
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Rian sampai juga di tempat itu bersama dengan dua orang lelaki yang kemungkinan adalah anak buahnya.
Keanu dan Fathir yang melihat kedatangan Rian langsung menghubungi semua orang, termasuk Alden yang masih berada di dalam bar.
"Bersiaplah, Fathir. Hari ini kita akan benar-benar menghancurkannya," ucap Keanu sambil menepuk bahu Fathir.
Fathir menganggukkan kepalanya. "Yah, aku sudah tidak sabar melihat kehancuran diwajahnya." Dia berucap dengan penuh kebencian.
Mereka berdua lalu turun dari rooftop menuju lantai satu, setelah itu berganti pakaian untuk melakukan penyamaran.
Sementara itu, Rian yang sudah sampai di bar langsung disambut oleh Leo dan beberapa wanita yang bekerja di tempat itu.
"Bagaimana perjalanan Anda, Tuan?" tanya Leo dengan ramah.
Rian hanya diam sambil berjalan menuju ruangannya yang ada di lantai tiga. Lalu, langkahnya terhenti saat melihat tidak ada satupun orang yang berjaga di lorong kamar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rian dengan tajam.
Leo yang sudah mengerti ke mana arah pembicaraan sang atasan langsung menjelaskan semuanya, dia juga bercerita tentang Alden yang sedang berada di kamar nomor satu.
"Bawa dia ke ruanganku," perintah Rian kemudian. Dia lalu beranjak pergi tanpa bertanya tentang yang lainnya, karena sekarang perasaannya sedang sangat buruk sekali.
Dari kamar nomor satu, Alden terus mengintip Rian dari celah pintu yang terbuka sedikit. Dia mencoba untuk mencuri dengar obrolan mereka, tetapi sama sekali tidak mendengar apapun.
"Si*al. Apa yang mereka bicarakan?" gumam Alden. Dia sama sekali tidak bisa mendengar pembicaraan dua orang itu. "Sudahlah." Dia lalu kembali menutup pintu kamar itu dan menunggu kapan saat yang tepat untuk keluar.
Di sisi lain, Rian yang sudah sampai di dalam ruangan langsung membanting tas kerjanya ke atas lantai. Bukan itu saja, dia bahkan menghancurkan barang-barang yang ada di tempat itu.
"Brengs*ek!" teriak Rian dengan penuh kemarahan. Darahnya masih saja terasa mendidih dengan kejadian di perusahaan beberapa waktu yang lalu. "Kenapa, kenapa dia kembali lagi ke perusahaan dan menghancurkan semua rencanaku? Kenapa?"
Brak.
Suara benturan yang cukup keras diiringi teriakan kemarahan menggema di dalam ruangan itu. Untung saja ruangannya kedap suara, jika tidak maka keributan itu pasti sudah terdengar ke mana-mana.
"Seharusnya sejak awal aku membereskan Fathir, hingga semua ini tidak akan terjadi," gumam Rian dengan napas tersengal-sengal karena meluapkan emosinya.
__ADS_1
Dengan cepat Rian mengambil ponsel yang ada disaku celananya untuk menghubungi seseorang, agar segera menyerahkan rekaman CCTV itu pada polisi.
"Serahkan rekaman itu pada polisi dan buat laporannya, aku mau hari ini juga Fathir digiring ke kantor polisi," ucap Rian saat panggilan teleponnya sudah terhubung pada seseorang.
"Baik, Tuan."
Rian lalu mematikan panggilan itu dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Dia harus segera menenangkan diri agar bisa memikirkan rencana apa yang akan dilakukan selanjutnya. Dia yakin orang-orang di perusahaan akan kembali mencarinya jika Fathir diringkus oleh polisi, lalu dia akan memberi pelajaran pada mereka semua.
Tok, tok. "Boleh saya masuk, Tuan?"
Lamunan Rian terhenti saat mendengar ketukan di pintu beserta suara seseorang. "Masuk!" Dia lalu melirik ke arah pintu tersebut.
"Saya membawa tuan Alden, Tuan," ucap Leo sambil berjalan masuk ke dalam ruangan dengan diikuti oleh Alden.
Rian langsung tersenyum manis di hadapan Alden sambil beranjak dari sofa. "Silahkan duduk, Tuan." Dia mempersilahkan Alden untuk duduk, lalu dijawab dengan anggukan kepala laki-laki itu.
Leo lalu beranjak pergi saat sudah mengantar Alden bertemu dengan Rian, dia harus segera menjamu tamu-tamu lain yang mulai ramai memadati bar itu.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari Leo," ucap Rian dengan ramah. Tidak lupa dia menyuguhkan wine terbaik yang ada di bar miliknya ini.
"Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan. Bukan itu saja, saya juga senang dengan barang-barang simpanan Anda."
Rian langsung tergelak saat mendengar ucapan Alden. "Yah, barang-barang itu memang bagus. Anda tidak bisa menemukannya di tempat lain."
Alden mengangguk untuk menyetujui ucapan Rian. Dia memang tidak akan mendapatkan gadis-gadis tidak berdosa seperti itu di bar lain, karena pemilik bar lain bukan iblis seperti laki-laki itu.
"Saya beruntung bisa menemukan bar ini," sahut Alden seolah-olah merasa luar biasa senang.
Rian ikut senang mendengar jawaban Alden. "Jadi, kenapa Anda ingin bertemu dengan saya?" Dia mengambil gelas berisi wine lalu meminumnya dengan sekali teguk.
Alden lalu mengatakan jika dia ingin selalu berlangganan di bar itu dan mendapat gadis-gadis baru, juga berkata jika banyak rekan-rekannya yang ingin bergabung. Dia sengaja mengulur waktu agar Keanu dan yang lainnya bisa masuk ke tempat ini.
Sementara itu, Keanu dan Fathir sudah masuk ke dalam bar dengan penyamaran lengkap. Begitu juga dengan Abbas dan teman-temannya agar bisa mengelabui anak buah Rian.
Walau masih sore, tetapi bar ini sudah dipadati oleh banyak orang. Terlihat jelas jika bar ini sudah terkenal di mana-mana, dan pasti sebagian dari mereka atau bahkan semuanya tahu mengenai gadis-gadis yang diperkerjakan di tempat ini.
__ADS_1
"Kita menuju tempat masing-masing," ucap Abbas sambil menempelkan mulutnya ke alat komunikasi yang sudah terpasang dikerah kemejanya, dan terhubung ke semua orang.
Keanu dan Fathir mengangguk paham, mereka segera pergi ke lorong yang menuju ruangan Rian, sementara Abbas dan yang lainnya mengeksekusi orang-orang yang ada di tempat itu.
"Ayo, kita harua bergerak cepat!" ajak Keanu.
Fathir mengangguk sambil mengikuti langkah Keanu menuju tangga. Namun, langkah mereka terhenti saat ada salah satu anak buah Rian yang mendekat.
"Siapa kalian?" tanya laki-laki yang datang bersama Rian tadi. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Dia kembali bertanya dengan tajam.
Keanu tersenyum sinis. Dia lalu membuka penyamarannya dan melempar benda-benda itu ke atas lantai.
"Kenapa, apa aku tidak boleh berada di tempat ini?" tanya Keanu sambil berbalik dan menghadap laki-laki itu.
Laki-laki itu terperanjat kaget saat melihat Keanu, kedua matanya semakin membelalak lebar ketika Fathir juga membuka penyamarannya.
"A-Anda-" Laki-laki itu bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya karena merasa sangat terkejut.
Tanpa mengucapkan apapun, Fathir langsung melayangkan tendangannya ke perut laki-laki itu sampai laki-laki tersebut terjungkal ke belakang.
Brak.
Suara benturan keras kembali menggema di tempat itu membuat semua orang terlonjak kaget, terutama para anak buah Rian yang langsung berlari ke sumber suara.
"Wah, kau membuat semua orang mengetahui keberadaan kita, Fathir," ucap Keanu sambil menggelengkan kepalanya. Tidak disangka Fathir akan langsung menyerang laki-laki itu.
Fathir menghela napas kasar. "Tidak apa-apa. Aku lebih suka jika kedatangan kita disambut oleh banyak orang seperti ini."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1