Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 30. Sebuah Tawaran.


__ADS_3

Nindi yang mendengar suara ponsel segera mengambil benda pipih itu. Dia bertanya siapa pemilik ponsel itu pada yang lainnya, karena sedang ada seseorang yang menelepon.


"Itu ponselnya Mbak Ayun, Mbak. Coba Mbak angkat aja," ucap Yuni.


Nindi menganggukkan kepalanya. Dia lebih dulu melihat siapakah yang sedang menelepon, lalu tertera nama ayahnya anak-anak dilayar ponsel tersebut.


"Apa ini Evan?" gumam Nindi.


Dengan cepat dia mengangkat panggilan itu lalu mengatakan jika dia bukan Ayun, lalu mengatakan jika Ayun sedang istirahat.


Abbas yang melihat Nindi memegang ponsel Ayun, segera meminta benda pipih itu karena tahu jika yang sedang bicara adalah Evan.


"Aku apa, Evan?" Abbas langsung menyela ucapan Evan, membuat laki-laki itu terdiam bingung disebrang telepon.


"Ini, ini siapa?" tanya Evan yang sedang kebingungan, tetapi dari suara yang dia dengar sepertinya dia kenal dengan orang yang sedang bicara dengannya.


"Aku adalah orang tuanya, untuk apa lagi kau menelepon putriku?" tanya Abbas dengan sarkas, membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung menatap ke arahnya.


Evan yang ada disebrang telepon kembali diam. Dugannya benar, dia sedang bicara dengan Abbas. Apalagi laki-laki paruh baya itu mengatakan dengan jelas bahwa dia adalah orang tua Ayun.


"Pa- maksud saya tuan Abbas. Maaf kalau sudah mengganggu," ucap Evan. Dia tidak menyangka jika saat ini Ayun sedang bersama dengan Abbas, apa memang benar mereka adalah ayah dan anak? Dia bahkan belum sempat menanyakan semua itu pada Ayun.


"Aku ingatkan padamu, Evan. Ini adalah peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jika kau masih mengganggu Ayun, maka aku tidak akan tinggal diam," tukas Abbas dengan penuh penekanan. "Apa lagi jika kau ingin meminjam uang padanya, seharusnya kau malu sebagai seorang lelaki."

__ADS_1


Evan mengatupkan bibirnya dengan rahang mengeras saat mendengar ucapan Abbas. Kalau pun benar laki-laki paruh baya itu adalah ayah Ayun, bukankah sudah sangat keterlaluan berkata seperti itu padanya?


"Tapi kalau kau benar-benar butuh uang, maka Keanu punya penawaran untukmu."


Evan yang akan langsung mematikan panggilan itu mengurungkan niatnya saat kembali mendengar suara Abbas. "Apa, apa maksud Anda?"


"Aku tahu kalau kau sangat butuh uang, apa lagi saat ini penjara sedang menantimu. Jadi, silahkan hubungi Keanu. Itu pun kalau kau mau." Suara Abbas kembali terdengar, tentu saja membuat Evan merasa tertampar.


Sebelum mendengar jawaban Evan, Abbas langsung mematikan panggilan itu karena Ezra dan Adel sudah menuruni tangga. Dia tidak mau kedua cucunya tahu tentang apa yang terjadi, apalagi Evan sedang sakit. Bisa saja laki-laki itu memanfaatkan Adel dan juga Ezra dengan menarik simpati mereka.


Keanu yang sejak tadi mendengar ucapan sang mertua tampak tersenyum tipis. Sebelumnya dia memang sudah menceritakan tentang rencananya pada Abbas, dan kebetulan saja waktunya sangat pas sekali.


Hasna, Yuni, dan Nindi juga jelas mendengar ucapan Abbas. Berbagai pertanyaan berlarian dalam kepala mereka, tetapi mereka memilih untuk tidak lagi memperdulikan. Biarlah para lelaki yang menyelesaikan masalah, apalagi berkaitan dengan Evan yang mungkin saja ingin kembali mengganggu Ayun.


Abbas dan Keanu sendiri memilih untuk duduk di samping rumah, sekaligus membicarakan masalah pekerjaan. Tampak Ezra juga bergabung dengan mereka, mencoba untuk belajar masalah bisnis dari para pakarnya.


"Oh ya, Ezra. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Abbas. "Kakek merasa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan."


Ezra menghela napas berat, entah kenapa kakeknya itu selalu saja tahu jika dia sedang merasa kesal atau tidak nyaman. "Yah, ada sesuatu yang membuatku kesal, Kek." Dia lalu menceritakan tentang apa yang terjadi padanya, juga kemarahan yang sedang dirasakan.


Abbas dan Keanu juga tampak kesal saat mendengar cerita Ezra. Sejak awal, kedua orang tua Evan memang sangat tidak tegas. Mereka hanya bisa marah saja, tetapi tidak melakukan apa-apa setelahnya. Mereka bahkan hanya diam dan tidak melakukan apapun saat Ayun terusir dari rumah beserta kedua anaknya.


"Aku benar-benar tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka. Sudah cukup apa yang terjadi selama ini. Aku kira mereka benar-benar mendukung kami, tapi nyatanya hanya manis dibibir saja." Suara Ezra getir terdengar.

__ADS_1


Keanu menepuk bahu Ezra dengan pelan, membuat laki-laki itu melihat ke arahnya. "Kami ada di sini, jadi jangan pikirkan sesuatu yang tidak penting. Mulai sekarang, kau harus belajar bersikap tidak peduli. Apa lagi pada orang-orang yang hanya bisa menghambatmu saja, jangan pedulikan mereka. Fokuslah pada apa yang ada di hadapanmu sekarang."


Ezra mengangguk paham, dia ridak akan lagi melihat ke balakang dan fokus saja pada tujuan dan masa depannya.


Ya, begini lebih bagus. Jika Ezra sudah benar-benar murka dan tidak peduli pada Evan, maka Keanu dan Abbas bisa lebih leluasa untuk melakukan apapun pada laki-laki itu. Tidak perlu memikirkan jika nantinya Ezra merasa kasihan, karena mereka yakin Evan pasti akan kembali pada Ayun dan Ezra jika dalam keadaan hancur.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang berpikir keras tentang ucapan Abbas. Jelas mereka sudah tahu bagaimana keadaannya saat ini. Lalu, mungkinkah Ayun dan kedua anaknya juga sudah tahu?


"Tapi, kenapa mereka tidak meneleponku dan bertanya bagaimana kabarku? Apa mereka benar-benar sudah tidak mengingatku lagi?" gumam Evan dengan gusar. Yah, dia sadar jika sudah membuat kesalahan. Namun, dia tidak menyangka jika mereka sama sekali tidak peduli.


"Sudahlah, bukan itu yang paling penting sekarang." Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Haruskah dia menerima tawaran yang Abbas berikan tadi? Sepertinya dia harus mendengarnya langsung dari Keanu.


Evan lalu memutuskan untuk mengirim pesan pada Keanu, berharap penawaran laki-laki itu bisa menyelesaikan masalah yang sedang dia hadapi saat ini.


Di sisi lain, tampak senyum mengembang terbit dibibir Keanu saat membaca pesan dari Evan. Dia lalu membalas pesan itu dan mengatakan jika besok akan datang ke rumah sakit bersama dengan asistennya.


"Bagus sekali, kau memang cepat menyambar umpan saat sedang terdesak yah, Evan. Aku akan membuatmu merasakan bagaimana perasaan Ayun selama ini, yang harus memilih antara kebebasan atau kebahagiaan anak-anaknya saat kau memilih wanita lain. Lalu besok, kau juga harus memilih antara kebebasanmu atau pekerjaanmu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2