
Fathir lalu duduk di kursi santai yang telah disiapkan oleh Dokter, kemudian Dokter itu mulai menjalankan segala proses untuk memasuki alam bawah sadar laki-laki itu.
"Tenangkan diri dan kosongkan segala pikiran yang memenuhi kepala Anda. Anggaplah jika saat ini Anda sedang berada di atas kertas putih yang masih kosong. Tidak ada beban, tidak ada pikiran apapun yang mengganggu. Fokuslah pada apa yang ada di depan mata Anda, juga dengarkan apa yang saya ucapkan," jelas Dokter itu sebelum memulai sesi pertemuan mereka.
Fathir menarik napas panjang sambil berusaha untuk merilekskan diri, lalu menghembuskannya secara perlahan sambil menatap ke arah suatu benda yang bergerak ke sana kemari di depan matanya.
Ayun yang juga sedang memperhatikan tampak mencengkram kedua tangan dengan erat. Kekhawatiran menerpanya, entah kenapa dia jadi merasa gelisah seperti akan ada sesuatu hal besar yang terjadi.
Tiba-tiba Ayun tersentak kaget saat sebuah tangan menepuk punggung tangannya dengan lembut, sontak dia langsung menoleh ke arah samping.
"Ta-"
"Sstt." Alma meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar Ayun tidak mengeluarkan suara membuat wanita itu langsung menutup mulutnya.
Alma lalu mengangguk sambil melirik ke arah Fathir yang terlihat fokus mendengarkan segala ucapan Dokter, seolah memberitahu Ayun bahwa dia juga ingin mendampingi putranya dalam pertemuan kali ini.
Ayun tersenyum lalu mengangguk paham. Dia merasa sedikit lega dengan kedatangan sang calon mertua, padahal semalam wanita paruh baya itu mengatakan jika ada jadwal operasi jadi tidak bisa menemani Fathir.
Beberapa saat kemudian, terlihat Fathir sudah terlelap setelah berhasil disugesti oleh Dokter. Dokter itu lalu meminta Ayun dan Alma untuk mendekat, tetapi jangan sampai menimbulkan suara agar konsentrasi Fathir tidak terganggu.
Alma menatap Fathir dengan sendu, semoga setelah ini keadaan putranya itu akan membaik, karena keadaan Fathan saat ini juga jauh meningkat setelah bertemu dengannya.
Dokter lalu mulai menanyakan tentang sesuatu yang sebelumnya pernah mereka bahas, yaitu tentang masa kecil Fathir dan juga Fathan. Berawal dari kenangan indah dulu sebelum menarik benang merah atas kejadian buruk yang menimpa kakak beradik itu.
"Apa Anda sangat menyayanginya?" tanya Dokter setelah Fathir menceritakan semuanya.
"Tentu saja, dia adalah kakakku. Jadi aku sangat menyayanginya. Tapi-" Fathir menggantung ucapannya dengan wajah yang semula ceria kini tampak mengernyit sendu, membuat Ayun dan Alma menatap cemas.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?" tanya Dokter itu dengan pelan.
Fathir terdiam dengan napas yang mulai memburu, wajahnya tampak pucat dengan keringat yang mulai membasahi kening.
"Tuan Fathir, apa Anda mendengar saya?" tanya Dokter kembali saat tidak mendapat jawaban.
Seketika suasana menjadi sesak untuk Alma dan Ayun. Kedua wanita itu melihat jelas kesedihan diwajah Fathir, bahkan saat laki-laki itu sedang berada dalam keadaan seperti ini.
"Dia manusia kejam, kenapa dia tega melakukan hal itu padaku?" ucap Fathir dengan lirih, suaranya bahkan sampai bergetar. "Kenapa dia melakukan itu pada adiknya sendiri? Aku, aku bahkan akan memberikannya jika dia mengatakan semua itu sejak awal." Dia mulai terisak.
Alma menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar dan melihat Fathir menangis. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat putranya seperti ini, apakah kesedihan ini yang disembunyikan oleh Fathir?
__ADS_1
"Dasar kakak brengs*ek, dia bahkan tidak pantas kusebut kakak. Dia kurang ajar, aku sangat membencinya" sambung Fathir kembali dengan tersedu-sedu.
Hati Ayun sangat sakit bak diiris-iris saat melihat Fathir menangis. Rasa sakit yang selama ini ditahan oleh laki-laki itu langsung mencuat ke permukaan. Pantas saja mental Fathir sampai terganggu seperti itu.
"Apa salahku, kenapa dia menganggapku sebagai musuh? Dia bahkan berselingkuh dengan istriku sendiri, mereka pengkhianat!"
Fathir terus mengeluarkan segala amarah yang selama ini tertahan dalam hatinya, seolah ada dorongan besar yang membuatnya melakukan semua itu.
Setiap kata-kata yang Fathir ucapkan bak besi panas yang menghunjam dada Alma. Selama ini putranya itu selalu diam dan tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya seperti ini, bahkan saat semua keburukan Fathan terungkap.
Hanya sekali dia melihat kemarahan dan murka yang Fathir tunjukkan, setelahnya laki-laki itu hanya diam dan menyendiri, menjauhi semua orang yang ada disekitarnya.
"Anakku. Maafkan mama, Nak. Maafkan mama." Alma mulai terisak, membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan Fathir selama ini.
Dengan cepat Ayun memeluk tubuh Alma untuk menenangkan wanita itu. Walau dia merasa sedih, tetapi dia juga merasa lega karena Fathir benar-benar mengeluarkan semua rasa sakit yang sejak dulu dia tahan.
"Dia bahkan ingin membunuhku. Kenapa, kenapa kakakku sangat kejam?" ucap Fathir bak seorang adik yang mengadu pada orangtua bahwa sang kakak menjahatinya. "Seharusnya aku yang membunuhnya karena sudah melakukan semua itu, tapi kenapa malah Clarissa, kenapa malah istriku yang mati?"
Deg.
Ayun dan Alma terkesiap saat mendengar ucapan terakhir Fathir, begitu juga dengan Dokter yang sejak tadi mengawasi kondisi laki-laki itu.
Bruk.
Tubuh Alma langsung terjatuh ke lantai saat mendengar semuanya, sementara Ayun hanya bisa tercengang dengan tatapan tidak percaya dengan pengakuan yang Fathir ucapkan.
"Apa Anda membunuh seseorang?" tanya Dokter itu dengan ragu. Dia sendiri merasa terkejut saat mendengar ucapan Fathir.
Fathir mengangguk lemah. Ingatan tentang malam itu kembali memenuhi pikirannya, hingga membuat kondisinya memburuk.
"Fathir!" pekik Ayun dan Alma secara bersamaan saat melihat Fathir mulai mengalami kejang.
Dokter segera menugaskan perawat yang ada di depan ruangan itu untuk membawa Ayun dan Alma keluar, lalu dia bergegas memeriksa keadaan Fathir sebelum hal yang tidak mereka inginkan terjadi.
"Fathir, anakku!" seru Alma dengan terisak saat sudah berada di luar ruangan.
Ayun juga tidak dapat menahan air matanya yang sudah mengalir deras membasahi wajah. Dengan tubuh gemetar dia memeluk Alma seraya menenangkan wanita paruh baya itu.
"Tenanglah, Tante. Aku, aku yakin Fathir akan baik-baik saja."
__ADS_1
Alma menggelengkan kepalanya. Dia sangat takut terjadi sesuatu dengan Fathir, apalagi dia tadi sempat melihat putranya itu mengalami kejang.
"Apa, apa yang sebenarnya terjadi, Ayun? Apa kau dengar ucapan Fathir tadi?" tanya Alma dengan lemah dan tergagap.
Ayun terdiam. Sesaat kemudian dia mengangguk dengan hati penuh luka, dia sendiri tidak mengerti dan sangat syok dengan apa yang Fathir katakan.
"Ya Allah." Tubuh Alma langsung lemas membuat Ayun segera mendudukkannya ke kursi. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi, ya Allah? Apa, apa selama ini-" Dia tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Ayun sendiri hanya bisa diam sambil memeluk tubuh Alma. Apa yang Fathir katakan benar-benar membuat mereka sangat syok, bahkan sangat tidak bisa untuk dipercayai.
"Apa maksudmu, Fathir? Apa sebenarnya kau yang sudah membunuh Clarissa?" Ayun memejamkan kedua matanya dengan air mata yang semakin mengalir deras.
Tanpa mereka berdua sadari, saat ini Farhan dan Faiz sedang berjalan menghampiri mereka. Farhan sengaja mengajak Faiz supaya bisa melihat Fathir secara langsung, lalu mereka terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas.
"Ada apa ini?" tanya Farhan dengan heran saat melihat Ayun dan Alma menangis dengan tersedu-sedu.
Alma dan Ayun langsung mendongakkan kepala mereka saat mendengar suara seseorang, sontak Alma beranjak dari kursi untuk menghampiri sang suami.
"Mas!" Alma menabrakkan tubuhnya ke tubuh Farhan membuat suaminya itu tersentak kaget. "Fathir Mas, Fathir!" Tangisannya semakin menjadi-jadi.
Farhan berusaha untuk menanangkan sang istri dan memintanya untuk berhenti menangis, sementara Faiz beranjak mendekati Ayun dengan wajah pias.
"Apa yang terjadi, Bu? Apa yang terjadi pada papa?" tanya Faiz dengan penuh khawatir.
Ayun menatap Faiz dengan sendu, dia lalu menarik tubuh laki-laki itu dan memeluknya dengan erat membuat Faiz terkesiap.
"Tidak papa, Sayang. Papamu baik-baik saja," ucap Ayun dengan lirih, tubuhnya gemetaran dalam pelukan Faiz.
Ayun benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat ini. Perasaan dan pikirannya terasa sangat kacau.
"Jika apa yang Fathir katakan benar, lalu bagaimana dengan Faiz? Apa yang akan terjadi padanya jika dia tau kalau papanya sendiri yang membunuh ibunya?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1