenangkan Keanu yang terlihat sangat kacau. Sejak dinyatakan sembuh, memang baru kali ini Nindi sampai tidak sadarkan diri seperti itu.


"Nyonya pasti baik-baik saja, Tuan," ucap Fathir dengan yakin.


Beberapa saat kemudian, Dokter sampai di tempat itu dan langsung masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Nindi.


Semua orang menunggu dengan sangat cemas, bahkan Keanu sudah akan meneteskan air matanya melihat kondisi sang istri tercinta.


Dokter itu melakukan pemeriksaan ke seluruh tubuh Nindi tanpa terkecuali, apalagi wanita itu punya riwayat penyakit yang mematikan.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Dokter selesai memeriksa Nindi dan meminta mereka semua untuk sabar karena nanti dia akan menjelaskan tentang sesuatu.


"Bagaimana keadaan istriku, Dokter? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Keanu dengan cepat dan cemas.


Semua orang juga menatap Dokter itu dengan cemas dan gelisah, membuat Dokter itu menghela napas kasar dan meminta mereka untuk bersikap tenang.


"Nona Nindi baik-baik saja, Tuan. Beliau pingsan karena kelelahan dan terlalu banyak bergerak hingga membuat energinya menurun," ucap Dokter itu membuat semua orang menghela napas lega saat mendengarnya.


"Tapi selain itu, ada hal penting yang ingin saya sampaikan," sambung Dokter itu membuat mereka semua kembali cemas. "Saya juga belum bisa memastikannya, jadi saya harap besok Anda bisa membawa beliau ke rumah sakit untuk cek kandungan."


Deg.


Semua orang saling tatap dengan tidak mengerti mendengar ucapan Dokter, terutama Keanu yang sudah hampir mengamuk karena Dokter itu terlalu lambat menjelaskan.

__ADS_1


"Menurut hasil pemeriksaan yang saya lakukan, kemungkinan besar saat ini nona Nindi sedang mengandung, dan usia kandungannya masih sangat muda."


Semua orang tercengang dengan tatapan tidak percaya saat mendengarnya. "A-adikku sedang mengandung, Dok?" Tanya Ayun dengan lirih dan mata berkaca-kaca.


Dokter itu mengangguk. "Benar, Nyonya. Itu sebabnya saya menyarankan agar besok beliau segera dibawa ke rumah sakit, agar hasil pemeriksaannya lebih akurat."


"Alhamdulillah."


Semua orang langsung mengucap syukur saat mendengar penjelasan Dokter. Tangis bahagia kembali menggema di tempat itu sampai membuat kesadaran Nindi kembali.


"Sayang!" Keanu langsung mengecup kening Nindi saat melihat istrinya membuka mata. "Kau mau minum, Sayang?" Dia membantu Nindi yang ingin duduk.


Dengan cepat Ayun memberikan segelas air untuk sang adik, dan langsung diminum oleh Nindi sampai menyisakan setengah gelas.


"Ah, Anda di sini, Dokter?" ucap Nindi dengan pelan saat melihat Dokter pribadi keluarganya ada di rumah sang kakak.


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum ramah. "Kita periksa lagi ya, Nona." Dia ingin kembali melakukan pemeriksaan sebelum pergi.


Nindi mengangguk dan kembali berbaring di atas ranjang, dia merasa heran kenapa semua orang menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil tersenyum seperti itu.


Dokter itu kembali mengangguk sambil menyimpan peralatan medisnya karena sudah selesai melakukan pemeriksaan.


"Seperti itu saja ya, Tuan. Saya harap Anda segera melakukan apa yang saya sarankan."


Keanu mengangguk paham membuat Dokter itu kembali tersenyum, sementara Nindi menatap mereka dengan heran karena Dokter itu tidak mengatakan apa-apa.


"Sekarang istirahatlah, Nak. Ibu akan buatkan air jahe sebentar agar perutmu terasa hangat."


"Ibumu benar, Sayang. Sekarang istirahatlah, kau terlalu lelah makanya sampai pingsan seperti itu," sambung Abbas sambil menyelimuti tubuh Nindi.


Mereka semua memutuskan untuk merahasiakan kehamilan Nindi sebelum semuanya jelas, karena mereka takut jika seandainya pemeriksaan itu salah maka Nindi yang akan kecewa.


Semua orang lalu beranjak keluar dari kamar itu menyisakan Keanu dan Nindi saja. Dengan lembut Keanu mengusap kening sang istri dan memintanya untuk istirahat.


Setelah keluar dari kamar, Ayun mengantar Fathir sampai ke halaman karena laki-laki itu pamit untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Besok aku akan ke rumah sakit lagi, tapi kau tidak perlu menemaniku. Istirahat saja di rumah," ucap Fathir sambil berjalan ke arah mobilnya berada.


"Tidak apa-apa, Fathir. Aku kan sudah bilang akan menemanimu, jadi besok aku akan pergi ke rumah sakit juga," sahut Ayun. Dia sudah berjanji, maka harus ditepati.


Fathir mengangguk. "Baiklah, kalau gitu aku pulang dulu, Ayun. Istirahatlah, kau pasti lelah hari ini."


Ayun ikut menganggukkan kepalanya. "Yah, aku memang merasa lelah hari ini. Tapi rasa lelah itu tidak bisa mengalahkan kebahagiaan yang sedang kurasakan." Dia berucap dengan penuh semangat.


Fathir tersenyum senang saat mendengarnya. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Hati-hati dijalan, Fathir. Tolong kabari aku kalau udah sampai rumah," ucap Ayun sambil melambaikan tangannya.


Fathir menatap wanita itu dengan tajam. "Apa aku juga boleh mengabarimu jika sedang rindu?"


Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Fathir, tetapi sesaat kemudian dia tersenyum simpul. "Apa kau tetap merasa rindu padahal kita sudah bersama seharian?"


"Tentu saja, aku akan tetap merasa rindu walau tidak melihatmu sedetik saja. Itu sebabnya aku ingin selalu bersamamu," sahut Fathir dengan serius.


Ayun terdiam. Mencoba untuk menenangkan diri yang kembali bergejolak, dan memikirkan jawaban yang pas untuk laki-laki itu.


"Jika kau memang ingin selalu bersamaku, maka jadikanlah aku sebagai pasangan halalmu."


Deg.


Dada Fathir langsung berdegup kencang saat mendengar ucapan Ayun, dia yang sudah masuk ke dalam mobil ingin kembali keluar untuk mendekati wanita itu.


Ayun sendiri sekuat tenaga menahan diri agar tidak terlihat malu dan salah tingkah di hadapan Fathir, apalagi dia sudah berkata seperti itu di hadapannya.


"Aku akan segera datang untuk melamarmu, Ayun."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2