
Tangis haru menggema di ruangan Fathir saat para wanita berkumpul. Alma dan Ayun tidak bisa menahan air mata mereka saat melihat keadaan Fathir, padahal laki-laki itu sudah berkata jika keadaannya baik-baik saja.
"Iya-iya, syukurlah kau baik-baik saja, Sayang," ucap Alma sambil terisak.
Fathir menghela napas kasar. Dia sudah berusaha untuk menenangkan sang mama, tetapi mamanya tetap saja menangis. Dia lalu melirik ke arah Ayun yang sedang berdiri di belakang mamanya sambil berusaha untuk menahan tangis.
"Sungguh aku baik-baik saja, Ma. Jangan menangis," pinta Fathir.
Alma tetap terisak sambil mengusap punggung tangan Fathir yang sedang terpasang infus, begitu juga dengan Ayun yang berusaha untuk menahan tangis, tetapi air matanya tetap menerobos keluar.
Bagaimana mungkin mereka tidak sedih? Walau keadaan Fathir tidak mengkhawatirkan, tetapi tetap saja tubuh laki-laki itu dipenuhi dengan luka dan lebam.
Fathir bahkan harus mendapat beberapa jahitan di pelipis dan juga siku tangannya, belum lagi luka-luka lain dan lebam yang bertebaran di sekujur tubuh.
"Sudahlah, Sayang. Putra kita baik-baik saja. Dia berhasil menghancurkan Rian dan menyerahkan laki-laki itu pada polisi, putra kita sangat hebat," ucap Farhan sambil mengusap punggung sang istri.
Alma menganggukkan kepala sambil mengusap air mata yang ada diwajahnya. Dia lalu berusaha untuk tersenyum seraya menatap putra bungsunya itu dengan sendu.
"Mama banggga padamu, Sayang. Terima kasih karena sudah kembali dengan selamat dan membongkar kejahatan Rian." Lirih Alma.
Fathir mengangguk sambil tersenyum ke arah sang mama. "Itu sudah menjadi kewajibanku, Ma. Sekarang Mama dan papa tidak perlu khawatir lagi, laki-laki itu sudah berada di tangan polisi, dan dia akan mendapat hukuman sesuai dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini."
Alma dan Farhan tersenyum bangga mendengar ucapan Fathir. Mereka lalu beralih melihat ke arah Abbas dan Keanu dengan sendu, seolah mengatakan bahwa mereka benar-benar sangat berterima kasih atas bantuan yang telah di terima.
Tidak berselang lama, datanglah Dokter ke dalam ruangan itu untuk memberitahukan bahwa Fathir harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, karena memang banyak sekali luka di tubuh laki-laki itu.
"Tidak perlu, Dokter. Saya-"
"Baiklah, Dokter. Tolong rawat putra saya sampai benar-benar sembuh. Kalau belum sembuh, jangan biarkan dia keluar dari sini," potong Alma dengan cepat sambil melirik ke arah Fathir.
Fathir langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat mendapat tatapan tajam dari sang mama, sementara yang lain tampak menahan tawa melihat raut wajahnya.
__ADS_1
Dokter lalu pamit untuk memeriksa keadaan pasiennya yang lain, bersamaan dengan datangnya tiga bocah kematian ke dalam ruangan itu.
"Papa!" Adel langsung menghampiri Fathir dengan mata berkaca-kaca, begitu juga dengan Faiz yang menatap papanua dengan sendu.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Fathir sambil tersenyum dengan hangat. Rasa sakit ditubuhnya seketika lenyap saat menatap wajah ketiga bocah yang ada di hadapannya saat ini, walaupun Ezra sudah tidak pantas lagi untuk disebut sebagai bocah.
"Apa Papa baik-baik saja, bagaimana hasil pemeriksaan Dokter?" tanya Faiz tanpa menghiraukan pertanyaan sang papa.
Fathir tersenyum melihat kecemasan diwajah putra kesayangan itu. "Tenang saja, Faiz. Papa baik-baik saja kok, Papa masih hidup dan masih kuat untuk bertengkar denganmu."
Faiz langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan sang papa, sementara yang lain tampak menggelengkan kepala mereka melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Termasuk Ayun, yang merasa senang melihat kehangatan Fathir dengan anak-anak mereka.
Beberapa saat kemudian, Keanu dan Nindi beranjak pamit dari tempat itu untuk pulang bersama dengan Abbas. Mereka ingin membersihkan tubuh sejenak seraya istirahat dari apa yang sudah terjadi hari ini.
Alma dan Farhan juga kembali ke rumah untuk mengambil pakaian Fathir, mereka sengaja mengajak ketiga bocah kematian itu untuk memberi waktu pada Ayun dan Fathir agar bisa bicara berdua.
Setelah semuanya pergi, tinggalah Ayun dan Fathir saja yang masih berada di ruangan itu. Ayun yang semula duduk di sofa beranjak pindah ke kursi yang ada di samping ranjang, sementara Fathir sendiri terus menatap wanita itu dengan senyum hangat.
"Mas mau makan buah?" tawar Ayun sambil menunjukkan buah-buahan yang dibawa oleh Ezra.
Ayun lalu mengupas apel dan memotongnya menjadi beberapa bagian, dan meletakkan apel-apel itu di atas piring. Tidak lupa dengan jeruk dan juga anggurnya.
"Ini," ucap Ayun sambil menyodorkan buah apel ke depan mulut Fathir dengan menggunakan garpu. Tentu saja Fathir langsung membuka mulutnya dan memakan buah itu dengan lahap. "Bagaimana, apa buahnya manis?"
Fathir langsung mengangguk. "Buahnya manis, tapi lebih manis orang yang menyuapinya."
Wajah Ayun seketika menjadi merah merona saat mendengar ucapan Fathir. Entah kenapa laki-laki itu terus saja menggodanya, apakah ada yang salah dengan pikiran Fathir saat ini?
"Mas!" seru Ayun sambil menatap Fathir dengan tajam membuat laki-laki itu tergelak. "Jangan menggombal." Bibirnya mengerucut sebal, tetapi wajahnya semakin memerah.
Fathir semakin tertawa lebar melihat wajah Ayun yang memerah. Namun, entah kenapa hatinya terasa sangat sesak saat bersitatap mata dengan wanita yang dia cintai itu.
__ADS_1
"Syukurlah kalian semua baik-baik saja, Mas. Kami di sini benar-benar mengkhawatirkan kalian," ucap Ayun saat sudah bisa menengkan rasa malunya.
Fathir tersenyum. Ingin sekali dia menggenggam kedua tangan Ayun, tetapi belum halal untuk melakukannya.
"Kami baik-baik saja, Ayun. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan kami, dan kami semua bisa kembali karena do'a dari kalian," sahut Fathir.
Ayun mengangguk seraya menatap Fathir dengan sendu. Hatinya benar-benar merasa lega melihat semua orang kembali dengan selamat, walaupun Fathir harus dirawat di rumah sakit seperti ini.
"Maaf, Ayun. Kau pasti lelah mengurus pernikahan kita saat aku pergi," ucap Fathir kemudian.
Dengan cepat Ayun menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan sang calon suami. "Tidak, Mas. Aku sama sekali tidak lelah. Ada banyak orang yang membantu mempersiapkan semuanya, apalagi sebagian besar sudah disiapkan oleh pihak WO." Dia lalu menceritakan semua persiapan pernikahan mereka, dan sudah 80 persen selesai disiapkan.
"Syukurlah kalau seperti itu," sahut Fathir dengan lega. Tidak terasa pernikahan mereka hanya tinggal empat hari lagi, dan semuanya sudah selesai dipersiapkan. Namun, ada sesuatu hal yang harus dia katakan pada Ayun, yaitu menyangkut kematian Clarissa.
"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Ayun saat raut wajah Fathir berubah murung, padahal sesaat yang lalu senyum lebar masih menghiasi wajah tampan itu.
Fathir menghela napas berat. Entah kenapa banyak sekali halangan dan rintangan yang menghadang jalan bersatunya dengan Ayun.
"Ada sesuatu hal yang harus aku katakan padamu, Ayun. Aku harap kau tidak kecewa saat mendengarnya," ucap Fathir dengan lirih. Perlahan dia menceritakan tentang ancaman yang Rian katakan pada Fathan, juga tentang apa yang terjadi di malam kematian Clarissa. Walau Ayun sudah tahu semuanya, tetapi dia ingin mengatakan secara langsung pada wanita itu.
Ayun terdiam dengan dada berdenyut sakit saat mendengar semua cerita Fathir. Dadanya terasa sangat sesak. Namun, dia merasa sesak bukan karena kecewa dengan apa yang laki-laki itu lakukan, melainkan merasa sakit karena Fathir harus menghadapi semua itu.
"Mereka pasti akan kembali membuka kasus kematian Clarissa, lalu aku, aku mungkin akan-"
"Tidak apa-apa, Mas. Suatu saat kebenaran memang pasti akan terungkap, dan mungkin sekaranglah saatnya," ucap Ayun dengan lembut dan tatapan hangat seolah menenangkan hati Fathir. "Apapun yang terjadi, aku akan tetap menemanimu dan berada di sisimu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.