
Sesuai dengan apa yang Keanu katakan pada Evan, hari ini dia dan Fathir akan ke rumah sakit untuk menemui laki-laki itu. Tidak susah untuk mencari di rumah sakit mana Evan dirawat, karena dia memiliki koneksi yang sangat luas.
"Bagaimana masalah Robin, apa sudah selesai?" tanya Keanu pada Fathir dalam perjalanan.
"Sudah, Tuan. Dia meminta balasan agar kita menyetujui proyek pembangunan hotelnya di kawasan pantai timur," jawab Fathir. Dalam dunia bisnis, tentu saja tidak ada yang gratis dan harus memberi imbalan.
Keanu menganggukkan kepala, baginya sesuatu yang Robin minta tidak terlalu penting. Lalu, ada hal lain yang saat ini sedang mengganjal dalam pikirannya.
"Apa yang kau bicarakan dengan Ayun semalam, Fath? Sepertinya sesuatu yang penting," tanya Keanu kembali.
Fathir langsung saja menjawab tentang bantuan yang dia minta dari Adel, karena memang semua itu tidak bersifat rahasia.
"Berhenti memicu pertengkaran dengan putramu, Fathir. Kalian adalah anak dan ayah, bukannya musuh," ucap Keanu dengan penuh penekanan.
Fathir menghela napas kasar, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak berubah dan tetap datar. "Masalah yang dia lakukan terakhir kali sudah benar-benar keterlaluan, Tuan. Saya tidak bisa lagi hanya diam melihatnya." Dia berucap dengan tajam.
Terakhir kali, Fathir harus datang ke sekolah karena putranya membuat masalah besar. Bukan hanya itu, putranya bahkan menjadi ketua geng yang menggerakkan para siswa agar berbuat yang tidak benar. Salah satunya yaitu merokok dan membawa minuman keras ke lingkungan sekolah.
"Aku tau, tapi cobalah mengerti dia. Saat ini dia masih merasakan masa-masa puber, kalau kau mendekatinya dengan perlahan. Aku yakin dia pasti tidak akan lagi membuat masalah," tukas Keanu.
Fathir tersenyum sinis saat mendengarnya. Sudah berulang kali dia mencoba untuk dekat, tetapi sikap putranya malah semakin menjadi-jadi.
"Jangan samakan putramu dengan wanita itu, Fathir. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua itu," ucap Keanu kemudian.
Fathir hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat untuk menanggapi ucapan Keanu, membuat laki-laki itu hanya bisa menghela napas kasar.
Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Dengan langkah lebar, Keanu dan Fathir segera menujur ruangan di mana Evan berada.
Sementara itu, Evan sendiri sedang berhadapan dengan Sherly. Tadi malam, dia menyuruh wanita itu untuk datang karena ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Kau membawa Suci?" tanya Evan.
Sherly menganggukkan kepalanya. "Tidak ada yang menjaganya di rumah, makanya aku bawa." Dia meletakkan Suci yang sedang tidur di atas sofa.
Evan diam sejenak sambil memperhatikan apa yang wanita itu lakukan, tatapannya lalu berhenti ke arah Suci yang sedang terlelap dengan nyaman. "Putri Kecilku." Kedua tangannya mengepal kuat, dan berusaha untuk mengendalikan emosi yang mulai mengaduk-aduk perasaan.
__ADS_1
"Apa kau udah makan, Evan? Kalau belum biar aku-"
"Aku sudah makan," jawab Evan dengan cepat. "Sekarang duduklah dengan tenang."
Sherly langsung menutup mulutnya saat mendengar ucapan sarkas Evan. Dia lalu menarik kursi ke samping ranjang, dan duduk di sana dengan perasaan gusar.
"Apa kau tau, kenapa aku bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Evan dengan tajam.
Walau merasa bingung dengan pertanyaan Evan, Sherly tetap menganggukkan kepalanya. "Aku tahu, Van. Dan aku sadar kalau semua itu karena kesalahanku." Dia mengakui sebelum dipojokkan oleh Evan, karena biar bagaimana pun memang dialah yang memulai semua masalah.
Evan tersenyum sinis. Dengan cepat tangannya menyambar kertas yang ada di atas ranjang, bermaksud ingin melemparnya ke hadapan Sherly.
"Aku terkena serangan jantung. Dan kau tau apa alasannya?" ucap Evan dengan suara tertahan, rahangnya bahkan sudah mengeras karena menahan amarah.
Sherly menunduk, tidak berani menatap Evan atau menjawab ucapan laki-laki itu, karena hasilnya akan tetapi sama jika dialah yang bersalah.
"Kenapa kau memberi aku obat perangs*ang, Sherly?"
Deg.
Tanpa menjawab ucapan Sherly, Evan langsung melemparkan kertas yang dia pegang ke hadapan wanita itu membuat Sherly terkesiap.
"Kau baca itu baik-baik!" perintah Evan dengan tajam.
Tubuh Sherly gemetaran saat melihat kertas yang berada dipangkuannya. Walau tidak memahami semua tulisan dikertas itu, tetapi dia dapat melihat dengan jelas nama obat yang sudah beberapa kali dia berikan pada Evan.
"Kau benar-benar keterlaluan, Sherly. Bagaimana mungkin kau memberikan obat itu padaku, apa kau pikir aku tidak bisa lagi memuaskanmu, hah?" bentak Evan, seketika membuat tubuh Sherly bersimpuh dilantai.
"Maaf, Evan. Aku, aku tidak bermaksud seperti itu,"
"Jadi apa maksudmu? Kau memberikan obat itu padaku supaya aku memuaskanmu, begitu?" Evan benar-benar murka. "Bukan hanya memuaskan, bahkan kau juga ingin membunuhku dengan obat gila itu!"
Sherly langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Evan. Aku tidak pernah berpikir untuk-"
"Lalu apa, hah? Apa alasanmu melakulan hal gila seperti itu?" pekik Evan kembali. "Kau benar-benar sukses menghancurkanku, Sherly. Dasar perempuan tidak waras!"
__ADS_1
Sherly yang akan kembali membantah ucapan Evan, tidak dapat mengeluarkan suaranya saat mendengar makian laki-laki itu. Napasnya memburu seakan tercekat ditenggorokan, dengan tubuh gemetaran yang tidak dapat ditahan.
"Seharusnya aku memang tidak mengeluarkanmu dari penjara, dan seharusnya aku tidak berhubungan dengan wanita sepertimu," ucap Evan dengan penuh peneyesalan. "Aku menjatuhkan talak tiga padamu, Sherly!"
Deg.
Sherly menegang dengan kedua mata terbuka lebar mendengar ucapan Evan yang terasa seperti belati menancap dihatinya, membuat napasnya terasa kian berat seakan dicabut dari kerongkongan.
"Ti-tidak, aku mohon maafkan aku," gumam Sherly dengan suara pelan dan gemetaran, bahkan suaranya tidak bisa didengar oleh Evan yang sudah memalingkan wajah ke arah lain.
Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Keanu dan Fathir menonton pertunjukan mereka dari pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Tampak senyum tipis terlihat diwajah Keanu yang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat.
"Mereka benar-benar pasangan gila," umpat Keanu.
Setelah tidak lagi ada pertengkaran yang terjadi, Keanu langsung mendorong pintu ruangan itu dengan kuat hingga menyebabkan benturan keras menggema di ruangan itu. Tentu saja membuat semua orang terlonjak kaget.
"Maaf sudah menganggu keharmonisan rumah tangga kalian," ucap Keanu dengan penuh sindiran membuat kedua mata Evan dan Sherly terbelalak lebar.
"Ka-kak Ken?" gumam Sherly dengan terkejut. Tidak disangka laki-laki itu akan muncul di tempat ini.
"Sudah lama ya, Sherly," ucap Keanu. "Tapi, kenapa tidak ada perubahan sama sekali pada dirimu? Tetap saja murahan dan tidak tahu diri." Dia tergelak sambil menggelengkan kepalanya.
Sherly yang sedang bersimpuh di lantai langsung beranjak bangun mendengar hinaan yang Keanu layangkan. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar sambil menatap tajam.
"Ma-mau apa kau?" tanya Sherly dengan tajam.
Keanu mengendikkan bahunya dan beralih melihat ke arah Evan. "Bukankah sudah saatnya kita bicara, Evan? Aku sudah cukup sabar melihat aksi kalian sejak tadi."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1