
Kedua mata Evan seketika membelalak lebar saat mendengar ucapan Dokter, begitu juga dengan Sherly yang saat ini tercengang dengan tatapan tidak percaya.
"A-anda bilang apa?" tanya Evan dengan terbata-bata.
Dokter itu tersenyum. Wajar saja jika mereka merasa syok dengan apa yang terjadi, karena dia sendiri juga terkejut saat tiba-tiba Suci membuka mata.
"Putri Anda sudah sadar beberapa saat yang lalu, dan kini dia kembali tidur karena pengaruh obat yang kami berikan. Kemungkin nanti-"
"Apa kau serius?" Evan langsung mencengkram kerah kemeja Dokter itu dengan kuat membuat laki-laki paruh baya itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Kau, kau bilang putriku sudah sadar?" Dia kembali bertanya dengan nanar.
Dokter itu mengangguk lalu meminta Evan untuk tenang dan melepaskan cengkraman tangannya, sementara Sherly langsung berlari ke kaca pembatas ruang ICU untuk melihat Suci secara langsung.
"Putriku. Kau, kau sudah sadar Sayang?" gumam Sherly dengan terisak. Dia mengusap kaca pembatas itu sambil menatap Suci yang sedang berbaring dengan tenang, seolah-olah sedang mengusap wajah mungil putranya itu.
Dokter itu lalu mengatakan jika Suci benar-benar sudah sadar, dan dia sendiri juga terkejut saat melihat Suci sudah membuka kedua matanya.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan pasien belum benar-benar sadar karena tidak memberikan respon terhadap suara. Namun, semua ini benar-benar keajaiban yang Tuhan berikan untuk pasien karena sudah membuka kedua matanya, walau keadaannya sangat lemah," ucap Dokter itu kemudian.
Evan langsung terduduk dengan helaan napas lega saat mendengar ucapan Dokter. Dia benar-benar merasa bersyukur karena sekarang putrinya sudah sadar, walau dalam hati kecilnya masih belum percaya dengan apa yang Dokter itu katakan.
__ADS_1
Sherly yang juga mendengar ucapan Dokter itu tampak memejamkan kedua matanya sambil mengucap syukur yang teramat besar. Dia sempat merasa putus asa dengan keadaan Suci, apalagi saat Dokter mengatakan jika otak putrinya hampir mengakami kelumpuhan total.
"Terima kasih, ya Allah. Terima kasih banyak," gumam Sherly sambil meletakkan kedua tangannya di dada.
Dokter itu kembali tersenyum saat mendengar gumaman Sherly. Dia lalu pamit untuk kembali memeriksa keadaan Suci sebelum gadis kecil itu kembali sadar.
"Aku tidak menyangka bahwa Suci benar-benar kembali sadar, tapi aku merasa bersyukur Tuhan masih memberikan kesembuhan padanya. Padahal Dokter sudah mengatakan jika tidak ada harapan lagi, sungguh kuasa Tuhan sangatlah besar," ucap Evan sambil menatap ke arah Sherly.
Sherly melirik ke arah laki-laki itu dengan sendu. Tiba-tiba dia teringat dengan pertemuannya dan Ayun tadi, serta semua perkataan yang wanita itu katakan. Mungkinkah maaf dari Ayunlah yang menjadi jalan kuasa Allah hingga membuat putrinya kembali sadar?
"Ya Allah." Sherly kembali terisak pilu. Sungguh kuasa Allah sangatlah besar. Ketika dia sudah benar-benar menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk meminta maaf dengan tulus, lalu Allah memberikan balasan yang sangat luar biasa.
Sherly sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan apapun demi kesembuhan Suci, juga akan menebus semua kesalahan yang telah dilakukan pada Adel dan juga Ezra.
Evan tertegun saat mendengar ucapan Sherly. Apa yang wanita itu katakan adalah benar, saat ini Tuhan masih memberikan kesempatan pada mereka untuk menebus semua kesalahan yang telah mereka lakukan. Baik pada Suci, pada Ayun, juga pada Ezra dan Adel.
"Ayah berjanji tidak akan lagi menyakiti kalian, Nak. Ayah berjanji akan menebus semua kesalahan yang telah ayah lakukan," gumam Evan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Semua yang terjadi di masa lalu adalah kesalahannya. Dia sudah menyakiti dan menghancurkan kehidupan banyak orang, terutama anak-anaknya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sudah tiba di sebuah butik. Senyum mengembang terbit dibibirnya kala melihat seorang laki-laki sedang melambaikan tangan ke arahnya, hingga membuatnya tergelak dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
Dengan cepat Ayun menghampiri Fathir yang sedang berdiri bak seorang model di depan pintu butik itu.
"Kenapa harus melambaikan tangan segala, aku kan sudah melihatmu?" tanya Ayun dengan heran bercampur lucu.
Fathir mencebikkan bibir sambil menggelengkan kepalanya. "Aku kan tidak melambaikan tangan kepadamu, jadi kenapa kau bertanya?" Dia berucap sambil bersedekap dada.
Ayun mengernyitkan kening heran. Jelas-jelas Fathir melambaikan tangan padanya, apalagi laki-laki itu sedang menunggunya.
"Jika bukan padaku, lalu pada siapa?" tanya Ayun dengan bingung. "Kan yang ada di sini cuma aku." Ucapnya kembali sambil memperhatikan ke sekitar tempat itu.
"Wah, kau pede sekali yah," seru Fathir sambil berdecih, membuat Ayun semakin bingung. "Aku bukan melambaikan tangan padamu, tapi sedang melambaikan tangan pada kamera, karna aku sudah menyerah dan tidak sanggup menahan segala pesona yang kau berikan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.