Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 89. Sel Tahanan.


__ADS_3

Abbas memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Saat ini dia sudah berada di dalam mobil, dan hendak kembali ke restoran. Namun, dia kembali teringat dengan ucapan Arya tadi.


Haruskah Abbas bertanya langsung pada Hasna? Tidak, sepertinya dia tidak bisa melakukan itu. Hasna pasti akan menyangkalnya, karena sejak awal wanita itu hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Bahkan pergi dari rumahnya juga tidak meninggalkan pesan.


"Aku akan menunggu sampai hasil itu keluar. Lalu, bagaimana jika Ayun benar-benar putriku?"


Abbas mengusap wajahnya dengan kasar. Entah apa yang sedang terjadi saat ini, dia benar-benar tidak mengerti.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Sherly tertunduk diam di dalam ruangan bersama dengan dua orang penyidik. Beberapa pertanyaan sudah dilayangkan, tetapi dia tetap bersikukuh tidak melakukan apapun dalam kasus ini.


"Kami mempunyai bukti yang cukup kuat, juga ada keterangan dari saksi yang ada di tempat kejadian." Salah satu dari mereka mengeluarkan beberapa foto yang diberi oleh Ezra, membuat kedua mata Sherly langsung terbelalak lebar.


"Si-siapa, siapa yang sudah memfoto semua itu?" Tangan Sherly gemetaran saat melihat apa yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin foto-foto itu sampai ke tangan polisi, dan siapa yang melakukannya?


"Kenapa Anda diam? Apa Anda tidak bisa lagi menyangkalnya?" tanya wanita itu. Dia lalu menyodorkan satu foto tepat ke hadapan Sherly. "Wanita ini bahkan sudah mengakuinya jika Anda menjual berkas milik tuan Evan padanya."


"A-apa?" Sherly memekik kaget saat mendengar ucapan wanita itu. Mungkinkah Nia sudah bertemu dengan mereka? Atau malah wanita itu yang memberikan foto-foto ini pada polisi?


"Mengaku sajalah, Nona. Maka hukuman Anda akan semakin ringan, lagi pula sidik jari Anda juga ditemukan di tempat penyimpanan itu. Jika Anda terus menyangkal sampai akhir, maka Anda akan dihukum berat."


Tubuh Sherly kembali bergetar saat mendengarnya. Tidak, dia tidak mau masuk penjara tidak peduli sebentar atau pun lama. Lalu, apa yang harus dia lakukan?


"Aku, aku, aku memang mengambil berkas itu." Akhirnya Sherly memilih untuk berkata dengan jujur karena benar-benar sudah tersudut, walau pun dia masih bertanya-tanya siapa yang sudah mengambil foto itu.

__ADS_1


"Tapi aku melakukannya karena terpaksa, wanita itulah yang mengancamku agar melakukannya!" ucap Sherly dengan tajam sambil menunjuk ke arah foto Nia.


Pihak penyidik mengernyitkan kening mereka saat mendengarnya, mereka lalu menyuruh Sherly untuk menceritakan semuanya dengan jujur pada mereka.


Sherly lalu menceritakan tentang ancaman yang dia dapat dari Nia, juga semua hal yang telah dia lakukan pada saat mencuri berkas itu.


Setelah menghabiskan waktu sampai 2 jam lamanya, akhirnya Sherly keluar dari ruangan dan dibawa menuju sel tahanan sementara yang ada di tempat itu.


"Sherly!"


Sella yang sudah menunggu sejak tadi langsung menghampiri sang putri. "Ba-bagaimana, kau, kau akan keluar 'kan?" Dia bertanya dengan panik.


Sherly menggelengkan kepalanya dengan terisak. "Tidak, Ma. Tolong aku, aku tidak mau dipenjara!" Dia memegang kedua tangan mamanya dengan erat dan gemetaran.


Sella terlonjak kaget saat mendengarnya. Bagaimana mungkin anaknya bisa ditangkap? Bukankah tidak ada saksi atau pun bukti saat mereka mengambil berkas itu, atau ada cctv di dalam ruangan Evan?


"Tidak, anakku tidak bersalah. Kenapa kalian memenjarakannya?" teriak Sella dengan tidak terima. Dia tidak mungkin membiarkan Sherly mendekam di dalam perjara begitu saja


"Maaf, Nyonya. Tolong minggir!" ucap Polisi wanita itu lagi tanpa mendengar apa yang Sella ucapkan.


"Tidak, jangan bawa anakku!" Sella mencoba untuk menahan Sherly, tetapi dia tidak berhasil melawan polisi yang ada di sana.


Sherly sendiri hanya bisa terisak pilu. Tidak tahu apa lagi yang harus dia katakan agar dibebaskan, dan kenapa Evan tidak ada di tempat ini? Apa laki-laki itu sama sekali tidak peduli padanya?

__ADS_1


"Aku mohon lepaskan aku, aku tidak bersalah. Aku diancam oleh wanita itu, tolong lepaskan aku!" teriak Sherly saat sudah berada di balik jeruji besi.


"Kenapa, kenapa semuanya jadi seperti ini?" Sherly mencengkram erat besi yang sedang mengurungnya, lalu menggoyang-goyangkannya dengan kuat hingga menimbulkan keributan.


"Aku mohon lepaskan aku, aku tidak mau di sini,"


"Diam!" bentak salah satu polisi yang berjaga membuat Sherly langsung terkesiap. "Jika Anda tidak bisa tenang, maka kami akan menambah hukuman untuk Anda nanti."


Sherly menggelengkan kepalanya dengan terisak. Tubuhnya terjatuh ke lantai karena kedua kakinya terasa sangat lemas saat ini.


"Tidak, aku tidak mau dipenjara. Seharusnya wanita itu yang berada di tempat ini, bukan aku!" Sherly memukul-mukul besi itu dengan keras. "Tapi kenapa, kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa Evan harus melaporkannya pada polisi dan membuatku masuk penjara seperti ini. Kenapa?" Dia meringkuk di atas lantai dengan menyedihkan.


Lalu, di mana Evan saat ini? Apa laki-laki itu sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya? Biar bagaimana pun dia adalah istri Evan, apa Evan sama sekali tidak peduli dan tidak mau mendengar penjelasannya?


"Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Aku harus segera bicara pada Evan dan meminta dia untuk melepasku." Lirih Sherly. Dia menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki dan terisak pilu.


Sementara itu, Sella segera kembali ke rumah untuk menjemput Suci dan membawanya ke rumah Evan. Laki-laki itu tidak bisa memenjarakan putrinya begitu saja, dan harus segera mengeluarkan Sherly.


"Aku harus menggunakan Suci agar Evan mencabut laporannya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2