
Bram yang sejak tadi diam memilih angkat bicara, tentu saja dia punya hak untuk ikut campur karena mereka adalah keluarganya. Dia bahkan datang ke rumah Danu untuk membahas masalah itu, dan menjelaskan maksud dan tujuan David melakukannya.
Evan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Bram. "Benar, Pak Bram. Saya tahu jika permintaan maaf ini sudah sangat terlambat, tapi Anda juga tahu bagaimana kacaunya hidup saya beberapa waktu yang lalu. Hingga saya melupakan tentang semua ini." Dia berucap dengan getir.
Bram terdiam dan tidak lagi mengeluarkan suaranya, karena dia sendiri juga tahu apa yang terjadi pada Evan. Apalagi dia yang sudah bekerja keras untuk memberikan tekanan dan masalah pada laki-laki itu.
"Saya sudah mendengar apa yang terjadi pada Anda, dan saya turut bersimpati. Hanya saja, apa yang Anda lakukan memang benar-benar menghancurkan harga diri putra saya di depan banyak orang," balas Danu. Dia memang marah pada David karena telah membuat keributan, tetapi dia juga tidak bisa menutup mata tentang kebenaran yang terjadi.
"Saya mengerti, Tuan. Untuk itulah saya datang meminta maaf, dan saya juga akan membersihkan nama baik David di-"
"Itu tidak perlu!" potong seseorang, membuat Evan tidak dapat menyelesaikan ucapannya.
Semua orang langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara David, termasuk Evan yang menatap laki-laki itu dengan nanar.
David yang tadinya sedang berada di perusahaan Robin langsung izin pulang saat mendapat pesan dari Bram. Untungnya jarak perusahaan itu dan rumah orang tuanya hanya 20 menit saja, dan berhasil dipangkas menjadi 10 menit karena dia melaju dengan sangat kencang.
David lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan tatapan sinis yang tersorot ke arah Evan. "Wah, saya tidak menyangka jika Anda mengunjungi saya, Tuan." Dia berucap dengan nada suara seperti biasanya, seolah tidak ada yang terjadi. Dia lalu bergabung dengan mereka dan duduk di samping Bram.
"Benar, David. Seharusnya sudah sejak lama saya datang ke rumahmu, dan meminta maaf untuk semua kesalahan yang telah saya lakukan," ucap Evan. Dia tahu benar jika tersimpan kemarahan besar dari sorot mata David.
David tersenyum saat mendengarnya. "Tanpa Anda datang pun, saya sudah memaafkan semuanya karena saya adalah orang baik. Tapi maaf, proses hukum akan tetap berjalan." Dia membalas dengan ringan, tetapi berhasil membuat Evan menatap tajam.
Seketika suasana berubah menjadi tegang, membuat Maryam dan Danu saling bertatapan dengan khawatir.
"Saya sadar bahwa kejadian itu telah membuatmu marah dan merusak nama baikmu, David. Tapi saya datang ke sini dengan tulus, dan berharap agar kau mau menyelesaikan semuanya dengan cara kekeluargaan."
__ADS_1
David langsung tergelak saat mendengar ucapan Evan, membuat semua orang menatap dengan cemas. "Dengan cara kekeluargaan, ya? Andai saja waktu itu Anda juga berpikir seperti ini, mungkin saya juga tidak akan disusahkan dengan masalah Anda."
Evan terdiam dengan wajah merah padam. Amarahnya mulai terpancing, apalagi saat melihat tawa David yang seperti sedang meremehkannya.
"Sudahlah, lebih baik sekarang Anda pulang. Karena saya tidak mau membahas masalah kekeluargaan yang sedang Anda bahas ini, sampai bertemu di pengadilan," ucap David dengan sarkas sambil beranjak bangun dari sofa.
"David!" Danu menatap putranya dengan tajam, membuat David tersenyum sinis.
"Kenapa, apa ayah ingin menyalahkanku lagi?" tanya David dengan tajam, membuat Bram bergegas menenangkannya.
"Bukan seperti itu, David. Jika kau tidak mau berdamai yah sudah, tapi jangan lagi menambah masalah," tukas Danu.
"Sudahlah, aku harus kembali bekerja." David lalu berjalan cepat untuk pergi dari tempat itu, membuat Evan langsung menghalanginya.
"Tolong dengarkan saya dulu, David. Saya benar-benar minta maaf, dan saya ingin kembali-"
Evan benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. "Kau benar-benar tidak akan memafkaanku dan akan melanjutkan kasus ini?"
"Tentu saja," jawab David dengan senyum cerah.
Wajah Evan langsung merah padam saat mendengarnya. "Kau benar-benar tidak tahu terima kasih, David. Apa kau lupa bahwa aku yang selama ini sudah mempekerjakanmu, hah?" Nada suaranya mulai naik satu oktaf.
David semakin tersenyum lebar. "Seharusnya Anda katakan itu pada diri Anda sendiri, Tuan. Selama ini sayalah yang telah mengembangkan usaha Anda dan mengerjakan semuanya, jika bukan karena saya, mungkin Anda masih merangkak sekarang. Jadi, siapa yang sebenarnya tidak tahu terima kasih?"
Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat karena tidak bisa membantah ucapan David, sementara yang lain hanya diam melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Sadar dirilah, Tuan. Selama ini bukan Anda yang hebat, tapi orang-orang yang berada di sisi Anda. Tapi sekarang, Anda telah membuang semuanya. Selamat," sambung David, dia lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar dari tempat itu.
Kedua mata Evan memerah sempurna dengan luapan emosi yang membara. Tanpa mengucapkan apa-apa, dia beranjak pergi dari tempat itu dengan kemarahan luar biasa.
"Brengs*ek!" umpat Evan sambil membanting pintu mobilnya. "Beraninya dia menghinaku seperti itu! Apa dia pikir dia itu hebat karena aku datang padanya untuk minta maaf?" Dia benar-benar merasa murka.
Baiklah, Evan akan menerima laporan yang David layangkan untuknya. Dia tidak bisa lagi merendahkan harga dirinya di hadapan laki-laki itu, apa lagi harus mengemis maaf dari David.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang bersama dengan Nindi. Selama beberapa hari ini, kesehatan Nindi membaik dengan cepat. Wanita itu sudah bisa bicara walau belum bisa bergerak bebas, dia bahkan sudah dipindahkan ke ruangan yang sama dengan Ayun.
Ayun sendiri sudah tidak lagi menggunakan kursi roda untuk bergerak, walau belum diperbolehkan untuk berjalan dalam durasi waktu yang lama.
"Kenapa kau terus tersenyum, Nindi? Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" tanya Ayun dengan heran.
"Tentu saja, Mbak. Memangnya apa lagi yang bisa membuatku lebih bahagia dari kebersamaan kita ini?" jawab Nindi sambil menggenggam kedua tangan sang kakak. Sejak dia sadar, Ayun selalu menemaninya dan berada di sisinya, bahkan sampai membuat sang suami merasa terasingkan.
Ayun ikut tersenyum bahagia, saat ini mereka sedang berdua dalam ruangan karena Keanu dan Abbas sedang makan siang.
"Mbak mengerti apa yang kau rasakan, Dek. Karena mbak juga merasa sangat bahagia. Terima kasih karena sudah menerima mbak dan keluarga mbak, sungguh kau wanita yang sangat baik, Nindi," ucap Ayun dengan lirih. Senyum tulus yang dia berikan membuat hati Nindi terasa hangat.
"Jangan berterima kasih, Mbak. Sudah seharusnya kita bersama, karena kita adalah satu keluarga. Aku sudah menganggap Mbak dan semua keluarga Mbak sebagai keluargaku sendiri, dan aku menyayangi kalian. Ayo kita hidup bahagia bersama, Mbak!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.