
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Fathir sampai juga ke tempat tujuan. Terlihat Keanu, Abbas, dan juga anak buah mereka sedang menunggu kedatangannya di dekat pantai.
"Akhirnya kau sampai juga, Fathir. Kami sempat mengkhawatirkanmu tadi," seru Keanu saat Fathir keluar dari mobil. Jelas mereka cemas saat laki-laki itu mengatakan jika sedang diikuti oleh seseorang.
"Saya baik-baik saja, Tuan. Terima kasih atas bantuan yang Anda lakukan ini," ucap Fathir dengan terharu. Dia menatap Keanu dan Abbas secara bergantian dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
"Jangan seperti itu." Abbas menghampiri Fathir lalu merangkul bahu laki-laki itu. "Kita ini keluarga, dan kau juga sebentar lagi akan menjadi menantuku. Jadi sudah kewajiban kita untuk saling menolong. Jika bukan keluarga yang membantu, jadi siapa lagi?"
Fathir mengangguk paham sambil mengulas senyum tipis. "Tapi tetap saja saya tetap merasa sangat berterima kasih, Tuan."
"Bukan tuan, tapi papa," ucap Abbas dengan penuh penakanan. "Panggil aku papa, dan juga jangan lagi memanggil Keanu dengan sebutan tuan. Karena dia adalah calon adik iparmu, dan kau juga sudah dipecat dan tidak menjadi asisten pribadinya lagi."
Fathir mengernyitkan hening heran saat mendengar ucapan Abbas, sementara Keanu mengangguk setuju dengan apa yang mertuanya katakan.
"Benar. Kau sudah aku pecat, jadi kembalilah ke perusahaan keluargamu dan rebut semua yang seharusnya menjadi milikmu," sambung Keanu.
Ah, Fathir baru paham dengan apa yang mereka bicarakan. "Baik, saya pasti akan kembali ke perusahaan dan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik saya."
Abbas dan Keanu tersenyum senang. Setidaknya mereka sudah membereskan para kaki tangan Rian di perusahaan itu, hanya tinggal para petinggi dan Rian sajalah yang tidak bisa mereka sentuh.
"Ayo, kita ke bar itu!" ajak Keanu kemudian. Alden dan dua orang anak buahnya sudah berada di sekitar bar itu menunggu kedatangan mereka.
Fathir mengangguk, dia lalu masuk ke dalam mobil Keanu sesuai dengan keinginan laki-laki itu. Tidak boleh asa satu pun anak buah Rian yang mengetahui kedatangan mereka, termasuk mobil itu yang pasti sudah ditandai oleh Rian dan anak buah laki-laki itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di salah satu rumah warga yang disewa oleh Alden untuk mengintai bar itu. Dia sengaja menyiapkannya agar Keanu dan yang lainnya bisa mengawasi dari rumah itu, karena tidak mungkin mereka ikut masuk ke dalam bar.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Keanu saat sudah bergabung dengan Alden dan yang lainnya.
Alden menganggukkan kepalanya. "Sudah, Tuan. Saya sudah menyuap beberapa pelayan yang ada di bar itu, dan saya juga sudah mengamankan semua cctv sepanjang jalan menuju kemari sesuai dengan keinginan tuan Fathir."
Keanu tersenyum senang sambil menepuk bahu Alden. Laki-laki itu memang hebat dan bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
"Kerja bagus. Sekarang masuklah, kami akan mengawasinya dari rumah ini. Tapi jangan lupa untuk tetap hati-hati dan perhatikan ke semua tempat. Kita harus tahu di mana Rian menampung para anak-anak tidak berdosa itu," ucap Keanu dengan tajam.
"Baik, Tuan." Alden mengangguk paham. Dia lalu bersiap bersama dengan dua orang lainnya untuk memasuki bar itu, tidak lupa membawa alat perekam suara yang sudah terhubung ke ponsel Keanu, juga kamera tersembunyi agar mereka semua bisa mendengar dan melihat bagaimana isi dari bar tersebut.
__ADS_1
Setelah semua persiapan selesai, Alden dan yang lainnya bergegas pergi ke bar itu dengan menggunakan mobil walau jaraknya sangat dekat sekali. Mereka sengaja mencari rute jalan memutar supaya terlihat lebih jauh dan meminimalisir kecurigaan anak buah Rian.
Begitu sampai, Alden langsung memberi kode pada anak buahnya untuk menyebar. Periksa semua sudut yang ada di bar itu, sementara dia sendiri akan mendekati seorang lelaki bernama Leo yang katanya penanggung jawab di bar itu.
Alden dan yang lainnya diperiksa saat berada di pintu masuk untuk memastikan bahwa dia tidak membawa sesuatu yang mencurigakan. Tentu saja dia sudah menyimpan semua alat perangnya di tempat tertentu, dan berhasil lolos dari pemeriksaan.
Alunan musik langsung menusuk indera pendengaran mereka saat baru memasuki bar. Terlihat lautan manusia sudah memadati tempat itu, juga ada beberapa pelayan yang terlihat sibuk berjalan ke sana kamari.
Melihat kedatangan Alden, seorang pelayan langsung berjalan ke arahnya lalu menabrakkan dirinya ke tubuh laki-laki itu sampai membuat baju Alden tersiram air.
"Hey, apa kau buta?" pekik Alden dengan tidak terima. Dia mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kode pada pelayan itu agar memulai akting mereka, karena memang sebelumnya pelayan itu sudah disuap.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap pelayan itu.
"Aku tidak mau tahu. Panggil pimpinan di tempat ini atau kau kubunuh!" ancam Alden sambil mencengkram kerah kemeja laki-laki itu.
Orang-orang mulai memperhatikan keributan yang sedang terjadi, sampai akhirnya ada pelayan lain yang menghampiri Leo dan memberitahukan tentang hal tersebut.
Leo yang sedang bertransaksi dengan salah satu pelanggannya menggeram marah saat mendengar laporan pelayan itu. Dengab cepat dia beranjak pergi dari tempat itu untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ada apa ini?"
Alden langsung melirik ke arah kanan saat mendengar suara seseorang. Seringai licik lalu terbit dibibirnya saat mereka sudah memakan umpan yang sengaja dia beri.
"Urus pelayan bod*ohmu ini!" ucap Alden sambil menghempaskan tubuh pelayan itu sampai tersungkur ke atas lantai.
Leo lalu menatap pelayan itu dengan tatapan berapi-api dan rahang yang mengeras. "Kembali ke tempatmu dan tunggu aku di ruangan!" Dia berucap dengan penuh penekanan.
Pelayan itu mengangguk lalu beranjak pergi dari tempat itu, sementara dua orang teman Alden yang lain sedang sibuk berbaur dengan tamu lain agar bisa mendapat informasi.
"Maaf jika sudah membuat Anda tidak nyaman, Tuan. Mari, saya akan mengantar Anda," ajak Leo sambil mengumbar senyum manis.
Alden bedecak kesal mendengarnya. Wajahnya tetap muram karena sedang pura-pura marah pada pelayan itu, dia lalu melangkahkan kakinya untuk mengikuti Leo.
"Silahkan, Tuan," ucap Leo kembali saat sudah sampai di sebuah meja. Dia lalu memanggil dua orang wanita untuk melayani Alden, dan memutuskan untuk duduk sebentar bersama laki-laki itu karena merasa jika Alden bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Sementara itu, Keanu, Abbas, dan Fathir terus memperhatikan dari kamera tersembunyi yang ada di kerah kemeja Alden. Kamera itu kecil sekali, Jadi tidak sembarangan orang bisa melihatnya dan tahu jika itu adalah sebuah kamera pengintai.
"Bagus, Alden. Kau sudah mendekati laki-laki itu," gumam Keanu sambil mengepalkan kedua tangannya dengan geram.
Fathir juga terus memperhatikan situasi yang ada di dalam bar itu, walau suara musik yang terdengar sangat memekakkan telinga dan ucapan Alden nyaris tidak terdengar.
Tiba-tiba, mereka mendapat sebuah notifikasi rekaman dari anak buah Alden yang juga masuk ke dalam bar, dan segera mengaktifkannya agar bisa tersambung.
"Jadi, kau ingin menghabiskan malam dengan wanita yang masih perawan?" Tiba-tiba terdengar percakapan antara anak buah Keanu dengan seseorang yang diduga tamu di bar itu.
"Tentu saja. Aku muak dengan barang bekas, aku ingin yang masih baru dan fresh supaya terbakar oleh gairah," balas anak buah Keanu.
Terdengar gelak tawa dari beberapa orang yang ada di tempat itu. "Kau benar, barang bekas memang membosankan. Untuk itulah aku datang ke tempat ini untuk mendapatkan mangsa yang jauh lebih menggoda. Apa sebelumnya kau pernah bermain dengan gadis yang masih berumur belasan tahun?"
Deg.
Dada Abbas langsung bergemuruh saat mendengar rekaman itu. Ingin sekali dia langsung masuk ke dalam bar itu untuk mengobrak-abriknya saat ini juga.
"Tentu saja belum. Aku tidak pandai bersosialisasi dengan para gadis muda seperti itu, mana bisa aku merayu mereka," sahut anak buah Keanu kembali.
"Hahahaha, kau tidak perlu bersusah payah seperti itu, karena di sinilah tempatnya. Kau bisa mendapatkan semua yang kau mau di sini, dan rasakan sensasi yang sangat nikmat saat mendengar rintihan gadis-gadis polos itu di bawah tubuhmu."
Brak.
Fathir dan Keanu terjingkat kaget saat tiba-tiba Abbas menggebrak meja yang berada tepat di hadapan mereka, terlihat jelas kemarahan diwajah laki-laki paruh baya itu.
"Kapan kita masuk ke sana? Aku sudah tidak sabar untuk mematahkan leher mereka."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1