Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 150. Sifat yang Sesungguhnya.


__ADS_3

Setelah selesai mengatakan semuanya pada semua orang di ruang rapat, Fathir dan Keanu beranjak pergi dari tempat itu.


Fathir ingin memberi waktu terlebih dahulu pada mereka semua untuk memikirkan apa yang dia ucapkan, karena dia tidak ingin seolah-olah berlaku semena-mena di perusahaan walau sebenarnya dia berhak untuk melakukan apapun.


"Kerja bagus, Fathir," ucap Keanu saat mereka sudah sampai di parkiran mobil.


Fathir mengangguk. "Terima kasih karena sudah bersedia untuk membantu saya, Tuan." Dia bisa menyelesaikan masalah hari ini dengan baik karena bersama dengan laki-laki itu.


Keanu tersenyum. "Bukan tuan, tapi Ken. Kau tetap saja memanggilku seperti itu, nanti kakak ipar akan marah padaku karena terus membiarkanmu memanggil dengan sebutan tuan."


Fathir ikut tersenyum. Lidahnya belum biasa memanggil Keanu dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel tuan, apalagi sudah lama dia memanggil laki-laki itu dengan sebutan tersebut.


"Baiklah, aku akan mencoba untuk membiasakannya, Ken. Adik ipar," ucap Fathir dengan menahan tawa.


Keanu langsung tergelak saat mendengar Fathir menyebutnya dengan panggilan adik ipar, rasanya sangat tidak nyaman dan tidak biasa sekali.


Akhirnya mereka berdua sama-sama tergelak sambil menggelengkan kepala mereka. Setelah melewati suasana tegang beberapa saat yang lalu di ruang rapat, kini pikiran dan otot-otot ditubuh mereka terasa lebih ringan.


Tiba-tiba, dering ponsel Fathir menghentikan gelak tawa di antara mereka. Dengan cepat dia mengambil benda pipih itu dari dalam saku, lalu menatap layar ponsel itu dengan senyum sinis.


"Halo," ucap Fathir saat sudah menjawab panggilan masuk dari seseorang.


"Maaf mengganggu Anda, Tuan. Saya ingin memberitahu bahwa Rian datang untuk mengunjungi tuan Fathan," lapor seseorang disebrang telepon.


"Baiklah. Terus awasi dia, aku tidak ingin ada satu percakapan pun di antara mereka yang terlewat," perintah Fathir kemudian.


Panggilan itu lalu terputus saat seseorang yang ada disebrang telepon mengiyakan perintah Fathir, sementara Keanu yang sejak tadi memperhatikan tampak menatap dengan penasaran.


"Dia benar-benar datang menemui Fathan, Tu- eh Ken," ucap Fathir dengan tergagap, dia benar-benar merasa tidak nyaman memanggil seperti itu.


Keanu kembali tertawa sambil menganggukkan kepalanya. "Bagus, aku sudah menduga akan hal itu. Tidak mungkin dia tidak tahu bahwa Fathan sudah menceritakan semua yang terjadi pada kita, apalagi saat mendengar kemarahan om Farhan tadi. Jelas saja itu menunjukkan bahwa Fathan sudah menceritakan semua yang terjadi di masa lalu."


Ya, Fathir menyetujui ucapan Keanu, dan untungnya dia sudah mengantisipasi tentang semua itu dengan cara menempatkan seorang mata-mata di mana Fathan berada.


Mata-mata itulah yang tadi memberi kabar padanya bahwa Rian datang dan ingin bertemu dengan Fathan, untuk itu dia harus tahu apa yang laki-laki bajing*an itu katakan pada kakaknya.

__ADS_1


"Ayo, kita harus segera menemui papa!" ajak Keanu. Mereka harus segera bergabung dengan Abbas untuk membicarakan masalah bar milik Rian, apalagi saat ini sudah ada beberapa teman Abbas yang berada di sana untuk melakukan penyergapan.


Fathir mengangguk. Namun, sebelum itu mereka harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu untuk memeriksa persiapan pernikahannya. Jangan sampai gara-gara masalah ini, dia dan Ayun tidak jadi menikah.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Rian sudah berada di dalam ruangan yang sengaja disiapkan untuk bertemu dengan para tahanan, tanpa tahu jika apa yang dia lakukan ini sudah terekam dengan jelas oleh mata-mata Fathir.


"Rian?"


Rian terperanjat dari lamunannya saat mendengar suara seseorang, spontan pandangannya langsung menoleh ke arah pintu dengan senyum sinis.


"Selamat siang, Tuan," ucap Rian seperti biasa, tanpa ada sedikit pun yang berubah walau dadanya terasa panas seperti bara api yang siap untuk meledak.


Fathan menganggukkan kepalanya. Dia lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Rian sambil menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Bagaimana kabar Anda, Tuan? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Rian dengan penuh perhatian.


Fathan tersenyum sinis mendengar pertanyaan Rian. "Tentu saja aku baik, Rian. Sama seperti keadaanmu yang tampak sangat baik-baik saja. Apa posisimu kini sudah diangkat menggantikan papaku?"


Deg.


"Jadi, Anda sudah mengatahuinya ya, Tuan?" ucap Rian dengan penuh penekanan.


Fathan kembali tersenyum miring dengan tatapan penuh dengan ejekan. "Tentu saja, tapi sepertinya tidak berjalan lancar yah sampai-sampai membuatmu datang kemari."


Kedua tangan Rian yang ada di bawah meja terkepal erat sampai membuat kuku-kukunya memutih. Dasar berngs*ek. Sepertinya bukan hanya Farhan saja yang tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu, tetapi Fathan juga yang bahkan tahu tentang apa yang terjadi dengannya saat ini. Mungkinkah selama ini hubungan laki-laki itu dan keluarganya sudah membaik? Tetapi kenapa, apa yang terjadi?


"Ada apa, Rian? Kenapa wajahmu memerah seperti sedang menahan emosi seperti itu, apa kau terkejut dengan apa yang aku katakan? Atau kau terkejut kenapa aku bisa tahu tentang semua itu?" tanya Fathan dengan sarkas.


Wajah Rian semakin merah padam mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Fathan. Si*alan, sepertinya banyak yang terlewat darinya tentang apa yang terjadi pada Fathan dan keluarganya, dia bahkan kecolongan dari Fathir dan juga Keanu.


"Jangan terlalu serius, Rian. Bukankah sekarang sudah saatnya kau bertanggung jawab dengan semua yang sudah kau lakukan?" ucap Fathan kembali.


Mungkin jika saat ini yang ada di hadapan Rian adalah Fathir, laki-laki itu pasti sudah memaki dan mengumpati Rian dengan sarkas.


Rian tertawa sinis, dan untuk pertama kalinya dia melakukan hal itu di hadapan Fathan. "Jadi begitu yah, Tuan Fathan. Apa sekarang hubungan Anda dan adik Anda sudah membaik?" Balasnya dengan tajam.

__ADS_1


Fathan terdiam sambil menatap Rian dengan intens. Ternyata sikap seperti inilah yang selama ini laki-laki itu sembunyikan dibalik topeng kebaikan, dan berhasil membuatnya terperdaya.


"Ah, apa mungkin Anda hanya berhubungan dengan tuan Farhan saja lalu mengoceh tentang ini dan itu padanya?" sambung Rian dengan penuh selidik. "Lalu Anda menjelekkan nama saya seolah selama ini saya yang telah melakukan kejahatan, tapi nyatanya Anda sendirilah yang telah menghancurkan mereka. Benarkan, tuan Fathan?"


Fathan menghela napas kasar. Benar kata Fathir, selama ini matanya buta hingga tidak bisa melihat keburukan bajing*an yang ada di hadapannya saat ini.


"Bukan aku, Rian. Tapi kau, kau yang selama ini telah menghasutku agar membenci Fathir. Bahkan kau jugalah yang telah memberikan ide-ide busuk itu padaku supaya Fathir hancur, dan kau juga yang melakukan segalanya. Aku benar-benar bod*oh, Rian. Aku benar-benar bod*oh karena sudah percaya pada orang sepertimu!" ucap Fathan dengan penuh kegetiran dan rasa sakit.


Rian tersenyum sinis mendengar ucapan Fathan. "Apa yang Anda katakan, bukankah selama ini Anda membenci adik Anda sendiri? Saya hanya memberikan saran, dan Anda sendiri yang mau melakukannya. Tapi kenapa-"


"Cukup, Rian!" bentak Fathan sambil mencengkram kerah kemeja Rian dengan kuat hingga tubuh laki-laki itu terangkat sedikit dari kursi. "Berhenti bicara omong kosong! Gara-gara kau aku membenci adikku sendiri, aku bahkan menghancurkan hidupnya dan hidup keluargaku. Semua gara-gara kau, bangs*at!"


Brak.


Fathan menghempaskan tubuh Rian dengan kuat hingga membuat kursi yang laki-laki itu duduki terjungkal ke belakang, tetapi sayangnya Rian bisa menahan tubuhnya sendiri sehingga tidak ikut terjatuh.


"Baiklah, baiklah," seru Rian sambil tertawa menatap kemarahan diwajah Fathan. "Aku akui bahwa semua itu adalah rencanaku. Tapi bukan sepenuhnya aku yang salah, melainkan kau sendiri karena sudah percaya padaku. Jadi itu adalah kebod*ohanmu, bukan aku!"


Kedua mata Fathan berkilat merah mendengar ucapan Rian. "Kau pasti akan hancur, Rian. Kau akan hancur karena perbuatanmu sendiri!" Suara teriakannya menggema di tempat itu hingga membuat polisi bergegas mendatangi mereka.


Rian kembali tertawa tanpa rasa bersalah dan takut sama sekali, dia lalu mendekati Fathan yang saat ini menatapnya dengan nyalang.


"Kita lihat saja siapa yang hancur, Fathan. Aku, atau kalian. Kau masih ingat dengan kematian Clarissa bukan?"


Mata Fathan semakin menajam saat mendengar nama Clarissa disebut oleh bajing*an itu. "Jangan menyebut namanya dari mulut kotormu, bajing*an!"


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja menyebut nama wanita yang kau cintai itu. Tapi, apa kau lupa siapa yang sebenarnya sudah membunuh dia?" Rian tersenyum sinis. "Jika aku menyerahkan rekaman cctv kejadian malam itu pada polisi, kira-kira bagaimana tanggapan mereka?"





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2