
Adel tertegun saat mendengar ucapan Faiz, sementara Faiz sendiri memegang kedua bahu Adel dengan erat.
"Menangislah jika kau memang ingin menangis, jangan ditahan. Aku tau bagaimana sakit dan sesaknya saat kau memaksakan diri," sambung Faiz.
Air mata Adel langsung luruh membasahi wajah saat mendengar ucapan Faiz, membuatnya langsung menunduk dengan terisak.
"Aku, aku sangat membenci ayah. Tapi, tapi aku juga sangat merindukannya. Aku tidak mau memaafkan ayah, tapi kenapa, kenapa, kenapa dia-"
Faiz langsung memeluk tubuh Adel dengan erat saat melihat gadis itu menangis dengan sesenggukan, membuat ucapan Adel terhenti. Dia benar-benar merasa kasihan dan ikut sedih dengan apa yang terjadi dengan gadis itu saat ini.
"Aku mengerti, Adel. Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Faiz sambil mengusap punggung Adel.
Tangisan Adel semakin kencang terdengar. Dia memeluk tubuh Faiz dengan erat sambil menumpahkan seluruh air mata dan rasa sakit yang sedang dia rasakan saat ini.
Sungguh hati Adel terasa sangat pedih bak teriris sembilu. Selama ini dia berusaha untuk menerima perpisahan kedua orang tuanya, walau perasaannya hancur karena semua itu.
Sekuat tenaga dia menahan diri, mencoba untuk memahami dan menekan rasa sakit atas apa yang telah terjadi. Namun, kenapa rasa sakit itu malah kian semakin menjadi?
"Kenapa, kenapa ayah tega sekali padaku? Huhuhu," ucap Adel dengan sesenggukan. Beberapa kali dia mengusap air mata yang membasahi wajah, tetapi air mata itu tetap mengalir deras.
Faiz hanya diam sambil tetap mengusap punggung Adel. Biarlah saat ini gadis itu menumpahkan semuanya agar nantinya Adel merasa lega, karena dia tidak mau jika Ayun dan juga yang lainnya melihat keadaan gadis itu saat ini.
Cukup lama Adel menangis dan terus mengucapkan rasa kecewanya pada sang ayah, sampai akhirnya dia merasa lelah dan melepaskan tubuh Faiz yang sejak tadi dipeluk dengan erat.
"A-aku mau pipis," ucap Adel dengan lirih membuat Faiz terkesiap.
"Ka-kalau kau mau pipis ya pipis aja, kenapa harus bilang padaku?" balas Faiz dengan heran, kenapa pula Adel harus laporan padanya jika ingin buang air kecil?
Adel menghela napas kasar. "Gimana aku mau pipis kalau kau di dalam sini?" Dia berucap dengan tajam membuat Faiz langsung berbalik dan segera membuka pintu yang ada di hadapannya.
Brak.
Faiz menutup pintu itu dengan kencang sambil menahan malu. Gara-gara terhanyut oleh kesedihan Adel, dia sampai lupa jika masih berada di dalam toilet wanita.
__ADS_1
Adel sendiri terkekeh pelan saat melihat ala yang Faiz lakukan. Tidak disangka jika laki-aki itu akan sangat perhatian seperti itu padanya, bahkan Faiz membuat hatinya terasa lebih lega.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang berhadapan dengan seorang Dokter. Beberapa saat yang lalu, Dokter itu sudah memeriksa keadaan tangannya dengan ditemani oleh Ezra dan juga Fathir.
"Keadaan tangan Anda sudah membaik, Nyonya. Hanya perlu dua sampai tiga kali pemeriksaan lagi, maka tangan Anda akan pulih secara total," ucap Dokter sambil menunjukkan hasil pemeriksaannya pada Ayun.
Ayun menyucap syukur atas kesembuhan tangannya. Walau belum bisa digerakkan secara bebas, tetapi rasa sakit dan bengkaknya sudah jauh berkurang.
"Baiklah. Terima kasih banyak, Dokter," balas Ayun sambil menganggukkan kepalanya.
Dokter itu membalas anggukan kepala Ayun dengan senyum hangat, dia juga tersenyum kepada Fathir dan Ezra yang sejak tadi berada di ruangan itu.
Dokter lalu memberikan resep obat tambahan pada Ayun agar wanita itu bisa menebusnya di apotek, lalu yang menerimanya adalah Ezra.
"Terima kasih, Dokter. Kami permisi dulu," ucap Ayun kemudian.
Dokter itu menganggukkan kepalanya sambil ikut beranjak dari kursi saat semua orang berdiri, sementara Ayun, Ezra dan Fathir bergegas keluar dari ruangan itu menuju apotek untuk menebus obat.
"Tunggu sebentar," ucap Ayun tiba-tiba saat teringat oleh sesuatu.
"Teringatnya, ke mana Adel dan Faiz? Bukannya sejak tadi mereka belum kembali?" seru Ayun dengan panik.
Ezra dan Fathir terkesiap saat mendengar ucapan Ayun. Benar juga, sudah hampir satu jam Adel dan Faiz pergi tetapi sampai saat ini mereka belum kembali juga.
"Tadi katanya Adel mau ke toilet, Bu. Mungkin setelah itu dia dan Faiz keluar," sahut Ezra.
Ayun menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Ezra. "Tidak, Nak. Tidak mungkin adikmu langsung keluar."
Fathir menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ucapan Ayun. Tidak mungkin Adel dan Faiz keluar dari rumah sakit, apalagi putranya itu ingin sekali menemani Ayun periksa.
"Jadi, mereka ke-" Ezra tidak dapat melanjutkam ucapannya saat mengingat sesuatu. Mungkinkah, mungkinkah mereka bertemu dengan ayahnya?
Ayun dan Fathir menatap Ezra dengan heran saat tiba-tiba raut wajah laki-laki itu berubah panik dan merah padam. "Ada apa, Ezra? apa terjadi sesuatu dengan mereka?" Fathir bertanya dengan panik juga.
__ADS_1
Ezra mengusap wajahnya dengan kasar. S*ial, kenapa tadi dia tidak mengantar Adel ke toilet? Dia yakin sekali jika adiknya saat ini pasti bertemu dengan ayah mereka.
"Ibu!"
Ayun dan yang lainnya tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang, sontak mereka langsung berbalik dan merasa lega saat melihat kedatangan Adel dan juga Faiz.
"Adel, Faiz. Kalian dari mana saja?" tanya Ayun dengan khawatir. Dia menatap mereka dengan tajam dan penuh tanda tanya.
Faiz langsung melirik Adel saat mendengar pertanyaan Ayun, sementara Adel sendiri terdiam bingung karena tidak tahu harus mengatakan apa pada ibunya.
"Ta-tadi, tadi kami-"
"Tunggu," potong Ayun dengan cepat sambil mendekati Adel yang sedang menunduk membuat Gadis itu tersentak. "Apa kau habis menangis, Adel?" Dia bertanya dengan lirih sambil menatap wajah putrinya yang sembab.
Adel langsung mengusap wajahnya untuk memastikan jika tidak ada lagi air mata yang membekas di sana. "Si-siapa yang menangis, Bu? Ta-tadi aku sakit perut, makanya lama di toilet." Dia terpaksa berbohong.
Ayun menatap dengan curiga, tetapi dia memilih untuk tidak bertanya lagi karena saat ini mereka harus segera menebus obat.
"Ya sudah, nanti kita sekalian beli obat sakit perut supaya perutmu tidak sakit lagi, Adel."
Adel langsung menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan sang ibu, sementara Ezra dan Fathir terus menatapnya dengan tajam.
"Dasar brengs*ek." Ezra mengepalkan kedua tangannya dengan penuh kemarahan. Jelas dia tahu jika sang adik saat ini sedang berbohong, dan dia juga bisa melihat wajah sembab adiknya yang pasti habis menangis.
Dari kejauhan, Evan terus memperhatikan Ayun dan kedua anaknya dengan sedih. Sejak tadi dia mencari keberadaan Adel setelah memastikan keadaan Suci, dia ingin kembali bicara dengan putrinya itu.
Namun, siapa sangka jika ternyata bukan hanya Adel yang berada di tempat itu? Evan juga melihat putra dan mantan istrinya berada di sana, juga ada Fathir dan lelaki yang bersama dengan Adel tadi.
"Kenapa mereka semua ada di sini? Lalu, kenapa asisten Keanu juga bersama dengan mereka?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.