Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 70. Kecurigaan Ezra.


__ADS_3

Nirma menjerit kuat sambil menggedor-gedor pintu yang ada di hadapannya, dia berteriak agar laki-laki itu membuka pintu tersebut walau tidak ada sedikit pun respon dari Evan.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan kedua anak-anaknya sedang berada di dalam kamar. Setelah menjelaskan semua yang terjadi pada keluarga, dia pergi ke kamar untuk istirahat.


"Ibu tidak boleh mengerjakan apapun dulu sebelum sembuh," ucap Ezra. Dia sudah mendengar apa yang terjadi dari Adel, walau dia merasa menyesal karena tidak ikut dengan mereka.


"Ibu tidak apa-apa, Nak. Istirahat sebentar pasti sembuh," sahut Ayun sambil membaringkan tubuhnya, dia mulai merasa ngantuk karena efek obat yang baru saja diminum.


Ezra menghela napas kasar. Dia lalu kembali menekankan bahwa ibunya tetap harus banyak istirahat, dan dia juga mengatakan jika sudah membuat janji temu dengan dokter untuk memeriksa keadaan tangan sang ibu.


Setelah Ayun terlelap, Ezra dan Adel beranjak keluar dari kamar karena tidak mau menganggu istirahat sang ibu.


"Adel!"


Adel yang akan masuk ke dalam kamar tidak jadi membuka pintu saat mendengar panggilan sang kakak. Dengan cepat dia menoleh ke arah belakang di mana kakaknya berada.


"Ada apa, Kak?" tanya Adel dengan bingung.


Tanpa menjawab pertanyaan sang adik, Ezra langsung menarik tangan Adel lalu membawanya ke dalam kamar. Tentu saja apa yang dia lakukan membuat gadis itu bertanya dengan heran.


"Sebenarnya ada apa, Kak? Aku capek," ucap Adel dengan cemberut. Dia ingin segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sebantar, ada yang mau kakak tanyakan padamu, Adel," pinta Ezra sambil mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.


Adel menghela napas kasar. Dia merasa sebal karena kakaknya terlalu banyak bertanya, padahal saat ini dia merasa sangat lelah.


"Dengar, apa terjadi sesuatu dengan ibu dan om Fathir pada saat kemah semalam?" tanya Ezra kemudian. Dia tadi tidak bisa menanyakan tentang hal itu di hadapan semua orang.


Adel mengernyitkan kening bingung saat mendengar pertanyaan sang kakak. "Apa maksud, Kakak? Apa ibu terluka lagi karena om Fathir?" Dia bertanya dengan wajah panik.


Ezra menggelengkan kepalanya. Dia merasa bingung bagaimana harus menjelaskan tentang apa yang terjadi pada sang adik, jelas saja adiknya itu belum paham tentang masalah percintaan.

__ADS_1


"Em ... begini, apa ibu dan om Fathir dekat saat kemah semalam? Misalnya mereka selalu bersama, atau bisa kau jelaskan apa saja yang ibu dan om Fathir lakukan semalam?" tanya Ezra lagi. Semoga saja Adel paham dengan apa yang dia tanyakan.


Adel menganggukkan kepala. "Ibu dan om Fathir memang dekat." Dia berucap dengan senyum lebar, membuat dada Ezra berdegup kencang. Dengan semangat membara, dia segera menceritakan apa-apa saja yang mereka lakukan pada saat perkemahan.


Mulai dari foto-foto bersama, perlombaan memasang tenda, sampai kebersamaan mereka saat makan dan juga mengobrol ria.


"Aku sangat senang sekali, tapi sayangnya anak nakal itu merusak semuanya. Kenapa dia harus membuat ibu terluka seperti itu sih?" ucap Adel dengan kesal saat mengingat Faiz. "Dia juga bilang katanya mau menganggap ibu sebagai ibunya sendiri. Cih, enak saja!" Dia memukul-mukul bantal dengan geram.


Ezra terdiam saat mendengar semua cerita Adel, sekarang dia merasa yakin jika memang telah terjadi sesuatu antara ibunya dengan Fathir.


"Aku harus membuktikannya sendiri. Tapi jika om Fathir benar-benar menyukai ibu, apa ibu akan menerimanya?" Tiba-tiba Ezra merasa cemas. "Lalu, bagaimana tanggapan keluarga nanti?' Dia jadi gelisah sendiri, padahal semua pemikirannya belum seratus persen benar.


Setelah mendengar cerita dari Adel, Ezra lalu menyuruh adiknya itu untuk segera istirahat. Dia sendiri berlalu pergi ke dapur untuk makan siang.


Pada saat yang sama, di sisi lain tampak Evan sedang berada di perjalanan bersama dengan Suci. Setelah bersitegang dengan Nirma, akhirnya dia berhasil membawa sang putri untuk ikut pulang bersamanya.


Evan tidak peduli jika nantinya Sherly merasa marah atau tidak terima dengan apa yang dia lakukan, karena biar bagaimana pun dia punya hak untuk bersama dengan Suci.


"Ibu, Ayah," panggil Evan sambil melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka.


Mery dan Endri segera menoleh ke arah pintu di mana Evan berada, mereka cukup terkejut saat laki-laki itu membawa Suci.


"Ka-kau membawa Suci?" tanya Mery dengan kaget. Sontak dia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk melihat apakah ada orang lain yang ikut bersama dengan mereka.


Evan menganggukkan kepalanya, dia lalu mendudukkan Suci di samping sang ayah yang masih duduk lesehan di atas tikar.


"Apa Suci lapar? Hari ini nenek masak ayam goreng, Suci mau makan?" tanya Evan dengan lembut, dia tidak mau membuat Suci kembali menangis.


Suci menganggukkan kepala. "Suci mau ayam goleng, tapi kata oma gak boleh."


Evan mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Suci, begitu juga dengan kedua orang tuanya yang menatap gadis kecil itu dengan heran.

__ADS_1


"Kenapa gak boleh, Suci?" tanya Endri sambil mengusap puncak kepala Suci, dia merasa senang saat melihat gadis kecil itu.


"Kata oma gak punya uang, jangan abis-abiskan uang," jawab Suci, persis seperti apa yang omanya selalu katakan padanya.


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan geram saat mendengar ucapan Suci. Jika mereka memang tidak punya uang, seharusnya mereka juga tidak boleh berkata seperti itu pada anak berumur 4 tahun.


"Boleh, Suci. Mulai sekarang Suci boleh makan ayam, papa akan kasi ayam tiap hari buat Suci," ucap Evan dengan sendu.


Suci mengangguk senang dengan kedua mata berbinar-binar membuat Evan turut tersenyum. Dia lalu beranjak mengambilkan makanan untuk Suci, dengan diikuti oleh Mery.


"Evan!"


Evan yang akan mengambil piring menoleh ke arah sang ibu. "Ada apa, Bu?" Dia bertanya sambil menyiapkan makanan.


"Apa kau juga membawa wanita itu?" tanya Mery dengan tajam. "Dengar, Evan. Kau sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya, dan ibu tidak mau melihat dia lagi!"


Evan meletakkan piring yang ada di tangannya ke atas meja, dia lalu menatap sang ibu dengan nanar.


"Aku mengerti, Bu. Aku tidak akan kembali lagi dengannya, dan aku pun sudah menceraikannya. Tapi, bolehkah aku membawa Suci ke sini?" tanya Evan dengan lirih. "Aku ingin menjaga dan merawatnya, Bu. Bolehkah Suci tinggal bersama dengan kita?"


Mery terdiam saat mendengar ucapan Evan. Sebenarnya dia tidak masalah jika ada Suci, tetapi tidak dengan Sherly.


"Lalu, bagaimana dengan Ezra dan Adel? Apa kau sudah menemui anak-anakmu itu?"





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2