
Keesokan harinya, seperti biasa Ayun akan bangun dan bergegas untuk membantu Nayla menyiapkan sarapan. Suasana pagi yang biasanya sunyi kini terdengar ramai karena mareka terus bersenda gurau sambil mengenang kenangan lama saat masih duduk dibangku sekolah. Tidak lupa Ayun juga menceritakan tentang rencana masa depan yang akan dia jalani.
"Jadi, kau akan kerja di restoran orang yang namanya Abbas itu, Yun?" tanya Nayla saat mendengar cerita dari Ayun bahwa wanita itu akan bekerja di restoran.
"Begitulah, Nay. Tapi aku merasa takut. Masak seperti ini kan jelas berbeda dengan masakan restoran. Apa aku bisa seperti mereka?" Lirih Ayun. Belum apa-apa dia sudah merasa insecure dan tidak percaya diri.
Nayla menepuk bahu Ayun agar wanita itu semangat, dan percaya diri. "Kau pasti bisa, Yun. Percayalah kalau usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kalau kau rajin belajar dan terus berusaha, aku yakin tidak akan ada sesuatu yang tidak bisa kau kerjakan." Dia tersenyum tulus seperti sedang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kalau kau mau, kau bisa ikut aku ke butiknya mama. Mama pasti senang kalau kau bisa bantu-bantu di sana," tawar Nayla membuat Ayun menganggukkan kepalanya.
"Benar. Sudah lama aku tidak mengunjungi Tante, mungkin akhir pekan nanti aku akan ke sana," ucap Ayun yang langsung diiyakan oleh temannya itu.
Setelah semua masakan selesai, mereka bubar ke kamar anak masing-masing untuk membangunkan mereka karena harus pergi ke sekolah. jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, jika tidak bergegas maka akan terlambat.
Setelah semuanya siap, mereka lalu menikmati sarapan bersama sambil mendengarkan celotehan anak bungsu Nayla yang masih berusia 4 tahun, benar-benar sangat menggemaskan.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat suasana sangat sunyi. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tampak berlalu-lalang di rumah itu padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Evan menggeliatkan tubuhnya saat mendengar suara alarm yang ada di atas nakas. Dengan cepat dia mengambil benda itu dan langsung mematikannya.
Kedua matanya mengerjap dan merasa silau karena terkena lampu kamar yang mungkin lupa dimatikan. Dia lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ayun! Bajuku ma-" Ezra tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mengingat sesuatu. Dia lalu berdecak kesal sambil menghela napas kasar dan segera mengambil pakaian yang ada di dalam lemari.
Terlalu lama dilayani, dan disiapkan semua kebutuhannya membuat Evan kebingungan mengambil pakaiannya sendiri yang ada di dalam lemari. Berulang kali dia membongkarnya hanya untuk mencari dasi, apalagi kaos kaki yang letaknya entah di mana.
"Sh*it!" Evan mengumpat kesal. Untuk bersiap saja dia butuh waktu sampai 2 jam lamanya, belum lagi keadaan kamar yang sudah berserakan seperti kapal pecah.
__ADS_1
Setelah perjuangan panjang, akhirnya semua persiapan Evan selesai. Dia segera keluar dari kamar dan langsung menuju dapur.
Kosong.
Yah, tentu saja dapur itu kosong karena sudah tidak ada lagi yang memasak. Evan lalu berbalik dan berjalan cepat untuk keluar dari tempat itu dan mencari sarapan di jalanan.
Setelah menyelesaikan samua pekerjaan rumah, Ayun segera bersiap untuk pergi menemui Nindi yang saat ini sudah berada di restoran. Nindi juga bersama dengan sang papa yang juga ingin kembali bertemu dengan Ayun.
Dengan menggunakan pakaian yang dipilih oleh anak-anaknya, serta makeup yang dia beli, Ayun lalu segera pamit pada Nayla untuk pergi keluar karena bertemu dengan temannya.
Sesampinya di restoran, Ayun di antar oleh salah satu karyawan yang bekerja di tempat itu menuju ruangan Abbas. Walau dia sudah pernah ke ruangannya Nindi, tetapi dia merasa tidak enak jika harus masuk begitu saja di tempat itu.
Ayun lalu mengucapkan terima kasih pada karyawan itu saat sudah dipersilahkan untuk masuk ke ruangan Abbas, yang saat ini pintunya sedang sedikit terbuka.
"Permisi, Tuan. Saya Ayun," ucap Ayun yang masih berdiri di depan ruangan itu, entah kenapa rasanya canggung sekali jika ingin langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Wah, kau sudah sampai? Ayo masuk!" ajak Nindi sambil menggendeng lengan Ayun dan langsung membawanya masuk ke dalam ruangan itu.
Ayun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan. Dia segera menyapa Abbas yang sedang duduk di kursi kerja dan melihat ke arahnya.
"Selamat pagi juga, Ayun. Bagaimana kabarmu dan anak-anakmu?" tanya Abbas sambil melihat ke arah Ayun yang sudah duduk di atas sofa bersama dengan Nindi. Dia lalu beranjak dari tempat itu untuk duduk bersama mereka juga.
"Alhamdulillah baik, Tuan."
Mereka lalu saling bertukar kabar dan kegiataan masing-masing supaya bisa semakin akrab dan tidak dianggap sombong.
"Jadi, kau benar-benar ingin bekerja di restoran ini?" tanya Abbas dengan serius, karena dia sangat tidak suka sekali dengan orang-orang yang tidak serius dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Insyaallah, Tuan. Tapi saya juga merasa tidak yakin apakah saya bisa bekerja dengan baik atau tidak, karena ini adalah pengelaman kerja saya yang pertama kali," ucap Ayun dengan jujur. Dia tidak mau sok pintar dan sok tahu tapi ujung-ujungnya malah zonk.
Abbas mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu menyuruh Nindi untuk memanggil kepala Koki agar menghadap padanya saat ini juga.
Ayun menundukkan kepalanua dengan kedua tangan yang saling bertautan. Dadanya berdegup kencang karena merasa gugup dan gelisah, bahkan telapak tangannya sudah basah karena terkena oleh keringat.
"Jangan gugup, semuanya akan berjalan lancar dan baik jika kita mau berusaha dan tetap belajar. Tidak ada manusia yang terlahir pintar dan bod*oh, semua orang terlahir sama. Yang menyebabkan mereka berbeda adalah pengetahuan yang ada dalam diri. Yakin dan percaya pada diri sendiri, serta luruskan niat jika kita bekerja dan belajar karena Allah, maka tidak akan ada sesuatu yang tidak bisa kita genggam walau sesuatu yang sangat mustahil sekali pun," ucap Abbas panjang lebar.
Dia mengerti jika Ayun merasa gugup dan kurang percaya diri dengan kemampuan yang dia punya, tentu saja semua itu sesuatu yang wajar terjadi jika seseorang tidak pernah bergaul dan berlatih bersama dengan banyak orang.
"Saya mengerti Tuan, terima kasih atas kata-kata yang telah Anda berikan pada saya. Semua itu terasa seperti cambukan bahwa saya tidak boleh meremehkan diri daya sendiri, juga tidak boleh melangkahi kehendak Allah yang bisa melakukan apa saja terhadap hamba-Nya." Lirih Ayun dengan mata yang berkaca-kaca.
Seperti inilah orang yang berpindidikan, yaitu orang yang kata-katanya dapat memberikan inspirasi bagi seseorang, juga menjadi bahan pelajaran agar bisa menjadi labih baik lagi.
"Saya sudah menganggap kamu sebagai putri saya sendiri, sekali-sekali ajaklah anak-anakmu untuk mengunjungi saya dan juga Nindi. Dia pasti akan sangat menyukainya,"
Brak.
"Apa-apaan ini?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1